Akurat

Pengamalan Pancasila Sejalan dengan Semangat Ramadan

Mukodah | 5 Maret 2025, 21:14 WIB
Pengamalan Pancasila Sejalan dengan Semangat Ramadan

AKURAT.CO Dalam agama Islam, ibadah puasa di bulan Ramadan dilakukan sebagai salah satu bentuk penghambaan wajib terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Puasa mengajarkan pada umat Islam agar bisa merasakan kondisi orang lain yang kurang beruntung dengan menahan lapar dan dahaga.

Kedua hal tersebut setidaknya sesuai dengan sila pertama dan kedua dari Pancasila.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH Bukhori Sail At-Tahiri, menjelaskan bahwa sebenarnya banyak esensi dari syariat Islam yang termuat di dalam Pancasila.

"Dalam kaitannya dengan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, orang yang berpuasa melakukannya karena beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hubungan antara puasa Ramadan dan ibadah lainnya dengan Pancasila sangat erat karena tujuan akhir dari ibadah adalah membentuk pribadi yang saleh. Kesalehan ditunjukkan dengan menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya," jelasnya, melalui keterangan pers, Rabu (5/3/2025).

Baca Juga: Pemilihan Kepala Daerah Lewat DPRD Dinilai Selaras dengan Nilai Pancasila

Menurut Kiai Bukhori, jika seseorang terlihat baik dari penampilannya tetapi justru memberikan mudarat kepada masyarakat, maka dia bukanlah orang yang saleh, meskipun ibadahnya luar biasa.

Apabila seorang ahli ibadah dalam bermuamalah atau bergaul dengan masyarakat ia malah merugikan, mencelakakan atau bahkan membahayakan orang lain, itu bukanlah kesalehan sejati.

Kesalehan sejati artinya bermanfaat di segala waktu (shalih likulli zaman) dan di segala tempat (shalih likulli makan).

Ibadah puasa di bulan Ramadan juga mengajarkan kesalehan sosial, kepedulian kepada lingkungan dan masyarakat.

Ramadan bukan hanya tentang mementingkan diri sendiri dengan membeli barang-barang mewah untuk keperluan Lebaran.

Baca Juga: 6 Profil Pelajar Pancasila yang Dibentuk Melalui Proyek P5 dan Penjelasannya

"Ramadan mengajarkan kita untuk peduli kepada lingkungan sekitar dengan memberikan zakat dan sedekah. Hal ini berkaitan dengan sila kedua Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila kelima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," jelasnya.

Kiai Bukhori menyebutkan bahwa Ramadan adalah momen pemberian program syariat agar umat Islam menjadi orang yang saleh.

Saleh tidak hanya dalam konteks pribadi tetapi juga harus secara sosial.

Puasa adalah perintah wajib bagi setiap muslim, yang intinya adalah menahan diri.

Menahan diri berarti seseorang harus mampu mengendalikan dirinya dari hawa nafsu dan berbagai keinginan lain yang tidak bermanfaat.

Baca Juga: Kerja Sama BPIP dan KPID DIY Perkuat Penyiaran Berlandaskan Nilai-nilai Pancasila

Pada Ramadan tahun ini, Kiai Bukhori juga mengkritisi sebagian dari umat Islam yang cenderung keras dalam menjalankan ibadah, seolah belum sepenuhnya memahami hakikat dari ibadah itu sendiri.

Mereka ini adalah kelompok yang dengan mudahnya melempar klaim salah, sesat bahkan kafir pada kelompok lainnya, hingga melakukan makar dan menyerang aparat penegak hukum.

"Saya melihat orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang belajarnya belum sempurna dan terkesan masih egois. Ketika mereka belajar Islam, mereka merasa bahwa berjuang untuk Islam atau berjihad, berarti mereka harus menjadi yang paling jagoan. Harus membuat yang lain mengalah dan tidak ada yang boleh berbeda pendapat. Nah, ini adalah kesalahan dalam pemahaman yang belum sempurna," paparnya.

Kiai Bukhori berpendapat kalau melihat para ulama yang ilmunya sudah mumpuni, mereka bahkan seperti orang yang mahir dalam bela diri dengan tidak menunjukkan kesombongan.

Namun, orang yang baru belajar bela diri, masih satu atau dua jurus itu cenderung petantang petenteng untuk menunjukkan bahwa mereka telah belajar bela diri.

Baca Juga: BNPT Tegaskan Komitmen Jaga Pancasila, Dukung Arahan Presiden Prabowo Lawan Ideologi Kekerasan

"Kadang-kadang kita di masyarakat melihat orang ini baru belajar Islam tapi kemudian menyalahkan orang lain dengan mengatakan harus begini atau harus begitu, mencaci orang lain, merendahkan dan lain-lain. Padahal mereka belum tahu banyak," katanya.

Kiai Bukhori berharap agar umat Islam tidak mudah digiring dengan narasi bahwa Pancasila bukanlah bagian dari syariat Islam.

Justru harus dipahami bahwa esensi dari nilai syariat Islam yang melahirkan Pancasila, sehingga keduanya bisa saling menguatkan dan menjadi jati diri bangsa hingga saat ini.

"Antara Pancasila dan nilai-nilai keislaman itu saling mendukung dan memperkuat karena Pancasila sesungguhnya adalah saripati dari syariat Islam. Hal ini yang membuat keduanya tidak bertentangan. Oleh karenanya, bulan Ramadan adalah kondisi yang sangat mendukung bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa dan yang lainnya. Sekaligus melaksanakan pengamalan butir-butir Pancasila," pungkas Kiai Bukhori.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK