Akurat

Sinergi Pemerintah dan Industri Bangun Ekosistem Hijau Lewat Bambu

Rizky Dewantara | 20 September 2025, 18:33 WIB
Sinergi Pemerintah dan Industri Bangun Ekosistem Hijau Lewat Bambu

AKURAT.CO Forum Bumi menggelar mendorong pemanfaatan bambu untuk ekomomi, melalui diskusi dengan tema 'Mendorong Arah Kebijakan Pelestarian dan Pemanfaatan Bambu sebagai Solusi untuk Ketahanan Ekosistem, Ekonomi, dan Sosial'.

Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor industri, hingga organisasi lingkungan untuk membahas strategi pengelolaan bambu sebagai sumber daya berkelanjutan.

Bambu memiliki keunggulan ekologis yang luar biasa. Kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO₂) 1–2 kali lebih tinggi dibandingkan pohon kayu menjadikannya tanaman dengan peran penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Baca Juga: China Terseret Perang Baru, Trump Kenakan Tarif ke Kapal Buatan Negeri Tirai Bambu

Tidak hanya itu, bambu juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah melalui biochar yang memiliki banyak manfaat bagi lingkungan.

Lebih luas lagi, pemanfaatan bambu di sektor energi ini juga membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja hijau berbasis sumber daya lokal.

Meski potensinya besar, produktivitas bambu di Indonesia masih terbilang rendah. Sebagian besar pasokan masih bergantung pada bambu alam, dengan hasil panen rata-rata hanya sekitar 2–6 ton per hektar.

Kondisi ini menjadi tantangan yang perlu dijawab, agar bambu bisa benar-benar dioptimalkan sebagai komoditas unggulan.

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Haruki Agustina, menyoroti peran bambu dalam mendukung target iklim nasional.

"Target National Determined Contribution (NDC) Indonesia tahun 2030 adalah menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri. Bambu dapat berperan penting melalui kapasitasnya sebagai carbon sink, sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem dan sosial di tingkat lokal," kata Haruki, dikutip Sabtu (20/9/2025). 

Baca Juga: Jaro Ade: Bambu Adalah Solusi Ekologi, Ekonomi, dan Sosial untuk Masa Depan

Dalam ranah industri, peluang ekonomi dari bambu pun sangat menjanjikan. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa pasar global produk berbasis bambu diproyeksikan tumbuh dari USD 74 miliar pada 2024 menjadi USD 118,3 miliar pada 2034.

Indonesia sendiri saat ini berada di peringkat 12 besar dunia dengan pangsa pasar sebesar 0,9 persen. Pertumbuhan pasar produk bambu nasional diprediksi meningkat rata-rata 6,2 persen setiap tahun pada periode 2020–2028.

Keunggulan lain, bambu tumbuh jauh lebih cepat dibanding kayu: dalam 3–5 tahun sudah dewasa dan dapat dipanen dalam kurun 4–7 tahun. Artinya, bambu mampu menjawab kebutuhan bahan baku berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah di pasar global.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan bambu dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari furnitur, tekstil, hingga material ramah lingkungan yang dapat bersaing di pasar global.

"Kementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan bambu sebagai bagian dari substitusi bahan baku kayu, sekaligus mendukung penguatan industri hijau nasional," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI, Rika Anggraini, menekankan bahwa bambu adalah bagian dari identitas budaya sekaligus penopang ketahanan sosial.

Baca Juga: Indonesia Soroti Potensi NEV di Forum Industri ASEAN–China

"Indonesia memiliki sekitar 175 jenis bambu, dan 50% di antaranya endemik. Sejak 2012, kami terus mendukung pelestarian bambu berbasis masyarakat di Jawa Barat, Bali, NTB, dan NTT. Bambu bukan hanya sekadar sumber daya alam, melainkan juga identitas budaya dan penopang ketahanan sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelas Rika.

Dari sisi dunia usaha, Fransiska Oei, Compliance, Corporate Affairs & Legal Director PT CIMB Niaga Tbk., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar bambu benar-benar menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masa depan.

"Keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar. Industri perbankan pun dapat berperan melalui dukungan pembiayaan hijau, agar bambu tidak hanya dilihat sebagai komoditas tradisional, melainkan bagian dari ekonomi masa depan," katanya.

Melalui Forum Bumi, para pemangku kepentingan menegaskan komitmen untuk mendorong bambu agar tidak hanya dipandang sebagai tanaman tradisional, tetapi juga sebagai salah satu solusi paling relevan bagi masa depan: menjaga ekosistem, memperkuat ekonomi lokal, hingga membuka peluang inovasi industri berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.