Perbedaan Pramono dan Dedi Mulyadi dalam Tangani Anak Bermasalah, Pengamat: Rehabilitatif vs Represif

AKURAT.CO Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam menangani anak-anak yang berperilaku menyimpang atau bermasalah menjadi perhatian.
Pengamat kebijakan publik, Sugiyanto (SGY), menyoroti tajam kontras kebijakan dua kepala daerah tersebut.
Ia membandingkan pendekatan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dinilainya cenderung represif, dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang lebih edukatif dan inklusif.
SGY menyebut, wacana Dedi Mulyadi yang akan mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer sebagai langkah yang berpotensi melanggar hak-hak anak.
Ia mengingatkan, pendekatan seperti itu bisa berbenturan dengan prinsip perlindungan anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.
“Kebijakan Gubernur Jawa Barat berpotensi menyalahi norma dasar perlindungan anak. Ini bisa mengarah pada pelanggaran hak-hak anak yang dijamin oleh negara,” ujar SGY saat dihubungi, Selasa (13/5/2025).
Baca Juga: Di Forum Parlemen OKI, Puan Dorong Kerja Sama Ekonomi Strategis dengan Negara Sahabat
Sebaliknya, ia memuji kebijakan Gubernur Pramono Anung yang membuka akses taman kota, perpustakaan, dan museum selama 24 jam.
Kebijakan ini dinilainya sebagai bentuk inovasi sosial yang selaras dengan amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi Indonesia.
“Kebijakan ini mendorong pendidikan nonformal yang memperkaya karakter dan wawasan anak-anak, terutama mereka yang rentan terhadap pengaruh lingkungan negatif,” lanjutnya.
Menurut SGY, ruang publik yang aman, inspiratif, dan inklusif jauh lebih efektif dalam mencegah kenakalan remaja ketimbang pendekatan militeristik atau pemidanaan dini.
Ia menegaskan, trauma akibat perlakuan represif justru dapat memperburuk kondisi psikologis anak.
“Pendekatan yang berbasis budaya dan pendidikan akan membentuk generasi yang lebih kreatif, positif, dan tangguh menghadapi tantangan sosial,” ujarnya.
SGY menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa arah kebijakan seorang kepala daerah sangat bergantung pada sensitivitas sosialnya.
Perbedaan tajam antara dua pendekatan ini, menurutnya, merupakan cerminan dari filosofi kepemimpinan yang berbeda dalam menyikapi problem sosial anak-anak.
“Kebijakan yang sensitif terhadap hak dan masa depan anak akan membawa dampak jangka panjang yang jauh lebih positif bagi masyarakat,” pungkasnya.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Tanggung Kebutuhan Anak Korban Ledakan di Garut, per Keluarga Rp50 Juta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Dukung Mesir Amankan Hak Air di Sungai Nil: Indonesia Prihatin Atas Upaya Pelanggaran Hukum Internasional
- 10Prabowo dan El-Sisi Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan, Mesir Beri Tambahan Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia







