Akurat

ROJALI: Dari Cuci Dompet ke Cuci Mata

Afriadi Ajo | 22 Juli 2025, 12:28 WIB
ROJALI: Dari Cuci Dompet ke Cuci Mata

ROJALI, dalam segala kelucuannya, adalah tanda. Tanda bahwa kota sedang sakit, dan ruang-ruangnya dipenuhi oleh orang-orang yang hadir secara fisik, tapi absen secara ekonomi.

Fenomena ROJALI—singkatan dari Rekreasi, On, Jajan, Libur atau Rombongan Jalan-jalan Tidak Beli—tampaknya makin sering dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan kota. Banyak pihak yang menanggapinya sambil lalu, sebagian mencemooh.

Namun bagi saya, ROJALI adalah gejala sosial yang tak bisa diremehkan. Ia adalah cermin jujur dari kelas menengah urban yang terengah-engah dalam mempertahankan ilusi kemakmuran, minimal di sosial media yang mereka miliki, sembari perlahan kehilangan daya beli.

Mall, atau institusi ekonomi sejenisnya, sudah berubah fungsi secara drastis.  Dahulu mall tempat arena “cuci dompet”, kini tempat “cuci mata”. Orang-orang datang dengan pakaian rapi, ponsel berkamera bagus, dan semangat untuk sekadar hadir. Tidak lagi membawa kantong belanja, melainkan membawa serpihan sisa-sisa kenangan tentang masa ketika belanja bulanan adalah bagian dari gaya hidup, bukan beban psikologis.

Baca Juga: Rojali: Rintihan Kelas Menengah Rentan

Mari kita mulai dari kerangka sosialnya. Di dasar struktur masyarakat kita, ada kelompok terbawah—yang hidup dari kerja harian. Mereka disebut kelompok Subsisten, atau ekonomi secukup hidup. Mereka ini adalah kelompok masyarakat yang begitu mereka tidak bekerja hari ini, dapur esok pagi bisa tak berasap.

Naik satu tingkat, kita menemukan kelompok yang memiliki pekerjaan tetap, namun upahnya setara atau bahkan di bawah UMR. Mereka tidak miskin dalam arti administratif, tapi juga tidak memiliki ruang untuk gagal. Begitu kehilangan pekerjaan, jatuh miskin adalah keniscayaan.

Di atasnya lagi, ada kelompok menengah-bawah bagian atas. Gaji mereka sedikit lebih tinggi, cukup untuk menabung seadanya dan memenuhi keinginan sesekali: beli sepatu baru, mencicil gawai, atau ngopi di kafe Instagramable.

Namun mereka tetap rentan. Mereka punya selera, tapi tidak selalu punya kuasa. Maka muncullah kebiasaan: belanja barang diskon, berburu pakaian bekas merek ternama, atau membeli produk tiruan yang tampak “asli” di media sosial.

Kelompok inilah yang menjadi akar dari ROJALI. Mereka memiliki cukup uang untuk sekadar datang ke mall, tapi tidak cukup untuk ikut serta dalam parade konsumsi. Mereka datang bukan karena mampu, tapi karena tidak ingin tertinggal. Karena hari ini, eksistensi tidak hanya dibangun dari siapa diri kita, tapi dari di mana kita terlihat.

Mall bukan lagi tempat belanja; ia telah berubah menjadi panggung sosial. Setiap sudutnya adalah latar foto, setiap tenant menjadi properti visual. Yang tak terbeli tetap bisa dinikmati lewat kamera. Yang tak bisa dibawa pulang, bisa diunggah ke Instagram.

Namun di balik kesan riuh dan modern itu, ada sunyi yang menyelinap. Banyak di antara mereka yang datang dengan sepeda motor dan uang pas-pasan, hanya sanggup membeli segelas teh atau duduk di food court selama berjam-jam.

Tak sedikit pula yang datang hanya untuk menikmati AC gratis, menyambung Wi-Fi, atau sekadar “berpindah” dari kamar kontrakan yang sumpek ke ruang yang terang dan lega.

Dulu, kelas ini adalah penopang pertumbuhan ritel dan konsumsi domestik. Tapi kini, mereka menjadi penonton dari pertunjukan kemakmuran yang mereka sendiri pernah ikut lakoni. Dan mereka masih berusaha tetap berada di lingkaran itu, walau hanya sebagai figuran.

ROJALI bukanlah bentuk kemalasan. Ia adalah bentuk perlawanan pasif terhadap sistem ekonomi yang makin tak berpihak. Ia adalah cara bertahan, bukan sekadar menikmati waktu luang.

Dan yang paling menyedihkan: ini adalah bentuk rasa malu yang dibungkus dengan estetika. Mereka tak ingin terlihat mundur. Maka walau krisis ekonomi menekan, mereka tetap tampil, walau hanya sebagai penonton mall, bukan pelaku pasar.

Apa yang menyedihkan dari fenomena ini bukan hanya sisi ekonominya, tapi diamnya negara. Ketika kelas menengah yang dulu disebut sebagai “tulang punggung pembangunan” mulai terseok, tidak ada intervensi yang cukup kuat untuk mengembalikan daya beli mereka. Tidak ada keberpihakan fiskal yang mendorong pergerakan sosial vertikal. Yang ada justru subsidi-subsidi dan insentif yang lebih menguntungkan segelintir kelas atas dan korporasi besar.

Kita tidak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan. Sebab jika tabungan menipis, pendapatan menyusut, dan pekerjaan makin tidak pasti, maka bukan hanya ROJALI yang akan tumbuh. Bisa jadi, kita akan menghadapi ledakan frustrasi sosial yang jauh lebih kompleks.

ROJALI, dalam segala kelucuannya, adalah tanda. Tanda bahwa kota sedang sakit, dan ruang-ruangnya dipenuhi oleh orang-orang yang hadir secara fisik, tapi absen secara ekonomi. Bahwa mall yang dahulu simbol kemajuan, kini berubah menjadi museum kenangan. Tempat orang berkumpul bukan untuk membeli, tapi untuk mengenang: seperti apa rasanya menjadi bagian dari kelas menengah yang dulu dibanggakan itu. [ ]

---

*Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat, UIN Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.