Pelajaran Parenting Bukan saat Anak Lahir, tapi saat Perempuan Itu Masih Lajang

AKURAT.CO Sebelum membahas mengenai anak dan peran seorang ibu, pendidikan yang paling penting dan utama justru adalah pendidikan untuk kaum wanita. Kaum wanita wajib berpendidikan tinggi dan harus terus mau meningkatkan kualitas pribadinya, sehingga diharapkan mampu menemukan pasangan yang juga berkualitas.
Dewasa ini, banyak kalangan perempuan yang cita-citanya justru bukan lagi menjadi wanita karir tapi bagaimana caranya mereka bisa menjadi trophy wife. Apalagi bisa dipersunting oleh pria kaya terutama dari daerah Jaksel atau Jakarta Selatan.
Menurut Cambridge Dictionary, trophy wife didefinisikan sebagai perempuan muda atraktif yang menikah dengan pasangan yang jauh lebih tua, sukses, dan kaya. Trophy wife juga menjadi simbol untuk menunjukkan posisi sosial seseorang. Sederhananya, trophy wife merupakan istri yang berusaha untuk tidak membuat pasangannya malu dan merasa bangga atau bisa dibanggakan.
Baca Juga: Vito Lepas Masa Lajang, Tidak Bisa Berlama-lama Bulan Madu
Fenomena atau tren trophy wife ini banyak membuat wanita-wanita lajang berlomba-lomba memamerkan dan memerbaiki gaya hidup mereka agar bisa dikenal sepadan dan bisa dipersunting oleh pria kaya yang memiliki bisnis dimana-mana. Wanita-wanita lajang ini melakukan pilates, yoga, golf, tenis, treatment di tempat-tempat bergengsi, ke salon kecantikan, mengikuti kelas memasak dan parenting, mengunjungi klub malam dan sebagainya.
Keinginan tersebut tidak ada salahnya, dan tren tersebut juga tidak ada salahnya, apalagi jika tren itu bisa memacu dan memotivasi banyak wanita untuk mau terus mengimprove diri. Hanya saja, jangan sampai demi untuk meningkatkan gaya hidup semata, maka kita menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya, tapi yang harus wanita-wanita ini sadari adalah pendidikan juga merupakan bagian dari gaya hidup, untuk itu jangan lupa untuk terus meningkatkan investasi leher ke atas ya, girls.
Baca Juga: Ciri-ciri Wanita High Value Dalam Islam
Saya menyadari betul bahwa pendidikan bagi anak-anak dimulai justru bukan sejak anak lahir ke dunia, tapi saat wanita itu masih berstatus lajang, bahkan, saat bagaimana wanita itu memilih calon ayah dari anak-anaknya kelak.
Jika artikel parenting lain mungkin akan langsung menjelaskan bagaimana peran seorang ibu seharusnya. Saya pikir, parenting itu justru dimulai dari kualitas diri wanita itu sendiri dalam menyiapkan perannya sebagai ibu. Artikel parenting ini berbeda dengan buku-buku parenting pada umumnya, karena kita memulainya justru saat wanita tersebut masih lajang. Untuk itu, para wanita janganlah takut kamu untuk terus-menerus memerbaiki kualitas diri, mulai dari penampilan, kelas memasak, belajar parenting, atau bahkan mungkin untuk kuliah lagi, that's so incredible girls.
Jangan terlalu merasa tertekan dengan tuntutan lingkungan yang memaksamu agar segera menikah sesegera mungkin. Karena, di antara mereka yang memaksamu itu, tidak ada yang berani bertanggung jawab terhadap keberlangsungan rumah tanggamu. Jangan pusing, jika Anda merasa belum menemukan jodoh yang tepat, malah harusnya Anda bersyukur karena itu artinya Anda masih sempat memilah dan memilih calon ayah yang terbaik untuk anak-anak Anda kelak.
Camkan ini LADIES, Anak Tidak Bisa Memilih Siapa Orang Tuanya, tapi Kita Bisa Memilih Siapa Pasangan Kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









