Gotong Royong Sebagai DNA Memajukan Bangsa di Era Digital

DI TENGAH gempuran individualisme digital, Indonesia justru memiliki kunci emas untuk bertahan: budaya Gotong Royong yang berpadu dengan filosofi kearifan lokal Jawa “hamemayu hayuning bawana”.
Hamemayu hayuning bawana berarti merawat keindahan dunia melalui harmoni sehingga menjadi semakin indah. Filosofi ini diimplementasikan menjadi roh yang menghidupkan collaborative learning (CL) di era modern, di mana kolaborasi lintas generasi, disiplin ilmu, dan budaya adalah senjata utama menjawab tantangan global.
Sebagai contoh, didukung kekuatan kearifan lokal Sabilulungan dari Sunda yang mengajarkan silih asah (saling mencerdaskan) melalui pertukaran data real-time petani via WhatsApp, atau semangat Mapalus di Minahasa yang menginspirasi mahasiswa merancang aplikasi mitigasi bencana bersama nelayan.
Itulah wajah CL ala Indonesia: tradisi kolektif yang diperkuat teknologi, dengan hamemayu hayuning bawana sebagai kompas etisnya.
Akar CL di Nusantara sudah tertanam jauh sebelum revolusi digital. Masyarakat Sunda dengan Sabilulungan-nya telah mempraktikkan data democratization —akses informasi merata—sejak lama. Empat prinsipnya: silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi, adalah prototipe CL yang sempurna.
Di Minahasa, Mapalus dengan sistem kerja bergilir dan semboyan “Torang Samua Basudara” (Kita semua bersaudara) menegaskan bahwa kolaborasi harus inklusif.
Keduanya bukan hanya ritual budaya, melainkan sistem pengetahuan yang relevan di dunia modern. Contohnya, mahasiswa Jogja yang terbiasa “nongkrong koding” ala gotong royong mampu menyelesaikan proyek AI 40% lebih cepat berkat dinamika peer review informal —cerminan nyata silih asah dan learning velocity (kecepatan adaptasi keterampilan baru) yang dipercepat adanya kolaborasi.
Di ranah digital, filosofi hamemayu hayuning bawana menemukan napas barunya. Platform seperti kelas pembelajaran metaverse ataupun sistem AI yang memprediksi dinamika kelompok tidak hanya lintas batas geografis, tetapi juga memperdalam makna kebersamaan.
Komunitas “Digital Nomads for Local Impact” di Bali adalah buktinya, bahwa diaspora IT global dan developer lokal berkolaborasi meneliti energi terbarukan, menghasilkan publikasi riset 41% lebih banyak daripada kerja mandiri.
Di sisi pendidikan, sebuah platform menghidupkan kembali semangat iuran tradisional melalui fitur “belajar patungan”, di mana siswa lintas sekolah berbagi akses konten premium sekaligus berdiskusi di forum online. Ini bukan sekadar efisiensi biaya, melainkan praktik data democratization yang menyuburkan learning velocity —setiap anggota tim saling mengisi celah pengetahuan seperti puzzle yang menyatu.
Harmonisasi lintas generasi dan budaya adalah core competence atau kuncinya. Di Jawa Tengah, pos kamling virtual menggabungkan pemuda pengembang aplikasi dengan sesepuh desa untuk memantau keamanan via CCTV berbasis IoT. Di Yogyakarta, seniman batik dan desainer digital bersama-sama menciptakan NFT berbasis motif tradisional, menjualnya ke pasar global.
Lebih jauh, tren hastag “kabur aja dulu” di kalangan pekerja muda bisa dialihkan menjadi “collaborative escape” —seperti Startup Weekend yang mengadopsi semangat Mapalus, misalnya 72 jam kerja tim lintas keahlian untuk menyelesaikan masalah sosial.
Semua ini adalah bentuk modern dari hamemayu hayuning bawana, di mana kemajuan teknologi tidak mengikis nilai kebersamaan, justru memperkuatnya.
Namun, CL ala Indonesia tak akan utuh tanpa regulasi yang mendukung. Di sinilah filosofi kearifan lokal itu kembali berperan sebagai penjaga etika. Hamemayu hayuning bawana mengingatkan bahwa kolaborasi harus berprinsip keadilan dan keberlanjutan. Ketika petani Garut berbagi data cuaca via grup WhatsApp, atau nelayan Sulawesi memberi masukan untuk aplikasi mitigasi bencana, ada tanggung jawab bersama untuk memastikan data tidak disalahgunakan. Begitu pula dalam proyek riset hybrid, data democratization harus dibarengi dengan proteksi hak intelektual kolektif.
Pada akhirnya, Gotong Royong dengan semangat hamemayu hayuning bawana adalah DNA yang membuat collaborative learning Indonesia unik. Ia mengajarkan bahwa kolaborasi bukan sekadar alat mencapai target, tetapi jalan merawat harmoni kehidupan. Seperti gamelan yang indah karena selarasnya gong, saron, dan kendang, kemajuan bangsa lahir dari sinergi kearifan lokal, teknologi, dan semangat kebersamaan.
Di panggung global yang dipenuhi kompetisi, Indonesia justru bisa memimpin dengan filosofi Hamemayu hayuning bawana ini —menjadi contoh bahwa di balik layar digital, metaverse dan AI, jantung kemajuan Bangsa tetap berdetak dalam kebersamaan. []
----
*Cooky T. Adhikara, Pengurus Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta (Yapsekarta)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





