Akurat

Liputan Trans7 Soal Pesantren Tuai Kritik, Akademisi UIN Minta Media Lebih Beretika

Ahada Ramadhana | 14 Oktober 2025, 23:39 WIB
Liputan Trans7 Soal Pesantren Tuai Kritik, Akademisi UIN Minta Media Lebih Beretika

AKURAT.CO Salah satu program televisi Trans7 yang menyorot kehidupan pesantren menuai kritik luas setelah dinilai menampilkan gambaran yang sepihak dan berpotensi menimbulkan kesan negatif terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut.

Menjelang peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober mendatang, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menilai polemik ini harus dijadikan momentum untuk memperkuat literasi publik tentang pesantren di Indonesia.

“Pesantren hari ini bukan lembaga tertinggal. Banyak santri yang berkiprah sebagai akademisi, profesional, dan pemimpin publik. Ini bukti bahwa pesantren adalah lembaga yang adaptif sekaligus berakar kuat pada nilai keislaman,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/10/2025).

Menurut Tholabi, tayangan tersebut berpotensi membentuk stigma dan persepsi keliru tentang pesantren.

Ia menilai liputan itu mengabaikan konteks historis dan kultural pesantren sebagai lembaga pendidikan yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.

“Liputan semacam itu seharusnya tidak dibangun dengan sudut pandang yang pejoratif. Pesantren memiliki nilai dan filosofi yang khas, yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan model pendidikan modern Barat,” katanya.

Tholabi menegaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan sekaligus institusi sosial dan kultural yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa.

Baca Juga: Pengamat Nilai PSI Terlalu Sibuk dengan Gimik, Minim Ideologi dan Program untuk Publik

“Banyak pemimpin nasional, pejabat, dan cendekiawan lahir dari pesantren. Mereka membawa nilai keikhlasan, disiplin, serta tanggung jawab sosial yang menjadi karakter khas pendidikan pesantren,” tuturnya.

Ia menjelaskan, sistem pendidikan pesantren tidak dapat diukur dengan standar pendidikan Barat yang menitikberatkan pada rasionalitas dan efisiensi.

“Filosofi pendidikan pesantren berakar pada spiritualitas dan adab. Hubungan antara kiai dan santri adalah hubungan ruhani yang membentuk moralitas dan karakter, bukan sekadar relasi akademik,” jelasnya.

Lebih jauh, Tholabi mengingatkan pentingnya tanggung jawab sosial media dalam mencerdaskan masyarakat.

Prinsip cover both sides harus menjadi pedoman agar pemberitaan tetap berimbang, etis, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh tayangan yang bersifat sensasional.

“Perlu dilakukan tabayyun dan verifikasi agar tidak terjadi penilaian yang keliru terhadap pesantren,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Tholabi mendorong Kementerian Agama, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), serta organisasi masyarakat untuk bersinergi memperkuat narasi positif mengenai pesantren.

“Kita perlu menciptakan ruang yang kondusif agar pesantren terus berkembang sebagai lembaga pendidikan bermutu dan pencetak kader terbaik bangsa,” katanya.

Menanggapi kritik publik tersebut, Trans7 akhirnya menyampaikan permohonan maaf resmi melalui surat tertanggal 13 Oktober 2025 yang ditujukan kepada Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Dalam surat itu, pihak Trans7 menyatakan penyesalan atas ketidaknyamanan yang timbul serta berkomitmen untuk lebih berhati-hati dan menghadirkan tayangan yang menonjolkan nilai positif dan keteladanan kehidupan pesantren di Indonesia.

Baca Juga: Empat Saksi Mangkir dari Pemeriksaan KPK Terkait Kasus Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.