Akurat

Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Didorong Mulai Menata Kepemimpinan Baru

Fajar Rizky Ramadhan | 4 Februari 2026, 09:15 WIB
Jelang Muktamar ke-35 NU, PBNU Didorong Mulai Menata Kepemimpinan Baru

AKURAT.CO Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), wacana pembaruan kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menguat. Mustasyar PBNU, Asyhari Abdulah Tamrin, menilai NU berada pada momentum krusial untuk melakukan koreksi dan penataan ulang arah kepemimpinan organisasi.

Menurut Asyhari, dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan gejala yang perlu disikapi secara serius. Ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga berbagai polemik yang berdampak pada persepsi publik dinilai menuntut hadirnya solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh dan berjangka panjang.

“NU berada pada momentum krusial untuk melakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan. Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir menuntut solusi kepemimpinan yang meneduhkan dan berjangka panjang,” ujar Asyhari, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga: PBNU Dukung Prabowo Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Donald Trump

Asyhari menilai, kebutuhan akan sosok kepemimpinan baru tidak dimaksudkan sebagai bentuk delegitimasi kepemimpinan yang ada, melainkan sebagai ikhtiar intelektual dan kultural demi masa depan jam’iyyah. Ia menyebut beberapa nama yang dinilai memiliki kapasitas untuk mengisi posisi strategis Ketua Umum dan Rais Aam PBNU.

Ia menyebut KH Said Aqil Siroj dan KH Abdussalam Shohib sebagai figur yang layak masuk dalam diskursus tersebut. Namun, menurut Asyhari, penyebutan nama-nama itu tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal.

“Diskursus ini bukan kampanye personal, melainkan ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama,” katanya.

Asyhari menilai konflik internal PBNU saat ini telah berkembang terlalu luas dan berpotensi menguras energi organisasi. Karena itu, dibutuhkan pendekatan baru yang lebih rekonsiliatif dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang NU.

Ia menilai KH Said Aqil Siroj memiliki modal pengalaman dan kedalaman keilmuan yang kuat. Mantan Ketua Umum PBNU tersebut dipandang mampu berperan sebagai poros rekonsiliasi dan rujukan keagamaan di tengah beragam perbedaan yang muncul di internal NU.

“KH Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang dalam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus peneduh bagi perbedaan yang berkembang,” ucapnya.

Sementara itu, KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam dinilai merepresentasikan figur pemimpin yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultural dengan basis warga nahdliyyin. Menurut Asyhari, figur seperti Gus Salam memiliki potensi besar dalam menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif.

“Gus Salam merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultural dengan basis warga NU. Ia dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif,” lanjutnya.

Lebih jauh, Asyhari menekankan bahwa penataan PBNU ke depan harus dilakukan secara profesional dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Kepemimpinan NU, menurutnya, tidak cukup hanya kuat secara simbolik, tetapi juga harus efektif dalam mengelola organisasi.

Baca Juga: Himpuh: Kuota Haji Khusus Berpotensi Tidak Terserap Penuh

Ia menyebut setidaknya ada tiga agenda strategis yang harus dijawab oleh kepemimpinan PBNU ke depan. Pertama, rekonsiliasi internal untuk menutup ruang polarisasi dan mengakhiri konflik yang menguras energi organisasi. Kedua, pembenahan organisasi melalui penguatan sistem, disiplin struktur, serta penegasan kembali fungsi PBNU sebagai pelayan jam’iyyah dan jama’ah.

“Ketiga, pemulihan nama baik NU agar kembali tampil sebagai organisasi ulama yang bermartabat, teduh, dan menjadi teladan dalam kehidupan kebangsaan,” tandas Asyhari.

Wacana ini menandai bahwa Muktamar ke-35 NU bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan rutin, melainkan momentum reflektif bagi NU untuk menata ulang arah organisasi di tengah tantangan internal dan dinamika kebangsaan yang semakin kompleks.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.