Industri Ritel Berkelanjutan: Menuju Transformasi Modern

AKURAT.CO Industri ritel modern di Indonesia telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir, didorong oleh urbanisasi, perubahan gaya hidup, serta pertumbuhan e-commerce, digitalisasi, dan inovasi bisnis.
Supermarket, minimarket, dan platform daring kini mendominasi pola konsumsi masyarakat, menggantikan pasar tradisional dalam banyak aspek.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO,2024) memproyeksikan pertumbuhan sektor ritel Indonesia pada tahun 2024 sebesar 4,8%, menurun dari 5,3% pada tahun 2023.
Serta mengenai pertumbuhan sektor ritel pada tahun 2024, Bank Indonesia mencatat bahwa pada bulan September 2024, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,7% secara tahunan (year-on-year).
Namun, pada bulan Oktober 2024, IPR mengalami pertumbuhan yang lebih rendah, yaitu 1,5% secara tahun.
Namun tantangan yang akan di hadapi terutama terkait, daya beli konsumen, kenaikan biaya bahan baku, logistik, dan operasional lainnya juga memengaruhi harga barang yang akhirnya berimbas pada margin keuntungan, termasuk kondisi ekonomi makro dan ketidakpastian global berimbas pada sektor ritel.
Tidak hanya itu, ada juga terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK ) yang begitu masif. Hingga akhir Oktober 2024 (Bisnis.com,2024), tercatat sebanyak 59.796 pekerja di Indonesia yang terdampak PHK, dengan konsentrasi terbesar di DKI Jakarta (14.501 orang), diikuti oleh Jawa Tengah (11.252 orang), dan Banten (10.524 orang).
Baca Juga: Investor Ritel Lepas Saham, Institusi Domestik Isi Ruang di Bursa
Sektor perdagangan besar dan eceran (ritel) menyumbang sekitar 8.543 pekerja yang kehilangan pekerjaan hingga pertengahan November 2024 .
Maka dari itu, salah satu masalah yang terjadi sekarang ini adalah persaingan ketat antara ritel konvensional dan digital.
Sehinga menyebabakan pola perubahan perilaku konsumen yang semakin mengutamakan kenyamanan dan efisiensi membuat e-commerce dan marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada semakin dominan.
Akibatnya, banyak ritel fisik yang harus beradaptasi atau menghadapi risiko penurunan penjualan dan bahkan penutupan toko.
Namun, seiring pertumbuhan ini, muncul tantangan besar dalam isu keberlanjutan dan dampak lingkungan menjadi perhatian utama bagi industri ritel modern.
Konsumen semakin sadar akan pentingnya produk ramah lingkungan seperti limbah plastik, jejak karbon logistik, serta ketimpangan akses bagi produsen lokal.
Hal ini memaksa perusahaan ritel untuk mengubah strategi mereka agar lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan efisiensi operasional.
Oleh karena itu, membangun ritel yang lebih berkelanjutan bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan untuk memastikan keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Untuk mengatasi tantangan ini, sektor ritel perlu berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai agenda pembangunan global hingga 2030.
Oleh Karena itu, ada beberapa tujuan SDGs yang berkaitan dengan industri ritel modern antara lain sebagai berikut.
Pertama, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab ayat 12. Hal tersebut memberikan dampak terkait dengan mengurangi limbah plastik, menggunakan kemasan ramah lingkungan, dan mencegah pemborosan makanan.
Kedua, penanganan perubahan iklim ayat 13 berkaitan dengan mengurangi emisi karbon dengan menggunakan energi terbarukan dan sistem transportasi yang lebih efisien.
Ketiga yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi ayat 8, dalam hal ini industri ritel dapat memberikan dan Menciptakan lapangan kerja yang adil dan mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif.
Keempat yaitu SDG 9 industri, inovasi, dan infrastruktur ayat 9, berkaitan dengan prinsip keberlanjutan yang menekankan dalam hal keberlanjutan inovasi teknologi dalam ritel, seperti e-commerce dan sistem logistik pintar.
Kelima adalah kota dan pemukiman berkelanjutan ayat 11 dalam hal ini berkaitan dengan mengembangkan toko dan pusat perbelanjaan yang ramah lingkungan serta mendukung transportasi berkelanjutan
Berdasarkan hal tersebut di atas, Industri ritel modern di Indonesia harus bertransformasi menjadi industri yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.
Guna mendorong dan menciptkan pertumbuhan ekosistem ekonomi nasional dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip SDGs dalam operasional bisnis, sektor ini tidak hanya dapat tumbuh secara berkelanjutan tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Strategi Menuju Ritel Berkelanjutan
Masa depan ritel modern Indonesia bergantung pada kemampuan industri untuk beradaptasi dengan tren keberlanjutan.
Dengan mengadopsi praktik ramah lingkungan, efisiensi energi, dan mendukung produk lokal, sektor ini dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat.
Dengan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam bisnis ritel, Indonesia dapat menciptakan sistem ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkeadilan bagi masyarakat.
Maka dari itu, perubahan pola konsumsi serta persaingan ketat antara ritel offline dan online dalam hal ini memberikan daya saingan tersendiri terkait meningkatnya popularitas e-commerce dan platform digital di Indonesia menyebabkan pergeseran pola perilaku konsumen dari belanja di toko fisik ke belanja online.
Dan ritel konvensional harus beradaptasi dengan teknologi digital, seperti omnichannel retail (menggabungkan online dan offline) untuk tetap menarik pelanggan.
Hal tersebut menyebabkan para pelanggan dalam berbelanja lebih memperhatikan harga, kualitas, dan aspek keberlanjutan dari suatu produk. dan Meningkatnya tren "conscious consumerism" (kesadaran akan dampak sosial dan lingkungan dari produk) menuntut ritel untuk menyediakan produk ramah lingkungan dan transparan dalam proses produksinya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, industri ritel modern di Indonesia perlu terus berinovasi, mengadopsi teknologi, serta menerapkan strategi keberlanjutan agar tetap relevan di tengah perubahan pasar dan regulasi yang dinamis.
Adapun beberapa syarat dan ketentuan yang dihadapi dalam penerapan industri modern ritel Indonesia agar sejalan dengan prinsip berkelanjutan di antaranya sebagai berikut.
Pertama, transformasi digital untuk efisiensi terkait dengan menggunakan teknologi untuk mengoptimalkan rantai pasok serta penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk merencanakan rute yang paling efisien dalam pengiriman agar dapat meningkatkan sistem e-commerce yang ramah lingkungan, seperti pengemasan minimalis dan pengiriman hijau.
Kedua yaitu optimalisasi transportasi dan distribusi berkaitan dengan penggunaan kendaraan ramah lingkungan mengenai daya dukung dari armada konvensional menjadi armada listrik atau berbasis bahan bakar rendah emisi karbon.
Ketiga yaitu kolaborasi dengan pemasok berkelanjutan, berkaitan dengan pemilihan pemasok yang menerapkan prinsip keberlanjutan sebagai upaya memberikan daya dukung dan kerja sama dengan pemasok yang memiliki sertifikasi lingkungan dan praktik produksi berkelanjutan.
Keempat yaitu regulasi dan kebijakan pemerintah, dalam hal ini pemerintah menerapkan berbagai kebijakan, seperti pembatasan plastik sekali pakai, pajak digital, dan aturan ketenagakerjaan yang dapat mempengaruhi operasional ritel dan perusahaan ritel perlu memastikan kepatuhan terhadap regulasi sambil tetap menjaga profitabilitas secara berkelanjutan.
Kelima adalah meningkatkan kesadaran konsumen akan produk berkelanjutan, dalam hal ini Memberikan label produk ramah lingkungan untuk membantu konsumen memilih secara lebih bijak. Dan Menerapkan sistem insentif, seperti diskon untuk konsumen yang membawa kemasan sendiri guna mendukung prinsip berkelanjutan
Maka dari itu, membangun masa depan berkelanjutan dalam industri ritel modern Indonesia memerlukan kerja sama antara pelaku industri, pemerintah, dan konsumen.
Dengan mengadopsi praktik ramah lingkungan, mendukung produk lokal, serta mengelola limbah dengan lebih baik, industri ritel dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang yang lebih komptetitif dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Berdasarkan hal tersebut, Industri ritel merupakan salah satu pilar ekonomi Indonesia, baik dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, hingga kontribusi terhadap pendapatan negara.
Namun, dengan meningkatnya persaingan dari e-commerce dan tuntutan keberlanjutan, industri ini perlu terus berinovasi agar tetap relevan dan berkembang.
Oleh karena itu, masa depan ritel bukan hanya tentang kenyamanan dan inovasi, tetapi juga tentang bagaimana industri ini dapat berkembang tanpa mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan sosial dimasa yang akan datang.
----
Cornelius Corniado Ginting
Founder Center of Economic and Law Studies Indonesia Society (CELSIS)/ Presidium Pusat Ikatan Sarjana Khatolik Indonesia (ISKA) Bidang Hukum dan Ham/Wakil Sekertaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Khatolik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







