Akurat

Kronologi Lengkap Mahasiswa Baru Unsri Dipaksa Cium Kening Senior

Naufal Lanten | 24 September 2025, 13:50 WIB
Kronologi Lengkap Mahasiswa Baru Unsri Dipaksa Cium Kening Senior
 

AKURAT.CO Sebuah video yang memperlihatkan mahasiswa baru Universitas Sriwijaya (Unsri) dipaksa saling mencium kening oleh senior mendadak viral di media sosial. Rekaman berdurasi singkat itu memicu kemarahan warganet karena dianggap sebagai bentuk perpeloncoan yang tidak pantas lagi dilakukan di lingkungan perguruan tinggi. Dalam tayangan tersebut, puluhan mahasiswa baru duduk berhadap-hadapan dan dipasangkan laki-laki dengan laki-laki serta perempuan dengan perempuan. Seorang senior terdengar memberi perintah agar peserta saling mencium kening, sementara tawa dan sorakan menyertai aksi tersebut.

Video yang diunggah ke sejumlah akun media sosial itu langsung menyebar luas dan ditonton ratusan ribu kali. Mayoritas warganet mengecam kegiatan tersebut, menilai aksi tersebut bukan bagian dari pembinaan melainkan pelecehan terhadap martabat mahasiswa baru.


Kronologi Kejadian di Fakultas Pertanian Unsri

Peristiwa memalukan itu terjadi pada Sabtu, 20 September 2025, dalam acara Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMATETA) di Fakultas Pertanian Unsri. Acara bertajuk Tekper Cleaning awalnya direncanakan sebagai kegiatan gotong royong. Namun, setelah sesi resmi selesai, kegiatan berubah menjadi ajang perintah yang tidak pantas.

Menurut keterangan pihak kampus, aksi saling mencium kening itu berlangsung di luar jadwal resmi. Pembina kegiatan yang kembali masuk ke ruangan mendapati prosesi tersebut sudah terjadi. Fakultas menegaskan bahwa pengawasan sebenarnya telah disiapkan sesuai surat tugas, namun insiden berlangsung setelah agenda resmi berakhir sekitar pukul 15.30 WIB.

Ketua HIMATETA, Ivandi Cesario Amar, mengakui kegiatan tersebut memang benar terjadi dan menyampaikan permintaan maaf. Ia mengaku tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang dari aksi tersebut dan menyatakan siap menerima konsekuensi yang diberikan pihak universitas.


Respons Cepat Kampus dan Sanksi yang Dijatuhkan

Permintaan maaf tidak serta-merta meredakan kemarahan publik. Pihak Universitas Sriwijaya bergerak cepat dengan menjatuhkan sanksi tegas. HIMATETA resmi dibekukan selama satu tahun penuh karena dianggap melanggar Surat Edaran Rektor Nomor 0003/UN9/SE.BAK.KM/2025 tentang larangan perundungan, perpeloncoan, dan pelecehan seksual.

Sekretaris Rektor Unsri, Prof. Dr. Alfitri M.Si., menegaskan bahwa selain pembekuan organisasi, sanksi individu yang terlibat juga sedang dipertimbangkan. Jika terbukti melakukan pelanggaran berat, mahasiswa yang bersangkutan berpotensi mendapat sanksi lebih keras, termasuk pemecatan.


Sikap Tegas BEM Unsri dan Dukungan untuk Korban

Di tengah maraknya sorotan publik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsri mengambil sikap tegas menolak segala bentuk kekerasan, perundungan, dan perpeloncoan. BEM meluncurkan hotline pengaduan darurat yang dapat digunakan mahasiswa baru untuk melaporkan tindak kekerasan atau pelecehan di lingkungan kampus. Mereka juga membuka layanan konseling bagi korban untuk memastikan pemulihan mental dan rasa aman.

BEM menegaskan bahwa kegiatan orientasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang edukasi dan pembinaan karakter, bukan ajang intimidasi. Seruan ini diharapkan menjadi momentum untuk memutus budaya senioritas yang masih bertahan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.


Sorotan Publik dan Pentingnya Reformasi Budaya Kampus

Kasus ini menjadi perhatian nasional karena kembali mengingatkan masyarakat bahwa praktik perpeloncoan masih ada meski sudah dilarang. Banyak pihak mendesak kampus untuk memperketat pengawasan setiap kegiatan kemahasiswaan agar kejadian serupa tidak terulang.

Langkah tegas Universitas Sriwijaya dalam memberikan sanksi dan dukungan kepada korban mendapat apresiasi luas. Publik berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh perguruan tinggi untuk memastikan ospek atau kegiatan orientasi benar-benar menjadi sarana pembelajaran, bukan ajang pelecehan.


Penutup

Kasus perpeloncoan di Universitas Sriwijaya menjadi pengingat bahwa pembinaan mahasiswa baru harus mengedepankan nilai edukasi, bukan kekerasan atau penghinaan. Dengan adanya sanksi tegas, pembekuan organisasi, serta dukungan kepada korban, diharapkan budaya negatif seperti ini bisa benar-benar dihentikan. Pantau terus perkembangan kasus ini dan langkah-langkah lanjutan pihak kampus untuk memastikan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat.

Baca Juga: Agama dan Profil Lengkap Zendhy Kusuma, Musisi yang Viral karena Tidak Mau Bayar Restoran

Baca Juga: Profil Widiyanti Putri Wardhana, Menpar yang Viral Usai Mandi Pakai Air Galon di Labuan Bajo


FAQ 

1. Apa yang sebenarnya terjadi di Universitas Sriwijaya (Unsri)?
Mahasiswa baru Fakultas Pertanian Unsri dipaksa oleh senior untuk saling mencium kening dalam sebuah kegiatan Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMATETA). Aksi itu terekam video dan viral di media sosial, memicu kecaman luas karena dianggap sebagai perpeloncoan.

2. Kapan dan di mana insiden ini berlangsung?
Peristiwa terjadi pada Sabtu, 20 September 2025, saat kegiatan bertajuk Tekper Cleaning di Fakultas Pertanian Unsri. Insiden berlangsung setelah jadwal resmi acara selesai.

3. Apa tujuan awal kegiatan yang berujung perpeloncoan ini?
Kegiatan awalnya merupakan acara gotong royong antar mahasiswa. Namun setelah kegiatan resmi selesai, beberapa senior mengarahkan mahasiswa baru melakukan prosesi mencium kening yang tidak pantas.

4. Siapa pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini?
Ketua HIMATETA, Ivandi Cesario Amar, mengakui kegiatan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf. Namun pihak universitas menegaskan bahwa sanksi bisa diberikan tidak hanya kepada organisasi, tetapi juga individu yang terbukti melanggar aturan.

5. Sanksi apa yang dijatuhkan oleh pihak kampus?
Universitas Sriwijaya membekukan aktivitas HIMATETA selama satu tahun penuh. Selain itu, mahasiswa yang terlibat dapat dikenai sanksi tambahan, termasuk kemungkinan pemecatan jika terbukti melakukan pelanggaran berat.

6. Bagaimana tanggapan BEM Unsri terkait kasus ini?
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsri mengecam tindakan perpeloncoan dan menolak segala bentuk kekerasan. Mereka membuka hotline pengaduan serta layanan konseling bagi mahasiswa baru yang menjadi korban agar mendapatkan perlindungan dan pemulihan psikis.

7. Apakah kegiatan ini termasuk dalam agenda resmi kampus?
Tidak. Menurut pihak fakultas, insiden terjadi setelah acara resmi selesai. Meski pengawasan telah disiapkan, kegiatan tidak pantas itu berlangsung di luar jadwal yang telah ditetapkan.

8. Mengapa kasus ini menjadi sorotan nasional?
Kasus ini menyoroti masih adanya budaya senioritas dan perpeloncoan di perguruan tinggi meski sudah ada larangan resmi. Publik mendesak kampus untuk memperketat pengawasan agar insiden serupa tidak terulang.

9. Apa langkah pencegahan yang disiapkan kampus ke depan?
Pihak universitas berkomitmen memperketat pengawasan kegiatan kemahasiswaan dan menindak tegas setiap bentuk perundungan, perpeloncoan, maupun pelecehan seksual sesuai peraturan rektor yang berlaku.

10. Apa pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini?
Kasus ini menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, edukatif, dan bebas dari kekerasan. Orientasi mahasiswa seharusnya menjadi sarana pembinaan karakter, bukan ajang intimidasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.