Jadikan Ramadan sebagai Madrasah Pembentuk Pribadi Wasathiyah

AKURAT.CO Di penghujung bulan Ramadan 1466 Hijriah, umat muslim diajak untuk terus meningkatkan ketakwaan, kesabaran dan kebijakan, dalam menghadapi persoalan duniawi.
Ramadan harus dijadikan madrasah untuk membentuk pribadi muslim yang wasathiyah.
Hal itu disampaikan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Andi Faisal Bakti, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (27/3/2025).
Menurutnya, Ramadan tidak hanya sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah pribadi tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun empati dan membentuk hubungan yang lebih baik dengan sesama muslim maupun umat agama lain.
Dengan demikian, Ramadan bukan lagi persoalan pada menahan lapar dan dahaga saja, namun menciptakan insan kamil yang berlandaskan Pancasila dan agama secara kaffah.
"Seharusnya umat Islam di bulan Ramadan ini lebih toleran, lebih berempati sehingga bisa meredam ketegangan. Tentu bukan hanya kepada umat muslim tapi juga kepada agama lainnya," ujar Prof. Andi Faisal.
Baca Juga: PIK 2 Ramadan Under The Dome: Bukti Inklusivitas untuk Semua Keberagaman
Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu menjelaskan, Islam adalah agama yang inklusif, merangkul keberagaman dan menghargai perbedaan.
Dalam Surat Al Baqarah Ayat 143 diungkapkan, umat Islam adalah umat yang wasathiyah, moderat berada di tengah.
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan merangkul semua umat manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Prof. Andi Faisal mengatakan, konsep wasathiyah ini bisa digambarkan dengan analogi permainan sepak bola.
Dalam permainan sepak bola dibutuhkan wasit yang netral di antara kedua belah pihak. Wasit tidak boleh berpihak kepada salah satu pemain atau kelompok.
Jika ia berpihak, permainan tidak akan menarik dan menimbulkan kekacauan.
Sama halnya dengan beragama, umat tidak boleh terlalu ekstrem yang menimbulkan keresahan dan tidak juga bersikap acuh.
"Begitu juga dengan Islam yang berada di tengah-tengah dalam hal keyakinan dan hukum," katanya.
Sebagai umat yang meyakini bahwa setiap mahkluk adalah ciptaan Allah SWT, menurut Prof. Andi Faisal, maka sejatinya umat harus saling mengasihi antarsesama makhluk, tidak memandang perbedaan suku, ras dan agama.
Tidak boleh merasa paling benar, menghakimi atau mempersekusi orang yang berbeda keyakinan.
"Islam sangat terbuka, sangat moderat. Islam itu justru merangkul dan merangkum kepercayaan agama lain," ujarnya.
Maka dari itu, Prof. Andi Faisal mengingatkan agar madrasah Ramadan ini menjadi momentum peningkatan kualitas diri.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Gelar Sobat Aksi Ramadan, Bersihkan Ponpes di Demak dan Serahkan Bantuan
Tidak hanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, namun juga meningkatkan kualitas kesalehan sosial antarumat beragama.
Sehingga dalam perayaan Hari Raya Idulfitri dapat merayakannya dengan hati yang suci dan bersih.
"Setelah berpuasa selama sebulan, umat Islam akan kembali kepada kesucian. Oleh karena itu, jangan lagi menebar benci, hate speech terhadap sesama," pesan Prof. Andi Faisal.
Sosok yang juga menjadi UNESCO Chair in Communication and Sustainable Development (COSDEV) ini berharap, momentum Ramadan refleksi diri untuk saling memaafkan dan menghargai antarumat beragama.
"Ini adalah momentum yang sangat luar biasa untuk saling bersolidaritas dengan sesama manusia. Bukan hanya sesama umat Islam tapi juga kepada penganut-penganut agama lainnya," tandas Prof. Andi Faisal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









