Insentif SPPG Bakal Disesuaikan Jumlah Penerima Manfaat, Komisi IX DPR: Lebih Adil dan Efisien

AKURAT.CO Badan Gizi Nasional (BGN) berencana mengubah skema insentif operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sehingga insentif tak lagi Rp6 juta per hari, melainkan dihitung berdasarkan jumlah penerima manfaat.
Skema tersebut akan dievaluasi, seiring penataan ulang program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan refocusing penerima manfaat yang tengah dilakukan pemerintah.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, mendukung rencana tersebut. Menurutnya, pemberian insentif yang selama ini dipukul rata perlu disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang dilayani oleh masing-masing SPPG.
Baca Juga: BGN Siapkan Skema Baru Insentif SPPG, Tak Lagi Flat Rp6 Juta
"Kami setuju dengan rencana BGN untuk merubah skema insentif Rp6 juta tiap hari menjadi disesuaikan dengan berapa jumlah penerima manfaat yang diberikan oleh setiap SPPG," kata Yahya saat dihubungi Akurat.co, Selasa (16/6/2026).
Dia menilai, skema baru tersebut akan lebih adil karena mempertimbangkan beban kerja setiap dapur MBG yang berbeda-beda. "Kalau penerima manfaatnya 2000 berarti 2000 dikali 2000 sama dengan Rp4 juta setiap hari," ujarnya.
Dia menilai, perubahan formula insentif tersebut dapat menjadi bagian dari upaya perbaikan tata kelola program MBG yang saat ini tengah dilakukan BGN.
"Selain meningkatkan efisiensi anggaran, kebijakan itu juga diharapkan membuat distribusi insentif lebih proporsional sesuai jumlah penerima manfaat yang dilayani oleh masing-masing SPPG," jelasnya.
Sebelumnya, Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, mengatakan perubahan skema insentif akan dilakukan setelah proses penataan ulang penerima manfaat atau refocusing program MBG selesai dilakukan.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya menyasar penerima manfaat, tetapi juga sistem insentif yang selama ini diterapkan kepada pengelola SPPG.
Baca Juga: Stop 6.877 SPPG di Luar Perencanaan, Pemerintah Hemat Rp12 Triliun
"Iya, iya, nanti itu termasuk. Setelah data penerima manfaat itu fix, ya kami harapkan nanti insentifnya enggak flat Rp6 juta semua. Kan tadinya itu diubahlah oleh yang dulu ya, bahwa penerima manfaatnya 1.500 pun insentifnya Rp6 juta, 500 pun Rp6 juta. Kan yang dulu begitu," kata Agustina kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Data riil penerima manfaat di setiap SPPG akan menjadi dasar penataan ulang program. Jika ditemukan jumlah penerima yang relatif kecil di suatu wilayah, BGN tidak menutup kemungkinan melakukan penggabungan sejumlah SPPG agar pengelolaannya lebih efisien.
"Nah, kalau nanti kita sudah mengetahui berapa riil penerima manfaat yang menerima dari SPPG tersebut, misalnya ya, kan itu dampaknya nanti penataan ulang kan akan begitu. Mungkin kita akan gabungkan bisa jadi ya, bisa jadi 'oh karena di daerah sana ternyata hanya ada sekian, kita akan gabungkan SPPG ini dengan SPPG ini' dan seterusnya. Itu proses yang pasti akan mengikuti proses refocusing," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 4ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 7Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 8Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 9Prabowo Sindir Para Pakar: Saking Pintarnya Jadi Goblok
- 10Hadiri HUT PAN, Prabowo Sentil Arti Kesetiaan: Ada Kawan di Waktu Susah, Ada Kawan di Waktu Kita Berkuasa








