Ketahanan Bangsa Dimulai dari Perut Rakyat, Bukan Barak

AKURAT.CO Anggota Komisi IX DPR, Nurhadi, menyampaikan kritik terhadap rencana pembangunan 500 batalyon baru untuk mendukung program prioritas nasional.
Menurutnya, wacana tersebut menunjukkan kekeliruan dalam penentuan prioritas nasional, terutama ketika Indonesia masih dibayangi oleh berbagai persoalan mendasar di sektor kesehatan dan pangan.
"Rencana pembangunan 500 batalyon yang digembar-gemborkan saya nilai keliru dalam penentuan prioritas. Negara ini masih menghadapi masalah gizi buruk, stunting dan akses pangan yang belum merata. Lalu tiba-tiba rakyat disuguhi wacana pembentukan batalyon baru seolah-olah itu solusi semua masalah. Saya tegaskan: ketahanan bangsa dimulai dari perut rakyat, bukan dari barak tentara," papar Nurhadi, dalam keterangannya, Senin (1/9/2025).
Baca Juga: Daniel Johan: Ketahanan Pangan Harusnya Berdayakan Petani, Jangan Dialihkan ke Militer
Sebagai informasi, pemerintah menargetkan pembangunan 500 batalyon teritorial pembangunan dalam lima tahun di seluruh Indonesia untuk mempercepat program prioritas nasional yang digalakkan Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut di antaranya terkait ketahanan pangan hingga Makan Bergizi Gratis (MBG).
Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) adalah satuan militer multifungsi yang dirancang oleh Kementerian Pertahanan untuk memperkuat pertahanan nasional sekaligus mendukung pembangunan sektor strategis seperti pangan, kesehatan dan energi.
Baca Juga: Ketahanan Pangan Adalah Benteng Terakhir Menghadapi Perubahan Iklim
Berdasarkan keterangan dari Kemhan, pembentukan 500 batalyon itu disebut akan mendapat dukungan anggaran dari Kementerian Keuangan. Nantinya akan ada 100 batalyon pembangunan yang dibentuk setiap tahun.
Terkait hal ini, Nurhadi mengingatkan bahwa alokasi anggaran untuk pembangunan batalyon dalam jumlah besar berpotensi menggerus pembiayaan program sosial yang lebih mendesak, seperti MBG untuk pemenuhan gizi anak-anak dan ibu hamil.
"Kalau setiap tahun pemerintah mengalokasikan dana besar untuk 100 batalyon, maka yang tergerus adalah anggaran sosial. Artinya, program strategis seperti Makan Bergizi Gratis yang menjadi kebutuhan nyata anak-anak bangsa bisa terpinggirkan. Apa artinya bicara tentang swasembada pangan kalau anak-anak sekolah masih berangkat dengan perut kosong," katanya.
Baca Juga: Program Ketahanan Pangan Perlu Infrastruktur Penunjang
Nurhadi pun menuntut transparansi penuh dari pemerintah terkait rencana anggaran untuk proyek pembentukan 500 batalyon ini.
"Berapa triliun yang akan dihabiskan untuk membangun batalyon baru? Apakah rakyat dijamin tetap mendapat jatah gizi ataukah justru harus rela dikorbankan demi proyek-proyek yang elitis dan simbolis," ujarnya.
Anggota komisi DPR yang bermitra dengan Badan Gizi Nasional itu juga menekankan pentingnya memahami kembali esensi keamanan nasional.
Baca Juga: Badan Bank Tanah Gandeng Masyarakat dan TNI/POLRI Dukung Ketahanan Pangan di Poso
Menurut Nurhadi, keamanan nasional tidak sekadar soal pertahanan militer, melainkan juga mencakup jaminan terhadap kebutuhan dasar rakyat.
"Jangan salah memahami keamanan. Rakyat tidak butuh tentara di sawah atau di ladang, rakyat butuh makanan bergizi di meja makan. Keamanan sejati adalah ketika balita tidak lagi stunting ketika anak sekolah mampu belajar dengan tubuh yang sehat dan ketika ibu hamil tidak kekurangan gizi," jelasnya.
Lebih lanjut, Nurhadi mendesak pemerintah untuk mengevaluasi ulang arah kebijakan pembangunan nasional dan memastikan bahwa pemenuhan gizi rakyat menjadi prioritas utama.
Baca Juga: Menlu Sugiono Jamu Dewan Pertahanan Nasional, Bahas Langkah Strategis Terkait Ketahanan Pangan
"Karena itu, saya tegaskan, pemerintah harus mengoreksi arah prioritas. Jangan mengorbankan program gizi demi ambisi membangun batalyon. Kalau memang ingin bicara tentang ketahanan nasional, maka ketahanan gizi rakyatlah yang harus jadi fondasi pertama dan utama," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini






