Akurat

Nono Sampono dan Makna Penghargaan yang Tak Sekadar Plakat

Oktaviani | 12 November 2025, 09:53 WIB
Nono Sampono dan Makna Penghargaan yang Tak Sekadar Plakat

AKURAT.CO Di ruang berbalut cahaya hangat Balaikota Jakarta, nama Nono Sampono, kembali disebut dengan hormat.

Kali ini bukan di medan operasi atau ruang sidang lembaga negara, melainkan di panggung penghargaan Jakarta Investment Award (JIA) 2025.

Namun, bagi Nono, penghargaan itu bukan sekadar simbol prestasi bisnis, melainkan bentuk amanah, sebuah panggilan moral bagi seorang pemimpin yang masih memandang kerja ekonomi sebagai bentuk pengabdian.

“Penghargaan ini adalah amanah untuk terus berkontribusi, menciptakan iklim usaha yang sehat, produktif, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi bangsa,” kata Nono usai menerima penghargaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Senin (10/11/2025).

Sebagai Presiden Direktur Agung Sedayu Group (ASG), Nono menerima penghargaan tersebut atas kontribusi investasi terbesar yang direalisasikan PT Duta Graha Karya sepanjang 2024, mencakup sektor transportasi, gedung, dan telekomunikasi.

Investasi itu masuk melalui skema Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), yang dinilai memberi efek ganda bagi perekonomian.

Bagi pria yang pernah berkarier panjang di Korps Marinir ini, bisnis bukan sekadar hitung-hitungan laba.

Ia memaknainya sebagai cara lain untuk menegakkan tanggung jawab sosial dan nasionalisme.

Dalam wawancara singkat usai acara, Nono berbicara dengan nada tegas namun tenang, seperti seorang prajurit yang masih membawa etos disiplin dalam dunia korporasi.

Ia menegaskan, penghargaan itu bukan sekadar pengakuan, melainkan panggilan tanggung jawab bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah.

Dengan ekosistem investasi yang kondusif, kata dia, realisasi investasi akan semakin meningkat dan memperkuat posisi Jakarta sebagai etalase ekonomi nasional.

Nono menyadari, keberhasilan dunia usaha tak lepas dari perbaikan sistem birokrasi.

Ia menyoroti peringkat Jakarta yang kini berada di urutan ke-17 dunia terkait kualitas infrastruktur publik, sebuah modal penting untuk memperkuat pelayanan perizinan, reformasi kebijakan, dan percepatan investasi.

“Melalui investasi yang tepat, kita dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat pembangunan, dan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa penghargaan JIA bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari perubahan paradigma pelayanan investasi di Jakarta.

Ia mencontohkan reformasi kebijakan terkait Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang kini bisa diselesaikan hanya dalam 15 hari, dari sebelumnya bisa mencapai 12 tahun.

“Yang dulu menjadi momok pengusaha properti itu namanya KLB. Sekarang, ibu atau bapak urus, saya jamin 15 hari sudah selesai,” ujar Pramono.

Pernyataan itu disambut positif oleh kalangan dunia usaha, termasuk Nono, yang menilai reformasi tersebut sebagai bukti keseriusan Jakarta memperbaiki iklim investasi.

Di bawahnya, kerja-kerja konkret dilakukan: dari penyederhanaan perizinan hingga penguatan tata kelola yang transparan, seperti yang menghasilkan pemasukan Rp453 miliar untuk pembangunan fasilitas publik kota.

Bagi Nono, penghargaan Jakarta Investment Award bukan puncak, melainkan pengingat. Bahwa di balik setiap angka investasi, ada nilai kemanusiaan yang mesti dijaga, lapangan kerja yang terbuka, keluarga yang lebih sejahtera, dan kota yang lebih hidup.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.