Pemerintah Dorong Digitalisasi Pesantren dan Pemeriksaan Kesehatan Santri: Arah Baru Pembangunan SDM Unggul

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan pentingnya perluasan akses pendidikan tinggi berbasis digital bagi komunitas pesantren sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia (SDM) unggul.
Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) di Pondok Pesantren Tarbiyatul Qur’an Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri.
SALUT menjadi solusi konkret agar para santri dan pengasuh pesantren bisa mengakses pendidikan tinggi dengan lebih mudah tanpa harus meninggalkan pondok.
"Universitas Terbuka punya peran strategis untuk menjangkau komunitas yang selama ini punya keterbatasan akses, termasuk di pesantren. Digitalisasi adalah kunci, dan UT bisa memainkan peran itu secara optimal," ujar Pratikno, dikutip Selasa (15/7/2025).
Ia bahkan menyebutkan, karena pentingnya pengembangan pendidikan digital, ia "menculik" Rektor UT saat itu, Prof. Ojat Darojat, untuk menjadi Deputi di Kemenko PMK. Ojat kini membidangi peningkatan kualitas pendidikan nasional.
"Perguruan tinggi harus hadir lebih dekat dengan anak bangsa yang tidak bisa meninggalkan pesantren. SALUT adalah bentuk konkret dari pendekatan itu. Tapi ingat, kualitas tetap harus dijaga," tegasnya.
Selain di Ploso, peresmian SALUT juga dilakukan serentak di enam titik layanan baru lainnya, yaitu SALUT Anak Bangsa (Nganjuk), SALUT Bina Insan Cendikia (Tulungagung), SALUT Nurul Haromain Pujon (Malang), dan tiga SALUT di Kediri: Lumanjada Darussalam, Lumanjada HQ, serta Lumanjada Assakur.
Baca Juga: Port dan Oxford Datang, Garuda Terbang: Balada Prestasi di Langit Nusantara
Masih dalam rangkaian kunjungan kerja di Kediri, Menko PMK juga meninjau pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) bagi para santri sebagai bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam peningkatan kualitas SDM nasional.
Kunjungan pertama dilakukan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, di mana sebanyak 500 santri putri menjalani pemeriksaan menyeluruh mulai dari kebugaran, gizi, hingga kesehatan mata, telinga, gigi, dan darah. Pemeriksaan melibatkan 90 tenaga kesehatan dari 9 puskesmas.
"Program ini bukan semata-mata untuk mendeteksi penyakit, tapi untuk mencegah. Santri harus sehat secara fisik, moral, dan mental agar mampu bersaing di masa depan," ujar Pratikno di hadapan para santri.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan berkelanjutan.
“Jangan berhenti hanya di pesantren. Lanjutkan ke pendidikan tinggi dan kuasai teknologi serta ilmu pengetahuan,” pesannya.
Setelah itu, Menko PMK meninjau pelaksanaan PKG di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, di mana 500 santri putra mengikuti pemeriksaan serupa.
Dalam pengecekan, ditemukan masalah umum seperti gangguan penglihatan, kerusakan gigi, dan kebiasaan merokok.
"Sayang sekali kalau uang rokok digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Lebih baik buat beli dan masak telur yang kaya protein," ujarnya mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat.
Sebagai bentuk dukungan lintas sektor, Menko PMK turut menyerahkan bantuan alat olahraga dari Kemenpora, serta Al-Qur’an dan kitab dari Kementerian Agama.
Ia mengapresiasi sinergi seluruh pihak, mulai dari kementerian, pemda, hingga Baznas dan Forkopimda.
Baca Juga: Tak Perlu ke Kantor Dukcapil, Begini Cara Bikin KTP Digital Lewat HP
"Kolaborasi ini luar biasa. Pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat bahu-membahu. Inilah yang kita harapkan untuk mengakselerasi pembangunan manusia Indonesia," kata Pratikno.
Program PKG ditargetkan menjangkau 53,8 juta anak usia sekolah di lebih dari 300 ribu satuan pendidikan, termasuk pesantren.
Kegiatan di Kediri menjadi uji coba awal sebelum pelaksanaan skala nasional yang dijadwalkan pada Agustus 2025.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










