Wahab Talaohu: Persatuan dan Kesatuan Bangsa Kunci Keberhasilan Swasembada Beras dan Peningkatan Kesejahteraan Petani

AKURAT.CO Usia pemerintahan Prabowo-Gibran baru memasuki enam bulan kerja patut mendapat apresiasi.
Karena di waktu yang terhitung singkat telah berhasil meningkatkan kesejahteraan petani (Nilai Tukar Petani) dan swasembada beras nasional.
Sehingga Indonesia dapat tidak lagi impor beras dan dapat melakukan pengendalian harga yang meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca Juga: Wahab Talaohu: Kabinet Merah Putih Solusi Jenius Presiden Prabowo
"Produksi gabah kering giling nasional periode Januari hingga April 2025 telah mencapai 24,22 juta ton. Jika dikonversi menjadi beras berjumlah 13,95 juta ton. Sementara kebutuhan beras nasional sebesar 10,37 juta ton. Artinya ada surplus 3,58 juta ton, maka Indonesia tidak lagi impor dan pemerintah dapat melakukan pengendalian harga yang menguntungkan petani," jelas Wahab Talaohu, Ketua DPP Persaudaraan 98, dalam siaran pers, Rabu (30/4/2025).
Selain produksi beras yang meningkat, BPS juga mencatat terdapat peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang cukup signifikan dalam enam bulan terakhir.
NTP pada Oktober 2024 tercatat sebesar 120,70 dan meningkat menjadi 123,72 di Maret 2025. Peningkatan juga terjadi jika disbanding tahun sebelumnya yang pada Maret 2025 NTP hanya sebesar 119,39.
Baca Juga: Wahab Talaohu: Agenda Hak Angket, Manuver Politik yang Brutal dan Tidak Beradab
"Petani benar-benar merasakan hasil dari swasembada, di mana harga tetap terkendali sehingga petani mendapat keuntungan dari hasil panen tersebut. Itu tercermin dari Nilai Tukar Petani yang meningkat. Karena NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan dan menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi," sambungnya.
Wahab berharap semua pihak dapat mendukung program Asta Cita, terutama terkait ketahanan pangan nasional.
Karena persatuan dan kesatuan bangsa menjadi kunci utama dalam menghadapi gejolak geopolitik internasional yang sedang menghadapi perang tarif dan perang wilayah.
Baca Juga: Aktivis 98 Wahab Talaohu: Hanya Prabowo-Gibran yang Punya Komitmen Supremasi HAM di Indonesia
"Persatuan dan kesatuan bangsa jadi kunci untuk menghadapi gejolak ekonomi internasional dan geopolitik global. Dan kepemimpinan Presiden Prabowo telah memberi bukti nyata bahwa dalam kurun waktu 180 hari Presiden Prabowo beserta kabinetnya fokus, konsisten dan komitmen pada agenda-agenda Asta Cita. Sebab, perlu dicatat, keberhasilan swasembada beras dan peningkatan Nilai Tukar Petani adalah langkah awal dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









