Akurat

Wisata Hiburan di Puncak: Tabungan Bencana yang Nyata

Afriadi Ajo | 8 Maret 2025, 11:02 WIB
Wisata Hiburan di Puncak: Tabungan Bencana yang Nyata


KAWASAN Puncak yang selama ini dikenal sebagai paru-paru hijau bagi Jabodetabek, kini semakin terancam oleh ekspansi wisata hiburan yang rakus lahan.

Dengan dalih meningkatkan sektor pariwisata, kawasan Puncak disulap menjadi pusat wisata buatan yang mengorbankan ruang hijau, memusnahkan vegetasi alami, dan membuka lahan tanpa kendali.

Imbasnya? Bencana ekologis yang hanya menunggu waktu untuk terjadi.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa setiap hektare hutan yang dibabat untuk membangun wahana hiburan adalah tiket menuju bencana. Tanah yang seharusnya menjadi penyerap air kini berubah menjadi beton dan aspal yang tak menyisakan ruang bagi air untuk meresap. Saat hujan deras datang, air tak lagi memiliki jalur alami untuk terserap ke dalam tanah. Alih-alih mengalir perlahan melalui akar-akar pepohonan, air langsung meluncur deras ke hilir, memicu banjir bandang yang semakin hari semakin menjadi-jadi.

Ironisnya, wisata buatan yang dipilih untuk dikembangkan di kawasan ini tidak memiliki nilai edukasi atau konservasi yang berarti. Alih-alih menghadirkan konsep wisata berbasis alam yang berkelanjutan, yang ditawarkan justru taman rekreasi artifisial yang hanya mengutamakan estetika semu.

Bangunan-bangunan megah berdiri menggantikan hamparan hutan, dengan dalih meningkatkan daya tarik wisatawan. Namun, yang terjadi justru kerusakan ekosistem yang tak terbendung.

Kontribusi wisata buatan terhadap banjir di Jabodetabek sudah tidak dapat disangkal. Ketika kawasan hulu kehilangan daya serapnya, wilayah hilir menerima dampak terburuk: banjir besar yang merugikan jutaan penduduk. Tidak hanya itu, deforestasi di Puncak mempercepat degradasi tanah dan memperbesar risiko longsor yang dapat merenggut nyawa kapan saja.

Mengizinkan wisata berbasis penghancuran ekologi berkembang di Puncak adalah kebijakan yang tidak hanya keliru, tetapi juga bencana yang direncanakan. Sudah saatnya pemerintah dan pemangku kepentingan menyadari bahwa keuntungan jangka pendek dari pariwisata eksploitatif tidak sebanding dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Jika praktik ini terus dibiarkan, maka kita bukan hanya sedang menciptakan ruang rekreasi, tetapi juga menabung bencana yang akan terus berulang di masa depan.

Solusinya bukanlah menutup sektor wisata sepenuhnya, melainkan mengubah konsep wisata menjadi lebih ramah lingkungan. Wisata berbasis konservasi, agroforestri, dan edukasi alam harus menjadi prioritas. Bukan taman hiburan yang hanya menawarkan ilusi kesenangan sesaat dengan harga yang terlalu mahal bagi keseimbangan ekologi.

Sudah cukup kita belajar dari bencana yang terus terjadi. Puncak seharusnya tetap menjadi kawasan hijau, bukan ladang eksploitasi yang hanya menguntungkan segelintir orang dan membahayakan jutaan lainnya. Jika kita terus membiarkan keserakahan menggantikan akal sehat, maka jangan heran jika di kemudian hari kita harus membayar harga yang jauh lebih besar: kehilangan alam, kehilangan keamanan, dan kehilangan masa depan.

Maka saya mendukung upaya keras dan penuh keberanian Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi untuk mengembalikan keseimbangan kawasan. Bahkan sambil nyegruk, KDM ditanya oleh orang alasannya sampai meneteskan air mata: gunung dan hutan harus dihormati.

Semoga ini fase kembali kita bisa hidup berdampingan dengan alam; bukan mengeksploitasi dan menghancurkannya.

Dr. Tantan Hermansah, M.Si.
(Dosen Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Jakarta)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.