Saatnya Penggunaan Transportasi Umum Menjadi Budaya

KEMAJUAN transportasi sebuah kota tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak kendaraan dapat bergerak di jalan, melainkan dari seberapa mudah masyarakat mencapai tujuan.
Kota yang maju bukanlah kota yang terus menyediakan ruang bagi bertambahnya kendaraan pribadi, tetapi kota yang membuat warganya tidak merasa perlu membawa kendaraan pribadi untuk setiap perjalanan.
Di sinilah tantangan transportasi Indonesia hari ini.
Kita telah membangun jalan tol, MRT, LRT, BRT, kereta komuter, dan berbagai infrastruktur modern.
Namun, pembangunan fisik saja tidak cukup. Tantangan yang lebih mendasar adalah mengubah cara kita bergerak, dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menuju budaya menggunakan transportasi umum.
Perubahan itu semakin mendesak. Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia telah mendekati 164 juta unit.
Pada saat yang sama, sekitar 60 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan dan proporsinya terus meningkat.
Tanpa perubahan pola mobilitas, kota-kota kita akan terus berada dalam lingkaran yang sama: penduduk bertambah, perjalanan meningkat, kendaraan bertambah, jalan semakin padat, kapasitas jalan diperbesar, kemudian kembali mengalami kejenuhan.
Kita tidak mungkin terus mengejar pertumbuhan kendaraan dengan pembangunan jalan.
Ketergantungan pada kendaraan pribadi bukan sekadar persoalan kemacetan.
Dampaknya berkaitan dengan konsumsi energi, emisi, kualitas udara, keselamatan, produktivitas, penggunaan ruang kota, hingga kualitas hidup. Sektor transportasi sendiri mengonsumsi sekitar sepertiga energi final Indonesia.
Karena itu, mendorong penggunaan transportasi umum bukan hanya agenda sektor perhubungan. Ia sekaligus merupakan kebijakan ekonomi, energi, lingkungan, kesehatan, tata ruang, dan keadilan sosial.
Transportasi umum yang baik memperluas akses masyarakat terhadap pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pusat kegiatan ekonomi.
Biaya mobilitas dapat ditekan, produktivitas meningkat, konsumsi energi berkurang, dan ruang kota dapat digunakan secara lebih efisien.
Dengan perspektif ini, investasi dan subsidi transportasi publik tidak semestinya hanya dilihat sebagai biaya, tetapi sebagai investasi sosial dan produktivitas.
Ada persepsi yang juga harus kita ubah: Transportasi umum bukan moda bagi mereka yang tidak mampu memiliki kendaraan pribadi.
Keberhasilan transportasi publik justru terjadi ketika orang yang mempunyai mobil atau sepeda motor tetap memilih bus atau kereta karena lebih mudah, nyaman, aman, ekonomis, dan memberikan kepastian waktu. Dengan kata lain, public transport harus menjadi transport of choice.
Jakarta memberi optimisme. Pada Desember 2024, MRT Jakarta melayani sekitar 3,59 juta penumpang, meningkat 17,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transjakarta pada bulan yang sama melayani lebih dari 33 juta penumpang.
Pesannya sederhana: Masyarakat bukan tidak mau menggunakan transportasi umum. Mereka membutuhkan alasan yang kuat untuk memilihnya.
Karena itu, perubahan perilaku harus dimulai dari kualitas pelayanan. Angkutan umum harus mudah dijangkau, aman, nyaman, terjangkau, terintegrasi, dan dapat diandalkan.
Baca Juga: Orang Tua Affan Minta Tak Ada Peringatan Setahun Kematian Anaknya: Cukup Doakan Almarhum
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 5Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 6Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 7Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 8Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun









