Akurat Logo

Sutradara Film Dokumenter Pesta Babi Jelaskan Makna Judul Film Kontroversi Ini

Lufaefi | 16 Mei 2026, 05:56 WIB
Sutradara Film Dokumenter Pesta Babi Jelaskan Makna Judul Film Kontroversi Ini
Film dokumenter pesta babi (Instagram @ampd_bengkalis)

AKURAT.CO Sutradara film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Cypri Paju Dale, buka suara terkait polemik yang muncul setelah film garapannya bersama Dandhy Laksono ramai diperbincangkan publik.

Cypri menilai penolakan terhadap pemutaran film, termasuk pembubaran acara nonton bareng dan diskusi di sejumlah daerah, kemungkinan dipicu penggunaan istilah “kolonialisme” dalam judul film tersebut.

“Barangkali sumber keberatan atas film ini adalah karena di dalamnya kami memakai istilah kolonialisme pada judul dan kepada seluruh rangka analisis yang dirajut dalam keseluruhan cerita film,” ujar Cypri dalam video yang diunggah akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, Jumat (15/5/2026).

Ia mengatakan film dokumenter tersebut dibuat untuk menggambarkan situasi masyarakat adat di Papua agar lebih dipahami masyarakat luas. Menurutnya, selama ini banyak pihak berupaya agar persoalan yang terjadi di Papua tidak diketahui publik secara luas.

“Film ini memang sedang dicegah oleh sejumlah pihak untuk sampai kepada penonton yang luas. Banyak pihak yang berusaha agar apa yang terjadi di Papua tidak diketahui oleh masyarakat luas, oleh dunia yang luas,” katanya.

Baca Juga: Yusril: Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Bukan Arahan dari Pemerintah atau Aparat

Cypri menjelaskan, istilah “kolonialisme” dipilih karena dianggap mampu merangkum berbagai persoalan yang terjadi di Papua, mulai dari konflik, pelanggaran HAM, deforestasi, hingga militerisme, dalam satu kerangka analisis yang saling berkaitan.

“Kolonialisme sebagai sebuah rangka berpikir atau rangka analisis berhasil merangkum semua masalah itu,” ujarnya.

Ia juga menyebut istilah tersebut telah lama digunakan sebagian masyarakat Papua untuk menggambarkan pengalaman mereka dalam relasi dengan Indonesia maupun bangsa lain.

Selain menyoroti persoalan struktural di Papua, Cypri menilai film tersebut mengajak publik untuk mendiskusikan secara terbuka pertanyaan mengenai relasi Indonesia dan Papua.

“Karena, film ini membuat kita harus menjawab pertanyaan apakah Indonesia memang melakukan penjajahan di Papua? Ini pertanyaan sederhana namun sulit,” katanya.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru pada 2026. Film ini mengangkat isu masyarakat adat dan dampak proyek strategis nasional di Papua Selatan terhadap lingkungan serta hak-hak masyarakat adat.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak melarang kegiatan pemutaran maupun diskusi film tersebut.

“Kritik semacam itu wajar saja, walaupun memang terdapat narasi yang provokatif. Judul film dokumenter itu sendiri memang kontroversial,” kata Yusril dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Yusril: Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Bukan Arahan dari Pemerintah atau Aparat

Ia meminta masyarakat tidak terpancing hanya karena judul film dan mempersilakan publik menonton serta mendiskusikannya secara terbuka.

“Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat. Dengan demikian publik menjadi kritis, pro dan kontra dapat terjadi,” ujarnya.

Yusril juga menyebut pemerintah dapat menjadikan kritik dalam film tersebut sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek strategis nasional di lapangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi