Akurat

5 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Sekolah dengan Efektif

Ratu Tiara | 21 Oktober 2025, 20:01 WIB
5 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Sekolah dengan Efektif
 
AKURAT.CO Ketika seorang anak tiba-tiba menolak untuk berangkat ke sekolah, banyak orang tua merasa bingung dan khawatir. Perilaku ini sering kali dianggap sebagai bentuk kemalasan, tapi bisa jadi merupakan tanda adanya kecemasan atau tekanan yang belum terselesaikan.
 
Penolakan sekolah atau school refusal merupakan kondisi yang dapat berdampak serius pada perkembangan emosional dan akademik anak jika dibiarkan.
 
Penting bagi orang tua memahami bagaimana cara menghadapi situasi ini dengan bijak dan penuh empati.
 
Mengatasi anak yang tidak mau sekolah bukanlah perkara mudah, namun bisa dilakukan dengan langkah yang tepat dan konsisten.
 
Dilansir dari Child Mind Institute, Penolakan sekolah biasanya disebabkan oleh kecemasan yang mendalam terhadap situasi di sekolah, bukan karena kemalasan atau pembangkangan.
 
Anak-anak yang mengalami hal ini sering merasa takut, sakit perut, atau menangis setiap kali waktu berangkat sekolah tiba. Perasaan cemas tersebut bisa muncul akibat perubahan lingkungan, tekanan akademik, masalah sosial, atau pengalaman negatif di sekolah.
 
Kasus seperti ini umumnya terjadi pada pagi hari di rumah ketika anak menunjukkan tanda-tanda menolak berangkat hingga memohon untuk tetap tinggal di rumah.
 
Guru dan orang tua sama-sama menghadapi tantangan dalam mencari tahu penyebab sebenarnya di balik perilaku anak.
 
Di sinilah pentingnya peran komunikasi yang terbuka dan dukungan emosional dari lingkungan terdekat.
 

5 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Sekolah dengan Efektif

1. Dengarkan dan Identifikasi Kekhawatiran Anak

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mendengarkan anak dengan empati. Anak yang menolak sekolah mungkin sedang mengalami ketakutan terhadap sesuatu yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
 
Anak-anak dengan kecemasan sekolah memerlukan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa dihakimi.
 
Orang tua dapat menanyakan secara lembut tentang apa yang membuat mereka tidak nyaman di sekolah dan menenangkan bahwa perasaan itu wajar.

2. Bangun Rutinitas Harian yang Konsisten

Rutinitas harian yang stabil membantu anak merasa aman dan siap menjalani kegiatan sekolah.
 
Rutinitas pagi seperti tidur cukup, sarapan bersama, serta menyiapkan perlengkapan sekolah sejak malam sebelumnya dapat mengurangi kecemasan di pagi hari.
 
Konsistensi dalam rutinitas juga membantu anak memahami bahwa sekolah adalah bagian dari kegiatan harian yang normal dan tidak perlu ditakuti.

3. Jalin Kerjasama dengan Sekolah

Kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah merupakan kunci keberhasilan dalam mengatasi penolakan sekolah.
 
Komunikasi terbuka dengan guru dan konselor sekolah membantu mengidentifikasi masalah yang dihadapi anak, seperti kesulitan belajar, gangguan sosial, atau pengalaman buruk dengan teman sebaya.

4. Gunakan Teknik Relaksasi dan Pendekatan Bertahap

Membantu anak menghadapi kecemasan bisa dilakukan melalui latihan relaksasi, pernapasan dalam, serta metode “fear ladder” atau tangga ketakutan. Anak diajak untuk menulis kekhawatiran mereka, kemudian perlahan menghadapi satu per satu situasi yang membuatnya takut. Teknik ini membantu anak merasa memiliki kendali atas emosinya dan membangun keberanian untuk kembali ke sekolah.
 

5. Pertimbangkan Bantuan Profesional Bila Diperlukan

Jika penolakan sekolah terus berlanjut dan berdampak pada keseharian anak, penting untuk melibatkan tenaga profesional.
 
Terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) atau terapi eksposur (exposure therapy) bisa membantu anak mengelola kecemasan yang parah. Terapi ini terbukti efektif dalam membantu anak menghadapi rasa takutnya dan secara bertahap kembali ke rutinitas sekolah tanpa tekanan.
 
Menghadapi anak yang tidak mau sekolah memerlukan kesabaran, komunikasi yang baik, dan dukungan emosional yang konsisten.
 
Mendengarkan kekhawatiran anak, membangun rutinitas yang stabil, bekerja sama dengan sekolah, menerapkan teknik relaksasi, serta mencari bantuan profesional bila perlu, semua itu dapat membantu anak mengatasi rasa takutnya terhadap sekolah.
 
Salsabilla Nur Wahdah (Magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R