Akurat

Tito Minta Daerah dengan Inflasi Tinggi Perkuat Koordinasi dengan BPS dan Bulog

Siti Nur Azzura | 23 September 2025, 21:43 WIB
Tito Minta Daerah dengan Inflasi Tinggi Perkuat Koordinasi dengan BPS dan Bulog

AKURAT.CO Pemerintah daerah yang memiliki tingkat inflasinya tinggi, diminta untuk memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, seperti Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Bulog.

Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan koordinasi ini dibutuhkan terutama untuk menemukan penyebab kenaikan inflasi sekaligus langkah pengendaliannya.

Dia mencatat, capaian inflasi nasional saat ini relatif terkendali sebesar 2,31 persen secara year on year pada Agustus 2025. Capaian tersebut sejalan dengan target ideal pemerintah, yakni menjaga inflasi pada rentang 2,5 persen plus minus 1 persen.

Baca Juga: Pasar AS Menguat, Risiko Inflasi Bayangi Kebijakan The Fed

Dia menegaskan, angka inflasi tidak boleh terlalu rendah maupun terlalu tinggi. Inflasi yang terlalu rendah, misalnya di bawah 1 persen, akan menyulitkan produsen seperti petani, nelayan, dan pelaku industri karena harganya tidak mampu menutup biaya produksi.

Namun sebaliknya, inflasi di atas 3,5 persen juga akan merugikan masyarakat sebagai konsumen karena harga kebutuhan terlalu tinggi.

"Keseimbangan antara menyenangkan produsen dan menyenangkan konsumen. Sehingga di angka 2,31 persen ini adalah angka yang sangat bagus sekali," jelas Mendagri, di  Jakarta, Selasa (23/9/2025).

Namun, ada beberapa daerah dengan tingkat inflasi di atas 3,5 persen, seperti Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, Aceh, Riau, dan Sulawesi Barat. Untuk itu, dia mendorong agar kepala daerah lebih intens melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

"Tolong duduk bersama dengan BPS setempat, kemudian Bulog, kemudian juga dengan Bank Indonesia yang ada di sana, perwakilan, bila perlu dengan asosiasi pengusaha, seperti Kadin atau Apindo untuk mencari penyebabnya apa," pesannya. 

Menurutnya, tingginya inflasi di suatu daerah bisa dipengaruhi banyak faktor. Antara lain keterbatasan pasokan bahan pangan, kenaikan harga yang diatur pemerintah seperti tarif air minum, hingga masalah distribusi akibat cuaca atau hambatan logistik.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.467 Imbas Rendahnya Inflasi Produsen AS

Bahkan, tidak menutup kemungkinan adanya praktik penimbunan barang oleh oknum tertentu. "Itulah perlunya kita melakukan evaluasi," jelasnya.

Di sisi lain, dia juga menyoroti perkembangan sejumlah komoditas yang mempengaruhi Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada minggu ketiga September 2025. Harga bawang merah mengalami tren penurunan signifikan.

Dari 309 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami kenaikan pada minggu ketiga Agustus 2025, kini hanya tersisa 31 daerah pada minggu ketiga September 2025. Sementara itu, terdapat 303 kabupaten/kota yang justru mengalami penurunan harga bawang merah pada periode yang sama.

"Ini yang menarik dan perlu diketahui apakah memang konsumsinya yang berkurang, kayaknya enggak. Atau mungkin karena sudah terjadi pemerataan distribusi," katanya.

Tak hanya itu, komoditas beras turut menjadi perhatian utama. Tito menjelaskan, operasi pasar yang digelar bersama Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) berhasil menekan lonjakan harga di banyak daerah.

Pada minggu keempat Agustus 2025 kenaikan harga beras terjadi di 214 daerah. Namun, pada minggu ketiga September 2025, kenaikan tersebut tercatat hanya terjadi di 106 daerah. Jumlah daerah yang mengalami penurunan harga beras pun meningkat.

Kendati demikian, terdapat sejumlah komoditas yang masih perlu diwaspadai karena tren kenaikannya cukup tinggi. Komoditas itu antara lain cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.