7 Cara Efektif Berkomunikasi dengan Anak Autis Nonverbal

AKURAT.CO Dalam dunia pengasuhan anak dengan spektrum autisme, komunikasi sering menjadi tantangan besar, terutama ketika anak belum mampu berbicara secara verbal. Anak autis nonverbal memiliki cara unik untuk
mengekspresikan diri: melalui gerakan tubuh, ekspresi wajah, atau suara tertentu yang mungkin sulit dipahami tanpa kesabaran dan empati.
Namun, di balik keterbatasan verbal itu, tersimpan potensi luar biasa untuk tumbuh dan berkomunikasi, asalkan orang tua dan pendidik memahami caranya.
Menurut Autism Speaks, anak autis nonverbal dapat belajar berkomunikasi melalui berbagai bentuk, mulai dari kontak mata, ekspresi wajah, hingga permainan sederhana.
Melalui interaksi sehari-hari di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan bermain, orang tua bisa membantu anak memahami makna bahasa dan emosi di sekitarnya.
Dengan pendekatan yang tepat, komunikasi bukan hanya menjadi alat berbicara — tapi jembatan menuju hubungan yang hangat dan saling memahami.
Berikut 7 tips komunikasi efektif untuk membantu anak autis nonverbal lebih mudah dipahami dan berkembang:
Baca Juga: Bezzecchi Tak Terbendung! Rebut Kemenangan Kedua Musim Ini di MotoGP Portugal
1. Bangun interaksi lewat permainan dan kegiatan sosial
Anak belajar banyak hal dari bermain, termasuk berkomunikasi. Duduklah sejajar dengan anak dan ikut dalam permainan yang ia sukai.
Saat anak merasa nyaman, mereka akan lebih mudah meniru ekspresi, gerakan, atau bahkan kata-kata sederhana dari orang tuanya.
2. Tirukan aktivitas atau perilaku anak
Meniru gerakan, suara, atau aktivitas anak menunjukkan bahwa Anda memperhatikan dan memahami mereka.
Cara ini menciptakan rasa saling terhubung, memotivasi anak untuk melakukan interaksi balik, serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi.
3. Fokus pada komunikasi nonverbal terlebih dahulu
Sebelum berharap anak berbicara, pahami dulu bahasa tubuhnya. Perhatikan gerakan tangan, arah pandangan, atau ekspresi wajah.
Memahami sinyal nonverbal adalah langkah pertama membuka pintu komunikasi yang lebih bermakna.
4. Gunakan bahasa sederhana dan beri waktu untuk merespons
Gunakan kalimat singkat dan jelas seperti “bola”, “makan”, atau “ayo main”. Hindari bicara terlalu cepat atau rumit.
Setelah berbicara, beri jeda agar anak punya waktu memproses pesan. Keheningan sejenak sering kali menjadi ruang bagi anak untuk berpikir dan bereaksi dengan caranya sendiri.
5. Ikuti minat anak
Komunikasi akan lebih efektif ketika Anda berbicara tentang hal yang disukai anak. Jika anak menyukai mobil mainan, gunakan momen itu untuk memperkenalkan kata atau ekspresi baru.
Mengikuti minat anak tak hanya memperkaya kosakata, tapi juga memperkuat kedekatan emosional.
6. Gunakan alat bantu visual atau perangkat komunikasi tambahan
Beberapa anak nonverbal terbantu dengan alat komunikasi alternatif seperti kartu gambar, papan visual, atau aplikasi digital.
Media visual ini dapat membantu anak menyampaikan keinginannya sekaligus menjadi jembatan untuk mengembangkan kemampuan berbicara di masa depan.
Baca Juga: Zulhas: Soeharto dan Gus Dur Layak Jadi Pahlawan, Tiap Pemimpin Punya Jejak Perjuangan Sendiri
7. Bersikap sabar dan konsisten
Setiap anak autis memiliki gaya belajar yang berbeda. Tak semua strategi langsung berhasil, tapi kesabaran dan konsistensi orang tua akan membuat kemajuan terasa sedikit demi sedikit.
Yang terpenting adalah terus hadir dan mendampingi dengan hati yang terbuka.
Komunikasi dengan anak autis nonverbal bukan sekadar soal berbicara, melainkan tentang membangun koneksi emosional yang tulus.
Saat orang tua mampu memahami isyarat, bahasa tubuh, dan perasaan anaknya, mereka tidak hanya berkomunikasi, tetapi juga menciptakan dunia di mana sang anak merasa didengar, diterima, dan dicintai apa adanya.
Laporan: Salsabilla Nur Wahdah/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








