Akurat

Tagar #KaburAjaDulu Adalah Refleksi Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan Layak

Mukodah | 3 Maret 2025, 21:19 WIB
Tagar #KaburAjaDulu Adalah Refleksi Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan Layak

AKURAT.CO Anggota MPR RI dari Kelompok DPD, H. Al Hidayat Samsu, menilai bahwa tagar #KaburAjaDulu merupakan refleksi kekecewaan masyarakat terhadap sulitnya mendapatkan pekerjaan layak.

Serta ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang kondusif bagi anak bangsa.

"Fenomena ini tidak boleh dianggap sekadar tren di media sosial, tetapi harus dilihat sebagai alarm bagi negara untuk bertindak," katanya, di Jakarta, Senin (24/2/2025).

Menurut Al Hidayat, tagar #KaburAjaDulu menggambarkan dua hal.

Baca Juga: Tantowi Yahya Soal Tagar KaburAjaDulu: Kalau Kabur Karena Kecewa Malah Bahaya

Pertama, ketidakmampuan sistem dalam negeri untuk menciptakan peluang kerja yang berkualitas dan memberikan jaminan kesejahteraan bagi pekerja.

Kedua, meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap prospek karier di dalam negeri sehingga mendorong mereka mencari peluang di luar negeri.

Fenomena seperti itu bukan hanya terjadi di Indonesia.

Fenomena ini juga terjadi di Amerika Serikat pascakemenangan Donald Trump pada Pilpres 2024. Dan di negera-negara seperti Selandia Baru dan Portugal yang mengalami migrasi tenaga kerja akibat krisis ekonomi.

Baca Juga: MPR RI Harap Pemerintah Buat Ruang Diskusi Tanggapi Seruan Tagar KaburAjaDulu

"Namun, Indonesia memiliki permasalahan spesifik yang membuat banyak warga untuk meninggalkan Tanah Air, yaitu kurangnya penghargaan terhadap tenaga kerja profesional, birokrasi yang ketat. Serta lemahnya perlindungan pekerja, terutama bagi tenaga kerja migran yang berada di luar negeri," jelas Anggota Komite III DPD yang membidangi isu tenaga kerja.

Al Hidayat menyayangkan respons pejabat negara terhadap fenomena ini yang menunjukkan ketidakpekaan terhadap persoalan utama.

Dia menyebut, pernyataan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, yang mengatakan "Mau kabur, kabur ajalah, kalau perlu jangan balik" menunjukkan bahwa pemerintah tidak memahami keresahan generasi muda yang menghadapi kesulitan ekonomi, ketidakpastian kerja dan terbatasnya peluang di dalam negeri.

"Pemerintah seharusnya introspeksi dan segera merancang kebijakan yang lebih berpihak kepada tenaga kerja, baik di dalam maupun di luar negeri. Serta pekerja migran yang membutuhkan perlindungan lebih baik," ujarnya.

Baca Juga: Pahami Kegelisahan Anak Muda, Zulhas Sebut Seruan KaburAjaDulu Harus Disikapi dengan Bijak

Al Hidayat menambahkan, Indonesia yang berada dalam periode bonus demografi justru menghadapi ancaman brain drain akibat eksodus tenaga kerja terdidik dan profesional.

"Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), Indonesia hanya memiliki sekitar 13 juta tenaga ahli dari total jumlah pekerja yang ada. Dengan semakin banyaknya anak muda yang memilih bekerja di luar negeri, defisit tenaga ahli ini bisa semakin memburuk," jelasnya.

Karena itu, Al Hidayat menegaskan bahwa tagar #KaburAjaDulu adalah bentuk kritik yang harus ditanggapi serius.

Jika tidak segera berbenah, Indonesia akan kehilangan talenta-talenta terbaik dan pada akhirnya kita akan terus tertinggal.

Baca Juga: Ramai Tagar KaburAjaDulu, Kementerian Imipas Catat Kepergian Luar Negeri Masih Normal

"Pemerintah harus memahami bahwa keinginan masyarakat untuk mencari penghidupan yang lebih baik bukan berarti mereka tidak nasionalis, tetapi karena mereka merasa tidak mendapatkan kesempatan yang setara di Tanah Air. Oleh karena itu, sudah saatnya kita membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih baik, agar anak bangsa tidak merasa perlu untuk kabur demi masa depan yang lebih cerah," paparnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK