Wamenhan: Aturan Keterlibatan TNI dalam Penanganan Terorisme Masih Dibahas

AKURAT.CO Kementerian Pertahanan menyatakan pembahasan Peraturan Presiden (Perpres) terkait pelibatan TNI dalam penanganan terorisme, masih berlangsung dan belum ditetapkan target waktu penandatanganannya.
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan, mengatakan Perpres tersebut disusun dengan prinsip penggunaan seluruh instrumen negara secara proporsional dalam menghadapi ancaman terorisme.
"Kalau Perpres itu kita sedang bahas. Pada intinya kan kita menggunakan semua instrumen untuk bersama-sama mengatasi terorisme, sehingga kita tinggal letakkan saja nanti instrumen yang mana cocok untuk terorisme jenis apa," ujar Donny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Dari Istana, Prabowo Minta TNI-Polri Jaga Kepercayaan Rakyat dan Kawal Program Strategis
Pemerintah saat ini masih mendiskusikan pembagian peran antara TNI, Polri, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), khususnya terkait jenis ancaman terorisme yang memerlukan pelibatan militer.
"Sedang kita diskusikan itu, mana yang TNI itu akan masuk melaksanakan penindakan terorisme, mana yang polisi," katanya.
Donny menegaskan, aspek penegakan hukum tetap menjadi kewenangan kepolisian. Terkait waktu penerbitan Perpres, Donny menyebutkan belum ada target pasti karena pembahasan masih berjalan.
"Belum ada target rilis Perpres, ini sedang kita bahas," pungkasnya.
Sebelumnya, Komisi I DPR menanggapi ramainya pembahasan draf peraturan presiden (perpres) yang mengatur keterlibatan TNI dalam penanganan terorisme. Dokumen yang beredar saat ini, masih berupa draf dan belum menjadi naskah resmi yang diterima DPR.
Baca Juga: TNI AD Siapkan Ribuan Pasukan Perdamaian untuk Dikirim ke Gaza, Fokus Kesehatan dan Zeni
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan Surat Presiden (Surpres) bukan merupakan peraturan perundang-undangan, melainkan instrumen administratif Presiden untuk menyampaikan pandangan atau usulan kepada DPR.
"Dalam konteks wacana keterlibatan TNI dalam penanganan terorisme, Surpres yang beredar saat ini masih berbentuk draf dan belum menjadi dokumen resmi yang diterima oleh Komisi I DPR RI," ujar Dave kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).
Karena masih berstatus draf, Dave menyatakan Komisi I DPR sebagai mitra TNI belum dapat memberikan sikap final terkait substansi kebijakan tersebut. Menurutnya, DPR akan menunggu naskah resmi dari pemerintah sebelum melakukan pembahasan lebih lanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







