Jusuf Kalla Respons Tragedi SMA 72: Jangan Main-main dengan Bullying di Sekolah

AKURAT.CO Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah tidak boleh dibiarkan dalam bentuk apa pun.
Ia menilai tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak serius, termasuk tragedi seperti ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara yang diduga berawal dari kasus perundungan.
“Ya itu diperingatkan, jangan main-main dengan bullying,” tegas JK saat ditemui di kompleks DPR/MPR RI, Senin (10/11/2025).
Menurut JK, dunia pendidikan harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pihak, terutama dalam hal pembinaan karakter dan pengawasan terhadap perilaku siswa di sekolah.
“Ya ini soal pendidikan penting,” ujarnya menekankan.
JK juga berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap secara tuntas motif di balik peristiwa ledakan tersebut.
“Ada motifnya masih didalami, belum tentu juga seperti itu,” katanya.
Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri melaporkan bahwa total korban luka akibat ledakan di SMAN 72 mencapai 54 orang.
Baca Juga: Siapa Penemu Roda? Sejarah Panjang di Balik Salah Satu Inovasi Terpenting Dunia
Para korban mengalami luka ringan hingga sedang, sebagian lainnya menderita luka bakar, luka akibat serpihan, dan gangguan pendengaran.
Dua rumah sakit yang menjadi rujukan utama korban adalah RS Islam Cempaka Putih dan RS Yarsi Jakarta.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menambahkan bahwa empat korban di antaranya harus menjalani operasi akibat luka parah di bagian rahang, kepala, dan wajah.
Pihak TNI AL bersama kepolisian masih menyelidiki penyebab dan kronologi ledakan tersebut, termasuk memastikan jumlah korban secara akurat.
Terduga pelaku ledakan diketahui merupakan seorang siswa SMAN 72 Jakarta berusia 17 tahun.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, pelaku diduga menjadi korban perundungan oleh rekan-rekannya di sekolah.
Seorang siswa bernama Sena menyebut pelaku sempat menunjukkan tanda-tanda depresi dan diduga ingin melakukan aksi balas dendam serta bunuh diri.
Saksi lain, berinisial Z, mengungkapkan bahwa pelaku dikenal pendiam, sering menyendiri sejak kelas XI, dan memiliki ketertarikan pada gambar serta video bernuansa kekerasan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa penyelidikan terhadap identitas, latar belakang, dan lingkungan sosial pelaku masih terus dilakukan secara mendalam.
Baca Juga: Honduras U-17 vs Indonesia U-17: Nova Arianto Instruksikan Pemainnya Tampil Lebih Menyerang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










