Buku Kesaksian 23 Wartawan Kompas: Dari Risiko Judul Soeharto Mundur hingga Hilangnya Gairah Investigasi

AKURAT.CO Sebuah buku berjudul “Kesaksian 23 Wartawan Kompas" resmi diluncurkan dan langsung menyita perhatian kalangan jurnalis dan pencinta sejarah pers.
Buku setebal 530 halaman ini menyoroti kisah-kisah eksklusif di balik layar ruang redaksi Kompas dari para wartawan seniornya, termasuk momen genting pada 1998, perjuangan kebebasan pers, hingga refleksi atas perubahan drastis profesi wartawan di era digital.
Dalam peluncuran buku tersebut, tiga wartawan legendaris Kompas turut membagikan kisah yang belum pernah diungkap ke publik. Berikut penggalan cerita dari Ace S. Madsupi, Albert Kuhon, dan Satrio Aris Munandar.
Ace S. Madsupi, Redaktur Pelaksana Harian Kompas pada 1998, menceritakan keputusan paling krusial sepanjang karier jurnalistiknya: memutuskan headline bahwa Presiden Soeharto akan lengser, sebelum pengumuman resmi dikeluarkan.
“Waktu itu kita bertaruh besar. Saya keluar malam itu, cari narasumber yang bisa konfirmasi apakah benar Pak Harto mundur. Saya tahu satu-satunya orang yang tahu jawabannya adalah Cak Nur (Prof. Nurcholish Madjid). Setelah susah dihubungi, baru jam 1 dini hari saya dapat kabar: ‘Besok Pak Harto mundur,’” kata Ace, Kamis (26/6/2025).
Ace langsung menelepon Wakil Pemred Kompas, Agus Parengkuan, untuk menyetujui judul besar yang terbit keesokan paginya: “Selamat Datang Pemerintahan Baru.”
“Kalau Pak Harto enggak jadi mundur, taruhannya bukan cuma pemimpin Kompas masuk bui. Kompas bisa ditutup, ribuan orang kehilangan pekerjaan,” ujar Ace penuh emosi.
Baca Juga: Piala Presiden: Ada Witan Sulaeman dan Riko Simanjuntak, Ini Daftar 30 Pemain Indonesia All Star
Editor buku Kesaksian 23 Wartawan Kompas, Albert Kuhon, menceritakan awal mula ide penyusunan buku ini justru lahir dari masa kelam dalam kariernya: saat ia dijatuhi sanksi internal oleh Kompas karena mendirikan serikat pekerja.
“Waktu itu saya dilarang menulis, akhirnya saya kumpulkan data dari tahun 1988. Saya mulai wawancara dengan senior seperti Pituar Boo dan Yuskaro. Mereka punya banyak cerita, tapi nggak sempat ditulis karena terlalu fokus memberitakan kejadian, bukan jadi bagian dari sejarah,” kata Albert.
Menurut Albert, wartawan dulu harus berjuang keras mendapatkan informasi—datang ke lokasi, membawa mesin tik, dan menyusun berita dari nol. Kini, akses informasi sangat mudah, tapi gairah investigasi justru memudar.
“Dulu saya kerja jadi manajer dengan gaji Rp550 ribu. Tapi saya pilih jadi wartawan dengan gaji Rp150 ribu. Karena bagi saya, menjadi wartawan itu sebuah panggilan, bukan pekerjaan biasa,” ungkapnya.
Satrio Aris Munandar, wartawan senior sekaligus salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menilai buku Kesaksian 23 Wartawan Kompas sebagai langkah penting dalam merawat memori sejarah pers nasional.
“Saya bersyukur kepada Bang Albert yang memulai ini. Wartawan Kompas itu low profile, jarang menulis tentang dirinya. Padahal mereka saksi sejarah yang ikut menentukan arah bangsa lewat tulisan-tulisannya,” ujar Satrio.
Ia menegaskan, pada masanya Kompas adalah koran yang bukan hanya besar secara oplah, tapi sangat berpengaruh.
“Kompas selalu dibaca para pengambil keputusan. Buku ini penting, karena memuat catatan sejarah yang harus dibaca oleh semua jurnalis,” imbuhnya.
Buku Kesaksian 23 Wartawan Kompas direncanakan akan dicetak sebanyak lebih dari 1.000 eksemplar.
Baca Juga: MK: Jadwal Pemilu yang Padat Lemahkan Parpol dan Dorong Politik Transaksional
Buku ini tidak hanya menawarkan dokumentasi sejarah media, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi jurnalis masa kini untuk tetap teguh pada idealisme dan semangat mencari kebenaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 4Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK






