Akurat

Banyak Waktu ke Screen Time Bikin Gangguan Interaksi Sosial pada Anak

Annisa Fadhilah | 11 Januari 2024, 18:23 WIB
Banyak Waktu ke Screen Time Bikin Gangguan Interaksi Sosial pada Anak

AKURAT.CO Sebuah studi baru menunjukkan bahwa dengan mengekspos bayi dan balita terus-menerus mengonsumsi layar TV dan media digital lainnya dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko disfungsi dalam apa yang dikenal sebagai “pemrosesan sensorik.”

Anak-anak dengan "pemrosesan sensorik atipikal" sering kali hipersensitif terhadap sentuhan, suara, rasa, atau tampilan rangsangan di lingkungannya.

Baca Juga: Yuanita Ungkap Bagaimana Mengurus Generasi Alfa, dari Aktif Hingga Kesulitan Interaksi Sosial

Misalnya, anak-anak mungkin mencoba menghindari sentuhan pakaian tertentu, rasa makanan tertentu, atau aktivitas penting seperti mencuci rambut.

Masalah pemrosesan sensorik sangat berkorelasi dengan kondisi kejiwaan lainnya, seperti gangguan hiperaktif defisit perhatian (ADHD) atau autisme. Sekitar 60% anak-anak dengan ADHD memiliki masalah dengan pemrosesan sensorik, begitu pula sekitar 70% anak-anak dengan autisme, kata para peneliti di Drexel University di West Reading.

Mereka mengamati hampir 1.500 anak kecil yang dilacak dari tahun 2011 hingga 2023. Menurut penelitian tersebut, mereka yang terpapar TV dan DVD dalam tiga tahun pertama kehidupannya jauh lebih mungkin mengalami gejala pemrosesan sensorik yang tidak lazim, dibandingkan dengan mereka yang orang tuanya menunda paparan tersebut.

Penelitian tersebut tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Namun, tim Drexel berteori bahwa waktu menatap layar anak-anak dapat mengurangi "permainan bermakna dan interaksi sosial, yang mungkin memiliki implikasi signifikan terhadap perkembangan proses sensorik dan tingkat fungsi sehari-hari secara keseluruhan."

Baca Juga: Yuanita Ungkap Bagaimana Mengurus Generasi Alfa, dari Aktif Hingga Kesulitan Interaksi Sosial

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Karen Heffler, seorang profesor atau psikiatri di Drexel, dan diterbitkan pada 8 Januari di jurnal JAMA Pediatrics.

Pemrosesan sensorik yang tidak lazim dapat sangat mengganggu kualitas hidup dan perkembangan anak-anak yang terkena dampak. “Mereka yang memiliki kepekaan sensorik dan penghindaran sensasi mungkin sangat kewalahan dengan lingkungan sehingga mereka mengalami kesulitan yang lebih besar untuk belajar dari orang-orang di sekitar mereka,” jelas tim Heffler.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.