Akurat

Rojali: Rintihan Kelas Menengah Rentan

Afriadi Ajo | 21 Juli 2025, 11:49 WIB
Rojali: Rintihan Kelas Menengah Rentan

Inilah gaya hidup "Rojali" masa kini: mengamati diskon besar-besaran sambil duduk di pojok food court, meskipun isi dompet dan saldo e-wallet sudah menyedihkan.

"ROJALI" bukanlah nama orang, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok masyarakat kelas menengah yang masih rutin pergi ke mal, namun tidak lagi melakukan aktivitas belanja seperti dulu.

Istilah Rojali cukup cerdas karena mampu menangkap realitas sosial kelompok menengah rentan secara detail dan tepat sasaran.

Dulu, ada kelompok petani kecil yang memiliki sebidang tanah. Meskipun lahannya tidak luas, mereka mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan menjaga martabat sosialnya. Pagi hingga siang mereka bekerja sebagai buruh tani di lahan milik orang lain, namun sore harinya mereka menggarap sawah sendiri atau mencari pakan ternak.

Soekarno muda pernah bertemu dengan sosok seperti ini di pinggiran Bandung. Karena orang itu bernama Marhaen, Soekarno kemudian menamai refleksi sosialnya sebagai "marhaenisme"—sebuah konsep tentang masyarakat mandiri secara ekonomi dan sosial.

Kini, kita melihat fenomena serupa dalam bentuk yang berbeda. Kelas menengah yang dulunya mampu berbelanja dan makan di luar rumah kini hanya mampu "jalan-jalan" ke mal. Mereka datang bukan untuk belanja, melainkan sekadar "cuci mata".

Baca Juga: Libur Sekolah Dan Fenomena Wisata: Sebuah Bacaan Sosiologi

Kalaupun membeli, biasanya hanya makanan atau minuman, lalu duduk berjam-jam di area makan untuk menikmati suasana mal—karena mungkin hanya itu yang masih gratis. Jika masuk mal pun dikenakan biaya, bisa jadi mereka akan berpikir ulang untuk datang.

Fenomena ini menjelaskan mengapa mal masih ramai dikunjungi. Tempat parkir penuh, pengunjung hilir mudik, namun banyak tenant terlihat sepi. Beberapa manajer mal mengonfirmasi bahwa mal kini lebih berfungsi sebagai ruang publik daripada pusat belanja.

Banyak orang datang ke mal karena rumah mereka panas, lingkungan tidak nyaman, atau polusi tinggi. Mereka mencari aktivitas "outdoor tapi indoor"—keluar rumah, tapi masuk ke ruang ber-AC seperti mal.

Inilah gaya hidup "Rojali" masa kini: mengamati diskon besar-besaran sambil duduk di pojok food court, meskipun isi dompet dan saldo e-wallet sudah menyedihkan.

Rojali adalah kritik budaya terhadap kondisi sosial kita. Ketika negara terburu-buru menciptakan kelas menengah yang rapuh dan konsumtif, tanpa fondasi ekonomi yang kuat, maka hasilnya adalah kelompok yang mudah terguncang saat daya beli menurun.

Sampai kapan Rojali akan terus ada? Selama mal masih bisa bertahan sebagai ruang publik, mungkin mereka akan tetap datang. Namun jika jumlah pengunjung tidak sebanding dengan jumlah transaksi, tenant-tenant itu pun tidak akan bertahan lama.

Di sisi lain, sebenarnya Rojali juga bisa menjadi peluang baru. Para pemilik mal bisa mengubah konsep bisnis mereka. Mal tidak lagi hanya menjual barang seperti busana atau elektronik, sebagaimana mal konvensional pada umumnya. Tetapi juga menyediakan ruang lebih untuk relaksasi keluarga—tempat untuk menghabiskan waktu bersama, bukan sekadar tempat belanja. []

----

*Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat, UIN Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.