Akurat

Bhinneka Tunggal Ika: Asal Usul, Definisi, dan Sejarah

Sultan Tanjung | 23 Januari 2024, 05:30 WIB
Bhinneka Tunggal Ika: Asal Usul, Definisi, dan Sejarah

AKURAT.CO Bhinneka Tunggal Ika, semboyan nasional Indonesia yang penuh makna, berasal dari bahasa Sansekerta, sebuah bahasa kuno yang digunakan dalam kitab-kitab agama Hindu dan sastra klasik India.

Kata-kata ini berasal dari salah satu bait dalam Sutasoma, sebuah epos sastra Jawa Kuno yang ditulis oleh Mpu Tantular.

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia yang tertulis dalam lambang negara, yaitu Garuda Pancasila.

Hal ini tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Baca Juga: Nilai-nilai Apa Yang Terkandung Dalam Bhinneka Tunggal Ika? Simak 8 Poin Berikut

 

Asal Usul Kata Bhinneka Tunggal Ika:

Bhinneka Tunggal Ika berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta:

  1. Bhinneka: Kata "Bhinneka" berarti "berbeda-beda" atau "bermacam-macam." Ini menunjukkan keberagaman atau perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan.

  2. Tunggal Ika: "Tunggal Ika" dapat diterjemahkan sebagai "tetapi satu." Kata "Tunggal" berarti "satu," dan "Ika" berarti "tetapi" atau "namun." Gabungan kedua kata ini menggarisbawahi kesatuan dan persatuan di tengah keberagaman.

Definisi Bhinneka Tunggal Ika:

Bhinneka Tunggal Ika dapat diartikan sebagai "Berbeda-beda tetapi tetap satu" atau "Keberagaman dalam Kesatuan."

Semboyan ini mengandung makna mendalam yang mencerminkan semangat persatuan dan toleransi di Indonesia.

Baca Juga: Bhinneka Tunggal Ika dan Kesesuaian dengan Nilai-Nilai Pancasila, Merangkai Keanekaragaman dalam Kesatuan Bangsa

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika:

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika pertama kali ditemukan dalam Sutasoma, sebuah epos Jawa yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 M.

Bait yang mengandung semboyan ini terdapat dalam Kakawin Sutasoma bagian 139, yang dinyanyikan oleh Patih Gajah Mada.

Bait ini menyatakan semangat persatuan dalam keberagaman, menekankan bahwa walaupun berbeda, semua tetap satu.

Berikut bunyi kutipan Kitab Sutasoma yang memuat frasa Bhinneka Tunggal Ika.

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Baca Juga: Masyarakat Diminta Jaga Bhinneka Tunggal Ika Saat Bersosial Media

Semboyan ini kemudian diadopsi sebagai semboyan nasional oleh Indonesia pada masa kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, Bhinneka Tunggal Ika pun menjadi semboyan bangsa. Peresmian tersebut dilakukan ketika Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950.

Kemudian, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara.

Dalam PP tersebut dinyatakan bahwa semboyan bangsa ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda Indonesia sebagai lambang negara.

Bhinneka Tunggal Ika ditulis dalam huruf Latin, meski berasal dari bahasa Jawa Kuno.

Presiden Soekarno menyatakan bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan prinsip dasar bangsa Indonesia yang memandang perbedaan sebagai kekayaan dan mempromosikan kesatuan dalam keragaman.

Makna dan Nilai Bhinneka Tunggal Ika:

Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi juga menjadi landasan bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia.

Nilai-nilai seperti toleransi, persatuan, dan menghargai perbedaan tercermin dalam semboyan ini. Bhinneka Tunggal Ika mendorong masyarakat untuk hidup bersama dalam kerukunan meskipun beragam.

Kesimpulan:

Bhinneka Tunggal Ika, yang berasal dari bahasa Sansekerta, tidak hanya menjadi semboyan nasional Indonesia, tetapi juga menjadi pilar identitas bangsa.

Dengan menggabungkan keberagaman dan persatuan, semboyan ini mengilhami semangat gotong royong dan membangun kehidupan berdampingan dalam harmoni.

Sebagai warisan budaya yang kaya, Bhinneka Tunggal Ika terus membimbing dan mempersatukan masyarakat Indonesia dalam perjalanan sejarahnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.