Akurat

Apa itu Ormas PWI LS, yang Bentrok dengan FPI?

Fajar Rizky Ramadhan | 25 Juli 2025, 11:09 WIB
Apa itu Ormas PWI LS, yang Bentrok dengan FPI?

AKURAT.CO Bentrok antara dua organisasi kemasyarakatan Islam di Pemalang, Jawa Tengah, menarik perhatian publik nasional.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu malam, 23 Juli 2025, itu melibatkan Front Persaudaraan Islam (FPI) dan ormas yang relatif baru namun berkembang pesat, yakni Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS).

Insiden tersebut pecah ketika rombongan Habib Muhammad Rizieq Shihab hadir untuk mengisi tabligh akbar di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan.

Kehadiran tokoh kontroversial itu ditolak oleh kelompok PWI LS, yang memicu ketegangan hingga berujung bentrokan berdarah.

Sedikitnya lima orang mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam dalam insiden tersebut. Salah satu korban bahkan merupakan aparat kepolisian yang sedang bertugas mengamankan lokasi.

Peristiwa ini membuka tabir tentang siapa sebenarnya PWI LS, ormas yang menjadi lawan langsung FPI dalam insiden tersebut.

Baca Juga: Duduk Perkara Bentrokan FPI dan PWI-LS di Pemalang: Dari Penolakan hingga Upaya Mediasi

PWI LS merupakan singkatan dari Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah. Ormas ini dibentuk oleh sejumlah tokoh Nahdliyin yang merasa perlu merespons maraknya dominasi kelompok yang mengklaim nasab Arab, khususnya Klan Ba‘Alawi, dalam diskursus keagamaan di Indonesia.

Secara spesifik, PWI LS muncul sebagai bentuk keprihatinan terhadap apa yang mereka anggap sebagai penyimpangan dalam narasi sejarah keulamaan di Nusantara.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Musyawarah Kerja Nasional PWI LS di Bekasi pada Maret 2025, ketua umum ormas ini, KH Abbas Billy Yachsy dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon, menyatakan bahwa pihaknya menolak klaim-klaim keturunan Rasulullah SAW yang tidak terbukti secara ilmiah.

Mereka menilai bahwa narasi tersebut telah mereduksi perjuangan para kiai lokal, khususnya para penerus Walisongo, dalam membumikan Islam di Nusantara.

Meski memiliki latar belakang ke-NU-an, PWI LS secara kelembagaan tidak berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama. NU bahkan secara terbuka menegaskan bahwa ormas tersebut bukanlah bagian dari struktur resmi atau sayap organisasi mereka.

Kendati demikian, pengaruh PWI LS di kalangan Nahdliyin tidak dapat dianggap remeh. Dalam waktu singkat, struktur dan keanggotaan ormas ini berkembang ke berbagai wilayah, terutama di Jawa Tengah.

PWI LS mengusung visi besar untuk merevitalisasi nilai-nilai moral dan tradisi keislaman lokal. Mereka menekankan pentingnya dakwah welas asih, memperkuat mental spiritual, memberdayakan potensi dasar umat, serta menumbuhkan kemandirian kelompok.

Dari segi misi, PWI LS berkomitmen untuk menginternalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama‘ah (ASWAJA) dan nilai-nilai Walisongo dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, mereka juga fokus pada pembangunan struktural kader dan pemberdayaan ekonomi antar anggota.

Baca Juga: Kronologi Kericuhan Berdarah di Pemalang saat Ceramah Habib Rizieq Shihab

Menariknya, ormas ini juga menyatakan diri sebagai penopang jejaring bisnis berbasis kader dan profesi, dengan semangat gotong royong dan prinsip kebangsaan. Dalam konteks ini, PWI LS mencoba menyatukan antara nilai keislaman tradisional dengan modernitas berbasis pemberdayaan ekonomi.

Dengan karakter yang kritis terhadap kelompok-kelompok Islam yang dianggap bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, PWI LS tampil sebagai ormas yang bukan hanya religius, tetapi juga nasionalis.

Bentrokan dengan FPI mungkin mencerminkan perbedaan ideologis yang mendalam antara dua kelompok tersebut, yakni antara Islam lokal berbasis tradisi dengan Islam politik yang sering kali bernuansa konfrontatif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.