Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF di Gaza, Pemerintah Diminta Utamakan Transparansi

AKURAT.CO Pemerintah diminta mengutamakan transparansi terkait penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional atau Stabilization Force (ISF) di Gaza. Penunjukan tersebut merupakan bagian dari keputusan negara-negara anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) Gaza.
Pemerintah juga dikabarkan berencana mengirim sekitar 8.000 personel TNI untuk terlibat dalam misi tersebut. Pengiriman pasukan ke wilayah konflik aktif seperti Gaza bukan keputusan sederhana dan harus melalui pembahasan matang bersama DPR.
"Pengiriman pasukan ke Gaza membutuhkan kesiapan khusus, baik dari sisi strategi, perlengkapan, hingga mitigasi risiko. Potensi gesekan dengan pasukan perlawanan di Gaza sangat besar dan tidak bisa dianggap ringan," ujar Anggota Komisi I DPR, Syamsu Rizal, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: Apa Itu International Stabilization Force (ISF)? Ini Tugas, Mandat, dan Peran Indonesia di Gaza
Komisi I DPR juga akan menggelar pertemuan khusus dengan Kementerian Pertahanan untuk membahas secara detail mandat, tujuan, aturan pelibatan (rules of engagement), serta skema perlindungan bagi prajurit TNI.
"Pertemuan ini penting agar publik mengetahui secara jelas tujuan dan mandatnya. Jangan sampai ada keputusan strategis yang minim penjelasan kepada rakyat," tegasnya.
Deng Ical juga menyoroti paparan Komandan ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers, yang menyebut pasukan akan dibagi ke lima sektor, masing-masing ditempatkan satu brigade. Dalam jangka pendek, fokus pengerahan berada di sektor Rafah bersamaan dengan pelatihan kepolisian.
Dalam rencana jangka panjang, ISF disebut menargetkan pembentukan 12.000 personel kepolisian dan 20.000 tentara ISF. Menurutnya, skema tersebut perlu dikaji secara cermat agar tidak menimbulkan persoalan kedaulatan bagi rakyat Gaza.
"Kalau melihat rencana itu, ISF akan betul-betul menguasai dan mengendalikan Gaza. Pertanyaannya, di mana kedaulatan rakyat Gaza?" ujarnya.
Baca Juga: Kehadiran Prabowo di KTT BoP Tegaskan Peran Aktif Indonesia Perjuangkan Perdamaian Gaza
Dia menegaskan, mandat pasukan stabilisasi semestinya berfokus pada menjaga perdamaian dan menciptakan rasa aman, bukan mengambil alih kendali wilayah. "Mandat pasukan stabilisasi adalah menjaga perdamaian, bukan mengambil alih kendali wilayah. Biarlah warga Gaza yang mengatur wilayah mereka sendiri," tandasnya.
Sebelumnya, Indonesia mendapatkan peran strategis di Board of Peace. Komandan International Stabilitation Force (ISF), Mayor Jenderal Angkatan Darat Jasper Jeffers mengumumkan bahwa Indonesia telah ditunjuk untuk memegang posisi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Mayor Jenderal Jasper Jeffers, dalam rapat perdana Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang berlangsung pada Jumat (20/2/2026). "Saya telah menawarkan posisi ini (wakil komandan ISF), dan Indonesia telah resmi menerimanya," kata Jasper Jeffers.
Dia juga menjelaskan Lima negara menyatakan komitmen mengirimkan pasukan untuk bergabung dalam ISF, pasukan keamanan internasional untuk Gaza yang didukung Amerika Serikat.
"Lima negara pertama yang telah berkomitmen mengirimkan pasukan ke ISF adalah Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania. Dua negara lainnya berkomitmen melatih kepolisian, yakni Mesir dan Yordania," ujar Jeffers.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








