Nilai Apa Saja yang Ada dalam One Piece yang Selaras dengan Nilai-nilai Pancasila?

AKURAT.CO One Piece, sebuah manga dan anime karya Eiichiro Oda yang telah mendunia sejak 1997, bukan hanya populer karena petualangan bajak lautnya yang seru, tetapi juga karena kekayaan nilai yang terkandung di dalamnya.
Meski berasal dari budaya Jepang, kisah petualangan Monkey D. Luffy dan kawan-kawan mengandung banyak pesan universal yang jika dibaca secara lebih dalam, ternyata selaras dengan nilai-nilai dasar bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: mungkinkah sebuah karya fiksi bertema bajak laut justru merepresentasikan semangat kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar hidup bernegara? Artikel ini mencoba menjawabnya dengan pendekatan naratif dan reflektif.
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
Meski One Piece tidak secara eksplisit berbicara tentang agama, namun penghormatan terhadap kekuatan yang lebih tinggi, spiritualitas, dan makna eksistensial seringkali muncul dalam alur ceritanya.
Tokoh-tokoh seperti Nico Robin dan Brook pernah merefleksikan tentang kematian, nasib, dan harapan yang berada di luar kendali manusia.
Baca Juga: Ahmad Muzani Soal Bendera One Piece: Ekspresi Kreatif Tak Akan Gantikan Merah Putih
Bahkan ada kritik terhadap tokoh-tokoh yang memposisikan diri sebagai dewa—seperti Enel di Skypiea—yang akhirnya dikalahkan oleh Luffy, simbol dari sikap bahwa tidak ada manusia yang layak menyamakan diri dengan Tuhan.
Dengan kata lain, One Piece menolak pemujaan terhadap kekuasaan mutlak manusia, dan mengingatkan pentingnya merendah di hadapan kekuatan yang lebih besar.
Ini bisa dibaca sebagai selaras dengan nilai Ketuhanan dalam Pancasila, bahwa kekuasaan tertinggi bukan pada manusia, melainkan pada Zat yang Maha Kuasa.
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Nilai kemanusiaan menjadi salah satu inti paling kuat dalam kisah One Piece. Karakter utama dalam kelompok Topi Jerami selalu membela yang tertindas, menolak diskriminasi, dan melawan ketidakadilan—termasuk ketika mereka bertarung demi kaum manusia ikan di Pulau Fishman, atau membela penduduk negeri Wano yang ditindas oleh Shogun Orochi dan Kaido.
Keadilan sosial dan empati terhadap penderitaan orang lain menjadi alasan mengapa Luffy sering terlibat konflik, meskipun itu berarti menghadapi pemerintahan dunia atau angkatan laut. Prinsip bahwa semua makhluk hidup layak dihormati dan diperlakukan secara adil, sangat erat dengan nilai kemanusiaan yang beradab menurut Pancasila.
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Kru Topi Jerami adalah perwujudan dari keberagaman yang bersatu. Mereka berasal dari latar belakang, ras, dan pengalaman hidup yang sangat berbeda—manusia, manusia ikan, cyborg, manusia rusa, hingga tengkorak hidup. Namun mereka bersatu di bawah satu tujuan: mewujudkan impian bersama dan menjaga loyalitas satu sama lain.
Konsep persatuan dalam perbedaan ini bukan hanya menjadi kekuatan naratif dalam cerita, tetapi juga representasi dari pentingnya menjalin solidaritas di tengah keberagaman.
Persatuan bukan berarti keseragaman, melainkan kemampuan untuk menyatukan perbedaan demi tujuan bersama. Ini selaras dengan sila ketiga Pancasila, bahwa semangat persatuan harus diutamakan di atas ego kelompok.
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Dalam banyak kesempatan, keputusan penting dalam kelompok Topi Jerami tidak ditentukan secara sepihak oleh Luffy. Meskipun ia kapten, tetapi ia mendengarkan pendapat anggota lainnya dan sering kali keputusan penting diambil berdasarkan diskusi kelompok.
Bahkan saat ada perbedaan pandangan—misalnya saat Robin ingin meninggalkan kru—respon kelompok tidak serta merta otoriter, tetapi melalui proses meyakinkan, dialog, dan akhirnya kompromi.
Hal ini mencerminkan prinsip permusyawaratan, di mana setiap suara memiliki tempat. Dalam konteks Pancasila, ini sangat sesuai dengan sila keempat, bahwa kebijaksanaan harus tumbuh dari musyawarah dan bukan dari pemaksaan kehendak.
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Salah satu tema utama dalam One Piece adalah perjuangan melawan sistem dunia yang timpang dan tidak adil. Pemerintahan Dunia dan para Tenryuubito sering digambarkan sebagai elit yang hidup dalam kemewahan dengan menindas rakyat kecil. Karakter-karakter protagonis, baik Luffy, Law, atau Sabo, memiliki kesamaan dalam memerangi ketidakadilan sosial tersebut.
Misi membebaskan negeri Dressrosa dari rezim Doflamingo atau menyelamatkan negeri Alabasta dari korupsi sistemik, adalah narasi yang menggambarkan keinginan menciptakan dunia yang lebih adil. Ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dalam Pancasila, bahwa kesejahteraan dan keadilan harus dinikmati oleh semua orang, bukan hanya golongan tertentu.
Baca Juga: Viral di Medsos! Ini Arti Bendera One Piece Jolly Roger yang Berkibar Jelang HUT RI ke-80
Membaca Pancasila Lewat Budaya Populer
One Piece membuktikan bahwa budaya populer tidak selamanya dangkal. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi media refleksi nilai-nilai moral dan kebangsaan yang sangat kuat.
Meskipun kisah ini diciptakan di Jepang dan berlatar dunia imajinatif, pesan-pesan tentang persatuan, keadilan, dan kemanusiaan di dalamnya sangat kontekstual jika dibaca dalam kerangka nilai-nilai Pancasila.
Ini menunjukkan bahwa nasionalisme generasi muda bisa hadir dalam bentuk yang tidak selalu formal atau seremonial. Mereka bisa mencintai Indonesia melalui cara-cara baru—termasuk dari simbol-simbol seperti bendera One Piece—selama esensinya tetap mencerminkan harapan akan masyarakat yang lebih adil, bersatu, dan manusiawi.
Dengan demikian, yang dibutuhkan bukan pelarangan atau kecurigaan terhadap ekspresi semacam ini, melainkan pemahaman bahwa nilai-nilai luhur bangsa bisa hadir dalam berbagai wajah, bahkan dalam dunia bajak laut fiksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








