Antisipasi Arus Mudik 2025: Pengamat Maritim Soroti Risiko Truk ODOL dan Penggunaan Mobil Listrik

AKURAT.CO Tradisi mudik Lebaran semakin membudaya di Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Setiap tahun, jumlah pemudik terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan mobilitas yang semakin tinggi.
Pada tahun 2024, jumlah pemudik diperkirakan mencapai 193,6 juta orang, dengan hampir 10 persen di antaranya memilih jalur laut untuk perjalanan mereka.
Lonjakan pemudik ini meningkat drastis sebesar 56,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pengamat Maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (IKAL SC), Marcellus Hakeng Jayawibawa, memprediksi tren peningkatan jumlah pemudik via jalur laut akan terus berlanjut pada 2025.
Namun, fenomena ini membawa tantangan kompleks, khususnya terkait keberadaan truk Over Dimension Over Loading (ODOL) dan kesiapan kapal ferry dalam menghadapi risiko tersebut.
Menurut dia, truk ODOL yang melebihi kapasitas muatan sering kali diangkut kapal ferry, sehingga berisiko merusak kapal dan membahayakan keselamatan penumpang.
Baca Juga: Tiga Nakhoda di Balik Strategi IPO PT Medela Potentia Tbk
Truk dengan dimensi dan beban yang tidak terukur dapat mengacaukan stabilitas kapal, yang merupakan elemen krusial agar kapal dapat mengapung dengan aman.
“Kapal ferry yang dirancang untuk mengangkut kendaraan dengan kapasitas tertentu bisa rusak jika membawa truk ODOL. Hal ini bisa berisiko fatal karena stabilitas kapal menjadi tak terukur dengan baik,” jelas Marcellus, Senin (17/3/2025).
Ia menambahkan, pemerintah telah memberlakukan kebijakan pelarangan truk ODOL pada 2023, namun implementasi dan penegakan hukumnya perlu diperketat, terutama di pelabuhan.
Bahkan, ia mengusulkan agar semua truk dilarang menggunakan kapal penyeberangan selama H-7 hingga H+7 Lebaran untuk mengutamakan keselamatan penumpang.
Selain masalah ODOL, Marcellus juga mengingatkan, keselamatan penumpang kapal ferry selama arus mudik Lebaran perlu mendapat perhatian khusus.
Menurutnya, banyak penumpang yang masih kurang sadar akan pentingnya prosedur keselamatan.
“Pengelola kapal harus memastikan setiap penumpang memahami cara menggunakan alat keselamatan seperti pelampung, dan memahami prosedur evakuasi darurat. Sosialisasi ini perlu dilakukan sesaat sebelum berangkat atau maksimal 24 jam setelah penumpang naik ke kapal,” tegasnya.
Ia juga menyarankan agar penumpang diberi pengertian tentang penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam situasi tertentu, serta pentingnya demonstrasi keselamatan sebelum kapal berangkat.
Mudik 2025 juga diwarnai oleh tren penggunaan mobil listrik. Namun, keterbatasan infrastruktur pengisian daya masih menjadi masalah besar bagi pemudik yang menggunakan kendaraan jenis ini.
“Jika stasiun pengisian daya tidak cukup tersebar di sepanjang jalur mudik atau pelabuhan, mobil listrik bisa terjebak kehabisan daya. Hal ini tidak hanya mengganggu perjalanan tetapi juga memperburuk kemacetan,” jelas Marcellus.
Ia mengusulkan agar kapal ferry di masa depan dilengkapi dengan fasilitas stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik guna mengatasi masalah tersebut.
Selain itu, awak kapal perlu dibekali pengetahuan mengenai penanganan mobil listrik, termasuk prosedur pemadaman jika terjadi kebakaran.
Menurut Marcellus, masalah lain yang perlu diatasi adalah kapasitas pelabuhan yang sering tidak mencukupi untuk menangani lonjakan penumpang dan kendaraan selama arus mudik.
Baca Juga: 20 Link Download Kartu Ucapan Idul Fitri 2025 Lengkap dengan Ucapan, Mudah Dibagikan!
Kemacetan yang terjadi di pelabuhan sering kali disebabkan oleh volume kendaraan yang berlebihan serta pengelolaan yang tidak efisien.
“Pelabuhan perlu memperbaiki fasilitasnya, seperti ruang tunggu yang lebih nyaman serta sistem tiket dan registrasi yang lebih efisien. Penggunaan teknologi digital untuk mengatur aliran penumpang dan kendaraan juga perlu diterapkan agar proses berjalan lebih cepat dan aman,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penerapan teknologi, seperti sistem tiket digital dan aplikasi jadwal kapal, dapat membantu mengurangi waktu tunggu dan menciptakan pengalaman mudik yang lebih baik.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Marcellus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengelola transportasi, dan masyarakat dalam menghadapi arus mudik Lebaran 2025.
Keselamatan penumpang dan kelancaran perjalanan hanya dapat dicapai jika seluruh pihak bekerja sama untuk mengatasi permasalahan yang ada.
“Upaya bersama ini diharapkan dapat menciptakan arus mudik yang lebih lancar, aman, dan efisien tanpa mengorbankan keselamatan serta kenyamanan para pemudik,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










