Akurat

Menurut Psikologi: Anak Sukses Dibentuk Bukan Dilahirkan, Orang Tua Catat Rahasianya!

Melly Kartika Adelia | 8 Februari 2025, 22:16 WIB
Menurut Psikologi: Anak Sukses Dibentuk Bukan Dilahirkan, Orang Tua Catat Rahasianya!

AKURAT.CO Kesuksesan bukanlah sesuatu yang diberikan sejak lahir, melainkan hasil dari pembentukan karakter dan sikap yang tepat. Begitu juga dengan anak sukses.

Begitulah keyakinan Michele Borba, seorang psikolog anak sekaligus pakar parenting asal California, Amerika Serikat.

Pemikiran ini bukan sekadar teori tetapi telah dibuktikan melalui serangkaian riset yang mendalam.

Sebagai psikolog anak berpengalaman, Borba telah mempelajari berbagai faktor kunci yang diperlukan untuk membangun fondasi atau dasar kesuksesan pada anak.

"Anak-anak membutuhkan masa kecil yang aman, penuh kasih sayang dan terstruktur. Namun, mereka juga memerlukan otonomi, kompetensi serta kebebasan untuk berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka," jelas Borba, dikutip Sabtu (8/2/2025).

Dari hasil risetnya, Borba merumuskan tujuh sikap utama yang dapat membantu anak-anak membangun ketangguhan mental dan mencapai kesuksesan.

Baca Juga: Bukan Anak Sukses, Tapi Buah Hati yang Bahagia

Berikut penjelasannya:

1. Percaya diri

Kepercayaan diri adalah fondasi utama yang harus dimiliki setiap anak untuk mengoptimalkan potensi mereka.

Orang tua berperan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri ini dengan memberikan afirmasi positif seperti, "Kamu istimewa" atau "Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan."

"Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghargai usaha dan kemampuan mereka sendiri cenderung lebih sukses, dibandingkan dengan mereka yang merasa tidak memiliki kendali atas hasil akademisnya," ujar Borba.

2. Berempati

Empati adalah kemampuan memahami perasaan dan perspektif orang lain.

Sikap ini membantu anak menempatkan dirinya di posisi orang lain, menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan penuh pengertian.

Borba menjelaskan bahwa empati memiliki tiga jenis:

• Empati afektif, yaitu berbagi perasaan dengan orang lain dan merasakan emosi mereka.
• Empati perilaku, yaitu kepedulian untuk saling membantu melalui tindakan nyata.
• Empati kognitif, yaitu kemampuan memahami pikiran dan sudut pandang orang lain.

Cara menumbuhkan empati pada anak meliputi berbagi perasaan, memberi label pada emosi mereka dan mengajukan pertanyaan yang menggali perasaan mereka lebih dalam.

Baca Juga: Mom, ini 5 Doa Terbaik untuk Anak, Agar Anak Sukses, Saleh dan Salehah

3. Mengendalikan diri

Kemampuan mengendalikan diri sangat penting agar anak dapat bangkit setelah mengalami kegagalan.

Ajarkan mereka untuk fokus pada satu hal di antara berbagai aktivitas yang mereka lakukan.

Borba merekomendasikan teknik "jeda stres" sebagai cara efektif untuk mengasah pengendalian diri.

"Ajarkan anak-anak Anda petunjuk jeda yang membantu mereka berhenti sejenak, berpikir, lalu bertindak," katanya.

4. Memiliki integritas kuat

Integritas mencakup keterampilan, sikap dan keyakinan untuk melakukan hal yang benar.

Anak-anak yang memiliki integritas akan lebih mudah membuat keputusan yang sesuai dengan nilai moral mereka.

"Berikan anak-anak ruang untuk membangun identitas moral mereka sendiri, yang mungkin berbeda dari identitas moral kita sebagai orang tua," kata Borba.

5. Rasa ingin tahu yang tinggi

Rasa ingin tahu mendorong anak untuk menjelajahi hal-hal baru, bahkan yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Sayangnya, rasa ingin tahu sering kali terhambat oleh penggunaan gadget yang berlebihan.

Borba menyarankan orang tua untuk memberikan anak kesempatan bermain dengan alat dan material sederhana seperti cat, stik es krim atau pembersih pipa.

"Berikan tantangan pada anak-anak Anda untuk menciptakan sesuatu yang unik dari barang-barang tersebut," katanya.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Beri Sanksi ke Platform Medsos yang Beri Akses ke Anak di Bawah Umur

6. Tekun dan pantang menyerah

Ketekunan adalah kunci penting dalam meraih impian. Anak yang gigih tidak mudah menyerah meskipun menghadapi rintangan.

Borba mencontohkan cara mengajarkan ketekunan dengan membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil.

"Misalnya, tutupi soal matematika dengan selembar kertas, hanya memperlihatkan satu baris sekaligus hingga selesai," sarannya.

7. Selalu optimistis

Anak yang optimistis memandang tantangan sebagai sesuatu yang dapat diatasi, sementara anak yang pesimistis melihatnya sebagai hambatan permanen.

"Mengajarkan optimisme dimulai dari diri kita sendiri. Anak-anak menyerap kata-kata kita sebagai suara hati mereka. Jadi, pastikan Anda memberikan pesan positif yang memotivasi," ungkap Borba.

Baca Juga: Megawati Ajak Dunia Perkuat Komitmen terhadap Hak Anak di Vatikan

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.