Akurat

Ponpes Tebuireng Undang KH Miftachul Akhyar, Gus Yahya dan Gus Ipul

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Desember 2025, 07:15 WIB
Ponpes Tebuireng Undang KH Miftachul Akhyar, Gus Yahya dan Gus Ipul

AKURAT.CO Menurut keterangan NU Online, Pondok Pesantren Tebuireng akan mengundang unsur Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk bersilaturahmi di Ndalem Kasepuhan Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (6/12/2025).

Informasi itu tertuang dalam dua surat berbeda dengan nomor surat yang sama, 2312/I/HM/0001/PENG/XII/2025, ditandatangani KH Abdul Hakim Mahfudz dan KH Umar Wahid sebagai sohibul hajat.

Dalam surat tersebut tertulis, “Menindaklanjuti pertemuan para sesepuh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada Ahad 30 November 2025, dengan ini kami bermaksud mengundang panjenengan.”

Kedua surat memuat agenda yang berbeda dan ditujukan pada kelompok yang berbeda pula. Satu surat ditujukan untuk agenda Silaturrahim Mustasyar dengan Rais Aam PBNU, sementara surat lainnya ditujukan untuk Silaturrahim Mustasyar dengan Ketua Umum.

Keterangan NU Online menjelaskan bahwa pertemuan bersama Rais Aam, KH Miftachul Akhyar, dijadwalkan pukul 10.00–12.00 WIB. Undangan untuk agenda ini memuat 13 Mustasyar PBNU, tiga Syuriyah—yakni KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Anwar Iskandar—serta dua Tanfidziyah, yaitu H Saifullah Yusuf dan H Gudfan Arif.

Sementara itu, agenda bersama Ketua Umum PBNU digelar pukul 13.00–15.00 WIB. Daftar undangannya memuat 30 Mustasyar PBNU, tiga Syuriyah—KH Muadz Thohir, KH Abdul Ghofur Maimoen, dan KH Ahmad Said Asrori—serta dua Tanfidziyah, yakni KH Yahya Cholil Staquf dan H Amin Said Husni.

Baca Juga: Wasekjen PBNU: Gus Yahya Sudah Tak Berhak Mengatasnamakan Ketum PBNU

NU Online juga menghubungi sohibul hajat, KH Umar Wahid, untuk dimintai penjelasan terkait alasan pertemuan digelar di Tebuireng. “Benar,” ujarnya saat dikonfirmasi. Ia menyampaikan bahwa Tebuireng dipilih karena memiliki kedekatan historis dengan para pendiri NU.

“Salah satu yang harus kita ingat adalah para pendiri NU: Kiai Hasyim, Kiai Bisri, dan beberapa kiai lain itu mendirikan NU dengan satu tujuan yang mulia, dengan tujuan kepentingan umat,” jelasnya melalui telepon.

Ia menambahkan harapannya agar pertemuan tersebut membawa kesejukan bagi seluruh pihak.

“Mungkin sebagian besar rakyat Indonesia berharap bahwa NU ini bisa tetap menjadi jangkar. Kita berharap NU bisa jadi jangkar, orang mau agamanya apa, suku bangsanya apa, semuanya ingin NU tetap menjadi jangkar karena sejarah membuktikan bahwa NU sudah bisa menjadi jangkar. Masa gara-gara urusan begini, urusan sepele dibanding dengan kebesaran NU, kita jadi ribut,” katanya.

Surat undangan untuk pertemuan bersama Rais Aam mencantumkan nama-nama Mustasyar, seperti KH A Mustofa Bisri, Prof Dr KH Ma’ruf Amin, KH Nurul Huda Djazuli, KH Anwar Manshur, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Nyai Hj Shinta Nuriyah A Wahid, KH Fuad Nurhasan, KH Muhtadi Dimyathi, KH Ulin Nuha Arwani, KH Jirjis Ali Maksum, KH Muhammad Nuh Ad-Dawami, KH Abdullah Ubab Maimoen, serta Dr Muhammad.

Adapun daftar Mustasyar pada undangan untuk pertemuan dengan Ketua Umum berjumlah lebih banyak, mencapai 30 nama. Beberapa di antaranya yakni KH A Mustofa Bisri, Prof Dr KH Ma’ruf Amin, KH Nurul Huda Djazuli, KH Anwar Manshur, Habib Lutfi bin Yahya, TGH LM Turmudzi Badaruddin, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Nyai Hj Shinta Nuriyah A Wahid, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, KH Taufiqurrahman Subkhi, KH Fuad Nurhasan, KH Muhtadi Dimyathi, KH Ulin Nuha Arwani, KH Muhammad Romli, AGH Dr Baharuddin HS, KH Jirjis Ali Maksum, KH Bunyamin Muhammad, Syaikh H Hasanoel Basri HG, KH As’ad Said Ali, Prof Dr KH Maschasin, Prof Dr KH Artani Hasbi, AGH Habib Abdurrahman Assegaf, KH Muhammad Nuh Ad-Dawami, KH Abdulah Ubab Maimoen, KH Zakky Mubarok, KH Husein Muhammad, KH Mustafa Bakri Nasution, KH Abdul Kadir Makarim, Dr Muhammad A.S Hikam, dan H Herman Deru.

Keterangan NU Online menegaskan bahwa keseluruhan kegiatan tersebut disiapkan untuk mempertemukan para pihak dalam suasana silaturahmi, dengan harapan dapat meredakan ketegangan internal dan mengembalikan situasi kepada khittah persatuan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.