Akurat

Metode Psikososial sebagai Trauma Healing untuk Korban Ponpes Al Khoziny

Ahada Ramadhana | 4 Oktober 2025, 21:25 WIB
Metode Psikososial sebagai Trauma Healing untuk Korban Ponpes Al Khoziny

AKURAT.CO Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengapresiasi langkah Dinas Sosial Jawa Timur yang memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) kepada korban maupun keluarga korban Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo, khususnya anak-anak reruntuhan. 

"Kami sangat mengapresiasi langkah proaktif dan cepat tanggap Provinsi Jawa Timur, khususnya Dinas Sosial yang secara terus menerus memberikan layanan dukungan psikososial kepada korban dan keluarga korban sejak hari pertama bangunan pondok pesantren runtuh hingga kini," kata Arifah, Sabtu (4/10/2025).

Menurutnya, layanan ini memiliki makna yang luar biasa bagi korban maupun keluarga korban, karena menyentuh sisi paling dasar dari pengalaman manusia ketika menghadapi krisis atau bencana.

Baca Juga: Cak Imin Angkat Santri Korban Ambruknya Mushala Al-Khoziny Jadi Anak Angkat

Terlebih bagi anak-anak, mengalami atau menyaksikan tragedi seperti ini dapat menimbulkan rasa takut, bingung, bahkan trauma yang bisa mengganggu tumbuh kembang mereka.

Salah satu aktivitas yang dilakukan di Posko LDP Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang difokuskan untuk anak-anak adalah Pojok Bermain. Aktivitas tersebut merupakan salah satu upaya trauma healing, melalui terapi permainan sebagai sarana psikososial bagi anak-anak. 

"Anak-anak cenderung mengekspresikan perasaannya lewat permainan dibandingkan percakapan langsung. Oleh karena itu, terapi permainan menjadi salah satu metode dukungan psikososial yang efektif untuk membantu anak-anak pulih dari dampak trauma yang dirasakannya," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiani, mengemukakan bahwa di Pojok Bermain, anak-anak diajak untuk melakukan permainan fisik, permainan kreatif atau seni, permainan drama, permainan relaksasi, hingga nyanyian dan ice breaking.

Melalui Pojok Bermain, anak-anak diharapkan dapat kembali menjalani rutinitas positif, merasa aman, lebih banyak mengekspresikan emosi, dan menumbuhkan harapan serta kemandirian.

"Tragedi ini tentu saja akan meninggalkan luka yang luar biasa baik secara fisik maupun psikologis, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban dan keluarga korban. Dukungan psikososial bagi anak-anak tidak hanya penting untuk pemulihan sesaat, tetapi juga menjadi fondasi agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional, sosial, dan mental. Dengan pendampingan yang tepat, kami yakin bahwa luka batin anak dapat pulih, dan mereka bisa melanjutkan perjalanan hidupnya kembali tanpa kehilangan semangat masa kecilnya," jelas Novi.

Baca Juga: Hari Ke-5 Pasca Ambruknya Mushola Pesantren Al-Khoziny, 49 Orang Belum Ditemukan

Dalam kesempatan tersebut, Arifah menyerahkan paket bantuan spesifik anak untuk usia 0-11 bulan, 1-4 tahun, 5-12 tahun, dan 13-18 tahun bagi anak-anak korban reruntuhan bangunan mushola di Pondok Pesantren Al-Khoziny.

Dia pun mendorong seluruh pihak, baik dari pemerintah pusat, daerah, lembaga sosial, masyarakat sipil, hingga donatur untuk terus berkolaborasi dalam upaya koordinasi dan monitoring pemulihan tragedi serta mewujudkan lingkungan Pesantren Ramah Anak yang aman, sehat, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

"Saya berharap melalui tragedi ini, seluruh pemangku urusan yang terlibat semakin memperkuat tekad untuk mewujudkan Pesantren Ramah Anak, di mana hak-hak anak terpenuhi, terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi, serta turut melibatkan anak dalam proses pendidikan dan tata kelola pesantren," tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.