Akurat

Dari Perempuan untuk Keluarga, Lawan Dengue Bersama

Mukodah | 11 Agustus 2025, 12:58 WIB
Dari Perempuan untuk Keluarga, Lawan Dengue Bersama

AKURAT.CO Perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, baik sebagai individu, istri maupun ibu. Melalui peran tersebut, perempuan tidak hanya merawat tetapi juga menjadi garda depan dalam upaya perlindungan keluarga, termasuk terhadap berbagai ancaman penyakit, salah satunya dengue.

Upaya pencegahan penyakit dengue inilah yang menjadi semangat utama diselenggarakannya talk show bersama CegahDBD bertajuk "Peran Ibu Sebagai Penjaga Keluarga" oleh PT Takeda Innovative Medicines, yang digelar sebagai dukungan kepada Yayasan Pengembangan Medik Indonesia (Yapmedi) dan Civitas Akademika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam rangkaian 13th Annual Women's Health Expo & Bazaar 2025.

Dengue masih menjadi salah satu ancaman kesehatan dunia. Sekitar setengah dari populasi dunia saat ini berisiko terkena dengue dengan perkiraan 100-400 juta kasus infeksi terjadi setiap tahun.

Baca Juga: Hari Anak Nasional 2025: Lindungi Anak dari Dengue, Anak Hebat Menuju Indonesia Emas

Data Kementerian Kesehatan mencatat kasus dengue, sampai minggu ke-25 tahun 2025, secara kumulatif mencapai 79.843 (Incidence Rate/IR: 28,18/100.000 penduduk) dengan 359 kematian (Case Fatality Rate/CFR: 0,45 persen).

Dr. dr. Sukamto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi Klinik, menyoroti bahwa perempuan memiliki peran signifikan dalam menjaga ketahanan keluarga dan membuat keputusan-keputusan penting di dalam rumah tangga.

Menurutnya, perempuan menjadi jembatan informasi dan penggerak aksi di lingkup rumah tangga maupun komunitas.

Baca Juga: ASEAN Dengue Day 2025, Kawal Komitmen Pencapaian Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

Salah satu tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya risiko penyakit menular seperti dengue, yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, gaya hidup atau tempat tinggal.

"Kita semua berisiko. Bahkan orang dewasa yang tampak sehat bisa membawa virus dengue tanpa disadari dan berpotensi menularkan kepada orang lain melalui gigitan nyamuk," ujar Sukamto.

Tidak hanya itu, orang dewasa yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, memiliki risiko keparahan yang lebih tinggi jika terkena DBD.

Baca Juga: Kaukus Kesehatan DPR Dorong Strategi Terpadu Capai Nol Kematian Akibat Dengue Tahun 2030

Misalnya hipertensi dua-tiga kali lipat, obesitas 1,5-dua kali lipat, penyakit ginjal tujuh kali lipat, diabetes melitus tiga-lima kali lipat dan penyakit paru-paru dua-12 kali lipat.

"Karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk memahami bahwa pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, melalui kebiasaan menjaga lingkungan dengan 3M Plus, penggunaan pelindung diri dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif seperti vaksinasi yang telah direkomendasikan oleh asosiasi medis bagi anak maupun dewasa," Sukamto menjelaskan.

Dia menekankan bahwa dengan memberdayakan perempuan melalui akses terhadap edukasi dan perlindungan kesehatan, tidak hanya menjaga mereka tetapi juga memperkuat perlindungan seluruh keluarga.

Baca Juga: Minahasa Utara Terapkan Langkah Terpadu Cegah Dengue, Targetkan Nol Kematian pada 2030

"Perlindungan dari dengue adalah tanggung jawab bersama. Perempuan punya peran penting dalam menggerakkan langkah itu. Saat kita semua ambil bagian, kita bukan hanya menjaga keluarga tapi juga membangun masa depan yang lebih sehat," kata Sukamto.

Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), Spesialis Anak Konsultan, mengingatkan bahwa anak-anak justru berada dalam kelompok paling rentan terhadap dengue.

Data Kemenkes menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat dengue paling banyak terjadi pada anak-anak dan remaja usia 5-14 tahun.

Baca Juga: Kemenkes dan Takeda Serukan Aksi Proaktif Cegah Dengue: Jangan Tunggu Wabah Terjadi

Bernie juga memaparkan gejala khas dengue, termasuk siklus demam seperti pelana kuda serta tanda bahaya yang harus diwaspadai.

Dengue memiliki tiga fase utama yaitu fase demam tinggi, fase kritis (demam turun) dan fase penyembuhan (demam naik lagi). Gejala yang muncul biasanya meliputi demam tinggi, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri otot dan sendi hingga ruam di kulit (petekie).

"Tidak jarang orang tua datang membawa anaknya dalam kondisi yang cukup kritis, bahkan mengarah pada Dengue Shock Syndrome (DSS) yang berisiko tinggi menyebabkan kegagalan organ karena perdarahan hebat dan penurunan tekanan darah secara drastis," ujar Bernie.

Baca Juga: Gerakan SIAP Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan

Bernie mengingatkan bahwa satu kali terinfeksi dengue bukan berarti seseorang akan kebal selamanya. Anak yang pernah terkena dengue tetap bisa terinfeksi kembali, bahkan infeksi kedua justru berisiko menimbulkan gejala yang lebih berat dibanding infeksi pertama.

Ia mengungkapkan, sampai saat ini masih belum ada pengobatan yang spesifik untuk menyembuhkan dengue.

"Pengobatan yang tersedia bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi seperti penurun panas, pengganti cairan, antiradang dan terapi pendukung lainnya. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci, salah satunya melalui vaksinasi. Vaksinasi dengue sendiri telah direkomendasikan penggunaannya bagi anak dan orang dewasa oleh asosiasi medis, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)," jelas Bernie.

Baca Juga: Antisipasi Dengue di Musim Hujan, Langkah Bersama Cegah DBD Hadir di Kota Medan

Andreas Gutknecht, selaku Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa perempuan adalah inti dari keluarga dan komunitas yang sehat.

"Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada kesehatan masyarakat, kami percaya bahwa membangun keluarga yang sehat dimulai dari pemberdayaan perempuan karena merekalah penggerak utama dalam setiap upaya perlindungan dan perawatan di rumah tangga," katanya.

Andreas menekankan bahwa Takeda secara konsisten mengambil peran aktif dalam mendukung upaya pencegahan dengue di Indonesia.

Baca Juga: Kemenkes dan Takeda Serukan Tindakan Proaktif Pencegahan Dengue, Jangan Tunggu Wabah

"Kami berkomitmen menjadi mitra jangka panjang bagi para pemangku kepentingan di sektor kesehatan, termasuk pemerintah, asosiasi medis, sektor swasta dan masyarakat, untuk memperluas akses terhadap edukasi dan solusi pencegahan dengue," ujarnya.

Melalui inisiatif seperti talk show ini, Takeda ingin terus mendorong kesadaran dan aksi nyata, khususnya di kalangan perempuan. Agar mereka dapat terus menjalankan perannya yang mulia sebagai penjaga keluarga yang kuat dan terlindungi.

"Pencegahan perlu dimulai dari kita sendiri. Ada banyak langkah yang bisa dilakukan, mulai dari menjaga kebersihan rumah, aktif melakukan 3M Plus, mencari informasi yang tepat dan mempertimbangkan perlindungan tambahan yang inovatif. Bersama, kita bisa melindungi keluarga dari ancaman dengue, mengubahnya dari penyakit yang menakutkan menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan dan mewujudkan tujuan bersama. Nol kematian akibat dengue pada tahun 2030," terang Andreas.

Baca Juga: Tanggulangi DBD, Dengue Slayers Challenge Libatkan Ratusan Siswa

The 13th Annual Women's Health Expo & Bazaar 2025 yang mengangkat tema "Tetaplah Sehat Perempuan Indonesia" diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Sebagai upaya pencegahan penyakit dengue, kegiatan ini menyasar sekitar 2.000 pengunjung selama periode penyelenggaraannya pada 9-10 Agustus 2025 di Gedung Smesco, Jakarta.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK