Akurat

Anak Autis Sulit Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Eko Krisyanto | 22 Januari 2026, 23:39 WIB
Anak Autis Sulit Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

AKURAT.CO Tidak sedikit orang tua menghadapi tantangan ketika anak dengan spektrum autisme sulit tidur, sering terbangun di malam hari, atau membutuhkan waktu lama untuk terlelap.

Kondisi ini tidak hanya membuat anak mudah lelah dan rewel di siang hari, tetapi juga memengaruhi kualitas istirahat orang tua.

Lantas, apa yang menyebabkan anak autis mengalami gangguan tidur, dan bagaimana cara membantu mereka mendapatkan tidur yang lebih nyenyak? Berikut penjelasan lengkapnya.

Mengapa Anak Autis Sering Sulit Tidur?

Gangguan tidur pada anak autis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Berikut beberapa penyebab yang paling umum:

1. Gangguan Produksi Hormon Melatonin

Salah satu penyebab utama anak autis sulit tidur adalah gangguan produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur dan bangun.

Pada anak umumnya, kadar melatonin meningkat di malam hari sehingga tubuh merasa mengantuk, lalu menurun di siang hari saat tubuh beraktivitas.

Namun, pada anak dengan spektrum autisme, pola ini sering kali tidak seimbang. Kadar melatonin justru bisa lebih tinggi di siang hari dan menurun pada malam hari, sehingga ritme tidur menjadi tidak teratur.

2. Efek Samping Penggunaan Obat

Beberapa anak autis menjalani terapi medis yang melibatkan penggunaan obat-obatan tertentu. Obat seperti antidepresan, antikejang, kortikosteroid, atau obat untuk mengatasi gejala ADHD dapat menyebabkan insomnia atau gangguan tidur.

Baca Juga: Cara Melatih Fokus Anak Autis agar Lebih Mudah Berkonsentrasi

Efek samping ini dapat memengaruhi jam biologis tubuh, sehingga anak lebih sulit merasa mengantuk pada malam hari.

3. Sensitivitas terhadap Rangsangan Lingkungan

Banyak anak dengan autisme memiliki sensitivitas sensorik yang tinggi terhadap cahaya, suara, bau, atau sentuhan.

Hal-hal kecil seperti suara kipas angin, cahaya lampu kamar, atau tekstur sprei dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan menghambat proses tidur.

Bahkan setelah tertidur, rangsangan ringan pun dapat dengan mudah membangunkan anak dan membuatnya sulit tidur kembali.

4. Stres dan Kecemasan

Anak dengan autisme cenderung lebih rentan mengalami stres dan kecemasan. Peningkatan hormon kortisol akibat stres membuat tubuh berada dalam kondisi siaga, sehingga sulit untuk rileks dan tertidur.

Perubahan rutinitas, lingkungan baru, atau aktivitas yang tidak terduga juga dapat memicu kecemasan yang berdampak pada kualitas tidur anak.

Cara Mengatasi Anak Autis yang Sulit Tidur

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak autis mendapatkan tidur yang lebih berkualitas:

1. Terapkan Rutinitas Tidur yang Konsisten

Anak dengan autisme umumnya merasa lebih aman dan nyaman dengan rutinitas yang teratur. Tetapkan waktu tidur dan bangun yang sama setiap hari, termasuk di akhir pekan.

Rutinitas yang konsisten membantu tubuh mengenali waktu istirahat.

Orang tua juga dapat membuat jadwal visual sederhana berisi aktivitas sebelum tidur, seperti mandi, mengenakan piyama, membaca buku, lalu tidur.

2. Ciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman dan Tenang

Suasana kamar tidur sangat berpengaruh pada kualitas tidur anak. Pastikan kamar memiliki suhu yang sejuk, pencahayaan redup, serta minim suara bising.

Gunakan tirai gelap (blackout), karpet peredam suara, atau white noise jika anak sensitif terhadap cahaya dan suara.

Selimut berbobot (weighted blanket) juga dapat membantu memberikan rasa aman bagi sebagian anak autis.

Baca Juga: Anak Autis Masuk Sekolah Umum, Ini Persiapan yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Hindari menempatkan televisi, mainan, atau gawai di kamar tidur agar anak tidak terdistraksi.

3. Bangun Kebiasaan Positif Sebelum Tidur

Rutinitas sebelum tidur sebaiknya bersifat menenangkan dan dilakukan secara konsisten.

Aktivitas seperti mandi air hangat, mendengarkan musik lembut, atau membaca cerita singkat dapat membantu tubuh anak rileks.

Hindari aktivitas yang terlalu merangsang, seperti menonton televisi atau bermain gawai, setidaknya satu jam sebelum tidur. Batasi pula konsumsi makanan manis, berat, atau minuman berkafein di malam hari.

4. Bantu Anak Mengelola Stres dan Kecemasan

Orang tua dapat membantu mengurangi kecemasan anak dengan menciptakan suasana yang aman dan menenangkan sebelum tidur.

Teknik sederhana seperti pernapasan dalam, pijatan lembut, atau ritual ucapan selamat malam dapat membantu anak merasa lebih rileks.

Jika anak mengalami stres akibat perubahan rutinitas, bantu mereka memahami situasi melalui gambar atau cerita sederhana agar merasa lebih siap dan tenang.

5. Perhatikan Pola Makan dan Aktivitas Harian

Aktivitas fisik yang cukup di siang hari dapat membantu anak tidur lebih nyenyak di malam hari. Namun, hindari olahraga berat menjelang waktu tidur karena dapat membuat anak tetap aktif.

Perhatikan juga durasi tidur siang. Tidur siang yang terlalu lama atau terlalu sore bisa mengganggu waktu tidur malam anak.

6. Konsultasikan dengan Tenaga Profesional

Jika gangguan tidur terus berlanjut meskipun berbagai cara telah dilakukan, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter anak, terapis okupasi, atau spesialis tidur.

Tenaga profesional dapat membantu mengidentifikasi penyebab spesifik gangguan tidur dan memberikan penanganan yang sesuai, termasuk penyesuaian terapi atau pengobatan bila diperlukan.

Kesimpulan

Gangguan tidur pada anak dengan spektrum autisme merupakan kondisi yang umum terjadi dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Baca Juga: Sinopsis Film Songbird Tayang di Bioskop Trans TV 22 Januari 2026, Kisah Cinta di Tengah Teror Virus Corona!

Dengan rutinitas yang konsisten, lingkungan tidur yang mendukung, serta pendampingan yang tepat, anak autis dapat memperoleh kualitas tidur yang lebih baik.

Jika diperlukan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional demi kesehatan dan kesejahteraan anak maupun orang tua.

Laporan: Lilis Anggraeni/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.