Akurat

Ulil Abshar Abdalla Dirujak Netizen Pasca Bencana Alam di Sumatera

Fajar Rizky Ramadhan | 3 Desember 2025, 11:51 WIB
Ulil Abshar Abdalla Dirujak Netizen Pasca Bencana Alam di Sumatera

AKURAT.CO Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla, tengah menghadapi gelombang serangan publik di tengah maraknya bencana ekologis yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam unggahan di akun Facebook @ulil67, ia mengakui menerima respons negatif tanpa henti sejak beberapa hari terakhir.

“Dari kemaren hingga pagi ini saya mendapat serangan. Dibombardir telp dan wa ndak berhenti-berhenti,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa seluruh pesan yang masuk bernada ancaman dan hujatan. “Isinya makian dan ancaman. Sekian, harap maklum,” kata Ulil.

Serangan publik ini menguat setelah netizen kembali mengunggah cuplikan perdebatan Ulil dengan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, yang tayang di Kompas TV pada 12 Juni 2025. Video itu kembali viral tepat di saat isu kerusakan lingkungan menjadi sorotan pasca rangkaian bencana di Sumatera.

Baca Juga: Polemik PBNU, Presidium Penyelamat Organisasi Hormati Rencana Syuriyah Tunjuk Pejabat Ketua Umum

Dalam wawancara tersebut, Iqbal mempertanyakan apakah ada satu saja konsesi tambang atau pembalakan hutan yang berhasil mengembalikan lingkungan ke kondisi awal. “Tunjukkan satu saja ada konsesi yang berhasil mereklamasi, mereboisasi, kembali ke ekosistem awal,” ujar Iqbal.

Ulil menanggapi pertanyaan itu dengan mempertanyakan urgensi pengembalian ekosistem. “Kenapa anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal,” tanyanya, yang kemudian memicu reaksi publik.

Iqbal menjawab bahwa ekosistem adalah fondasi kehidupan manusia dan wajib dipulihkan. “Karena kita butuh, Gus. Dan itu wajib,” ujarnya.

Perdebatan memanas ketika Ulil menuding cara pandang para aktivis lingkungan sebagai “Wahabisme Lingkungan”. Ia menyebut kelompok tersebut terlalu puritan dalam menjaga “kemurnian ekosistem”, sama seperti pandangan puritan dalam tradisi keagamaan. “Wahabisme itu, orang wahabi itu begitu kepinginnya menjaga kemurnian teks… puritanisme teks itu adalah wahabi,” kata Ulil.

Ulil juga berpendapat bahwa eksploitasi alam merupakan bagian dari dinamika sejarah, dan bahwa pertambangan serta sumber daya ekstraktif adalah anugerah Tuhan untuk dimanfaatkan secara ekonomi. Ia mencontohkan perubahan lahan masa kecilnya yang kini menjadi permukiman sebagai bentuk perkembangan sosial yang wajar.

Namun Iqbal menilai argumen tersebut tidak sebanding. Ia mengingatkan bahwa industrialisasi memiliki daya rusak jauh lebih cepat dibanding proses alamiah atau kebutuhan manusia biasa. Iqbal juga menegaskan bahwa kapasitas deforestasi Indonesia sudah melewati batas berkelanjutan. “Kuota deforestasi kita itu sudah lebih kecil dari yang sudah terdeforestasi. Nggak ada ruang, Gus,” kata Iqbal.

Baca Juga: ESDM Bebaskan Pembelian BBM Tanpa Barcode di Daerah Bencana

Ia menekankan perlunya pembatasan eksploitasi agar generasi mendatang tetap memiliki warisan ekologis. “Ada batas atas, tidak semua hal harus kita ekstraksi… Ada juga anugerah di muka bumi yang menjadi nikmat dan harus kita wariskan kepada anak cucu kita,” ujarnya.

Naiknya kembali video ini membuat pernyataan-pernyataan Ulil disorot luas oleh publik, terutama di tengah meningkatnya kesadaran ekologis pasca bencana. Respons netizen pun membeludak, memicu gelombang kritik yang kini diakui langsung oleh Ulil dalam pernyataannya di media sosial.

Kasus ini kembali menempatkan perdebatan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dalam spotlight nasional, terutama di tengah sorotan publik terhadap tata kelola hutan dan pertambangan yang dianggap berkontribusi pada bencana alam di Sumatera.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.