Ketika Algoritma Membentuk Budaya: Ancaman AI terhadap Jati Diri Manusia

KITA sedang menyaksikan kemunculan machine culture dan algorithmic culture, yaitu situasi di mana algoritma dan mesin membentuk makna, interaksi sosial, bahkan cara manusia memahami dunia. Di dunia kerja, sebagai contoh, AI mendorong efisiensi dan kemudahan, namun sekaligus menimbulkan resistensi, kecemasan, dan perubahan besar dalam peran karyawan serta struktur organisasi.
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) hari ini bukan hanya soal inovasi teknologi. Lebih dari itu, AI telah menjadi kekuatan budaya yang membentuk cara manusia berpikir, berperilaku, dan hidup bermasyarakat. Dari komunikasi hingga karya seni, dari organisasi kerja hingga nilai-nilai sosial, AI hadir sebagai aktor budaya baru yang tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Dalam seni dan budaya, kita tidak menyadari dampak dari menjadikan AI sebagai kolaborator karya. Seniman menggunakan AI untuk menciptakan karya, sehingga batas antara orisinalitas manusia dan hasil buatan mesin menjadi kabur. Ekspresi artistik bukan lagi murni manusiawi, tapi campuran algoritma dan data. Hal ini menciptakan transformasi mendalam dalam estetika dan norma budaya.
Baca Juga: Deteksi Dini Autisme pada Anak dengan Artificial Intelligence, Cegah Kemungkinan Terburuk
Semakin terasa bahwa AI membentuk nilai-nilai baru—seperti kecepatan, presisi, dan rasionalitas—yang di sisi lain melemahkan nilai konvensional kemanusiaan seperti empati, makna emosional, dan kedekatan sosial. Di masyarakat, integrasi AI bahkan menyebabkan depersonalisasi komunikasi, menurunnya koneksi emosional, dan pergeseran identitas budaya urban.
Yang paling mengkhawatirkan, AI perlahan menggeser pusat otoritas dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang sebelumnya melibatkan nurani dan pertimbangan etis manusia, kini bergeser pada hasil analisis sistem yang dingin dan tanpa empati. Ini menimbulkan tantangan besar terhadap otonomi pribadi dan martabat manusia.
Apakah kita sedang membiarkan mesin mendefinisikan apa itu “benar”, “indah”, dan “manusiawi”?
Meskipun AI menawarkan peluang untuk kemajuan budaya, risiko terhadap identitas budaya dan kedalaman emosional harus dihadapi dengan pendekatan yang seimbang. Etika dan humanisme harus dikembalikan lagi menjadi fondasi utama dalam pengembangan AI, mengembalikan human-centric AI—teknologi yang menghormati nilai-nilai manusia, humanisme, nurani, martabat, dan keberagaman budaya manusia. Tanpa itu, kita berisiko menciptakan dunia yang efisien tapi kosong secara kemanusiaan.
Beberapa pakar teknologi menyebut AI sebagai bagian dari transhumanism, sebuah gagasan untuk menggabungkan kemampuan manusia dan mesin. Namun gagasan ini membuka pertanyaan eksistensial: jika manusia ditingkatkan oleh mesin, masihkah kita bisa disebut manusia? Atau justru menjadi makhluk baru yang kehilangan akar budaya dan identitas?
Kita harus sadar: AI tidak netral. Ia membawa nilai, memengaruhi norma, dan mengubah struktur sosial. Oleh karena itu, masyarakat perlu mempersiapkan diri secara etis dan kultural agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Kita harus beradaptasi dengan teknologi ini tanpa mengorbankan nilai-nilai yang telah membentuk kita.
Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “sejauh mana teknologi bisa berkembang?”, tetapi juga “sejauh mana kita masih menjadi manusia di tengah dunia yang kian dikuasai mesin?” **
----
Cooky T. Adhikara, Pengurus Yapsekarta (Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









