Akurat

Mengenal Jenis-jenis Awan: Bahasa Langit yang Mengisyaratkan Cuaca

Eko Krisyanto | 28 Juni 2025, 21:42 WIB
Mengenal Jenis-jenis Awan: Bahasa Langit yang Mengisyaratkan Cuaca

AKURAT.CO Langit adalah kanvas raksasa yang senantiasa berubah, dihiasi oleh awan-awan yang melintas perlahan atau berarak cepat.

Gumpalan putih hingga kelabu yang tampak tak beraturan itu sesungguhnya menyimpan pesan penting tentang kondisi atmosfer.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, awan jenis apa yang sedang melintas di atas kepala kita? Dan apa artinya bagi cuaca hari ini?

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun menjadi tetesan air atau kristal es kecil di atmosfer.

Bentuk, warna, dan ketinggiannya ditentukan oleh suhu, kelembapan, serta gerakan udara.

Mengamati awan tak hanya mengagumkan secara visual, tapi juga bisa menjadi “kode alam” untuk membaca pertanda hujan, cerah, atau badai.

Berikut klasifikasi jenis-jenis awan yang umum terlihat di langit, berdasarkan ketinggian, seperti yang dijelaskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG):

Awan Tinggi (Di atas 6.000 meter)

Terdiri dari kristal es karena berada di lapisan atmosfer yang sangat dingin. Biasanya tampak tipis dan tidak membawa hujan.

Baca Juga: 5 Sholawat yang Dianjurkan Dibaca di Momen Tahun Baru Islam

  • Cirrus
    Awan tipis, tampak seperti sapuan kuas putih di langit. Menandakan cuaca cerah, tetapi bisa jadi pertanda badai akan datang beberapa hari lagi.

  • Cirrocumulus
    Awan kecil-kecil seperti sisik ikan, sering membentuk pola berulang. Tanda atmosfer sedang tidak stabil.

  • Cirrostratus
    Awan halus, menutupi sebagian besar langit dan sering menimbulkan efek “halo” di sekitar matahari atau bulan. Pertanda kelembapan meningkat.

Awan Menengah (2.000–6.000 meter)

Terdiri dari campuran air dan kristal es. Sering menjadi tanda cuaca sedang berubah.

  • Altocumulus
    Gumpalan awan putih keabu-abuan yang tersusun seperti kawanan domba. Jika muncul di pagi hari, bisa jadi sore akan turun hujan deras.

  • Altostratus
    Lapisan awan abu-abu kebiruan yang menyelimuti langit. Matahari tampak seperti lampu di balik tirai. Biasanya membawa hujan ringan yang merata.

Awan Rendah (Di bawah 2.000 meter)

Lebih tebal dan dekat ke permukaan bumi. Seringkali penyebab cuaca mendung atau gerimis.

  • Stratus
    Seperti kabut yang menggantung di langit. Langit terlihat kelabu dan kadang-kadang meneteskan gerimis.

  • Stratocumulus
    Awan bergelombang yang tampak berat tapi jarang membawa hujan. Lebih sering menghiasi sore yang mendung.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Jakarta Aman Selama Libur Tahun Baru Islam

  • Nimbostratus
    Awan hujan klasik—tebal, gelap, dan menyelimuti langit sepenuhnya. Menandakan hujan atau salju yang berlangsung lama.

Awan Vertikal (Dari rendah hingga tinggi)

Inilah "aktor utama" dalam cuaca ekstrem. Muncul kecil, tapi bisa membesar secara dramatis.

  • Cumulus
    Gumpalan putih seperti kapas, dasar rata dan puncaknya menggembung. Awalnya jinak, tapi jika tumbuh tinggi, bisa berubah menjadi badai.

  • Cumulonimbus
    Raja segala awan. Tinggi, menjulang seperti gunung dengan puncak berbentuk landasan. Sumber hujan lebat, petir, guntur, dan bahkan tornado.

Kenali Langit, Kenali Cuaca

Memahami awan bukan hanya soal estetika langit—ini adalah pengetahuan praktis untuk membaca perubahan cuaca. Dari cirrus yang anggun hingga cumulonimbus yang menakutkan, semua punya kisah yang diceritakan kepada kita.

Jadi, lain kali Anda menatap langit, jangan hanya terpana—amati, kenali, dan prediksikan! Siapa tahu, awan-awan itu sedang memberi sinyal bahwa Anda sebaiknya membawa payung sebelum berangkat.

Kendati demikian, tetap gunakan aplikasi cuaca dari BMKG atau observasi awan secara langsung setiap pagi. Tak perlu jadi meteorolog untuk memahami “bahasa langit”.

 

Laporan: Dwi Arya Rahmansyah Ramadhan/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.