Akurat

Menembus Sekat Primordial Melalui Ajaran Cinta dan Kasih

Mukodah | 7 Agustus 2025, 16:49 WIB
Menembus Sekat Primordial Melalui Ajaran Cinta dan Kasih

AKURAT.CO Rasa cinta atau kasih sayang adalah bahasa kalbu universal. Ia dapat menembus sekat-sekat primordialisme yang sering kali memisahkan manusia atas alasan superfisial.

Ajaran Katolik, misalnya, menempatkan cinta terhadap sesama ciptaan Tuhan pada derajat yang tinggi, sehingga diharapkan para manusia bisa memuliakan terhadap sesamanya.

Mengenai hakikat cinta dalam ajaran Katolik, Romo Martinus Joko Lelono, Pr., selaku Imam Katolik dan Pengajar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, menjelaskan bahwa Tuhan menginginkan manusia untuk bisa saling mengasihi dan mengupayakan kesejahteraan bersama.

Baca Juga: Cara Mengintegrasikan Kalender Jawa Weton dengan Ajaran Syariat Islam

"Ajaran Gereja Katolik tidak secara langsung bicara tentang nasionalisme atau cinta terhadap negara, namun banyak ayat yang mengajak umat manusia untuk bisa menganggap manusia lainnya sebagai satu keluarga. Esensinya, manusia diciptakan menurut gambar Allah, yang 'menghendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami seluruh muka bumi' (Kis 17:26). Mereka semua dipanggil untuk satu tujuan yang sama yakni Allah sendiri," jelasnya, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Walaupun nasionalisme tidak secara eksplisit menjadi bagian dari pengajaran Gereja Katolik, Romo Martinus menyebutkan bahwa Mgr. Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama Indonesia, pernah menyampaikan pesannya yang kurang lebih berbunyi "kami, 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia."

"Semboyan ini menekankan pentingnya keterlibatan aktif umat Katolik dalam kehidupan gereja dan negara. Serta menegaskan bahwa menjadi seorang Katolik tidak bertentangan dengan menjadi seorang warga negara Indonesia yang baik," ujarnya.

Baca Juga: Bhikkhu Thudong dan Semangat Berbagi: Menyalurkan Donasi sebagai Wujud Ajaran Welas Asih

Menurut Romo Martinus, cinta kasih terhadap Allah dan sesama manusia merupakan perintah yang pertama dan terbesar dan hal ini pun telah diterangkan pada Gaudium Et Spess 24.

Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan bersama sudah sewajarnya dilakukan karena pada dasarnya manusia akan bergantung dengan sesamanya. Seiring dengan meluasnya umat manusia di dunia, maka aspek kesejahteraan umum bersifat universal.

Maksudnya, dalam pemenuhan hak dan kewajiban suatu kaum atau kelompok, maka harus pula memperhatikan aspirasi dan hak dari kelompok lainnya. Hal ini sesuai dengan yang tertulis pada Gaudium et Spess 26.

Baca Juga: Adakah Nikah Batin Seperti pada Serial Bidaah dalam Ajaran Islam?

"Yang dimaksudkan dengan kesejahteraan umum adalah keseluruhan kondisi-kondisi hidup kemasyarakatan, yang memungkinkan baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri. Setiap kelompok harus memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan serta aspirasi-aspirasi kelompok-kelompok lain yang wajar, bahkan kesejahteraan umum segenap keluarga manusia," terangnya.

Mengenai adanya kelompok keagamaan yang ditengarai sarat dengan kekerasan dalam upaya penyebaran ajarannya di Indonesia, Romo Martinus mengaku tidak khawatir.

Dirinya hanya menyayangkan jika masih ada seruan atau ajakan beragama dengan menindas ataupun memandang rendah manusia lainnya.

Baca Juga: Kedaulatan Islam Tak Diukur dari Sistem Politik Tapi Bagaimana Umat Jalankan Ajaran Agama dengan Hikmah

"Saya pikir ini adalah bagian dari dinamika hidup bersama. Dalam gambaran sosiologi, ini adalah gambaran untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh. Mereka menggunakan jubah agama untuk mempengaruhi dan menguasai. Saya menyayangkan bahwa di negeri ini masih ada orang-orang yang kurang terpelajar yang masih percaya bahwa kemuliaan agama bisa diraih melalui kekerasan. Kemuliaan agama tidak akan bisa ditempuh dengan jalan yang membawa kesengsaraan bagi sesamanya," paparnya.

Romo Martinus merasa bahwa sesama anak bangsa perlu lebih banyak lagi melakukan perjumpaan lintas keimanan.

Negara juga perlu hadir sebagai fasilitator dalam menciptakan kesempatan ini, khususnya dalam menghadirkan sarana dan fasilitas umum yang terbuka bagi semua.

Baca Juga: Komunitas Muslim Bektashi di Albania Adopsi Ajaran Syi'ah, Apakah Sesat?

"Anak muda kita perlu memiliki ruang perjumpaan yang lebih banyak dengan mereka yang berbeda. Saya beberapa kali terlibat di dalam gerakan lintas iman di kalangan anak muda, ada cukup banyak peserta yang tidak pernah mengenal orang dari agama lain. Mereka bersekolah dengan teman seagama, bertetangga dengan yang seagama, berkegiatan dengan yang seagama," jelasnya.

Untuk itu, Romo Martinus menyampaikan harapannya agar lembaga pendidikan formal dan nonformal tidak memisahkan pergaulan peserta didik berdasarkan agama yang dianut.

Masih sering dijumpai, peserta didik beragama minoritas diberikan materi pembelajaran di ruangan yang berbeda dengan alasan memudahkan pelaksanaan pelajaran agama.

Baca Juga: Ajaran Khilafah Islamiyah Agenda Politik, Bukan Akidah

"Hal semacam ini perlu dilawan. Generasi muda perlu saling berjumpa agar mampu mengakui bahwa mereka punya kesalahan dan orang lain punya kebaikan serta sebaliknya. Negara perlu menyediakan media perjumpaan, misalnya taman kota, lapangan, jogging track, lapangan skateboard sehingga orang bisa bertemu dan tidak terkungkung dengan gadget yang dalam beberapa kesempatan menjadi sarana masuknya paham intoleran," pungkasnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK