Akurat

Sejarah dan Profil PT Sritex: Perusahaan Tekstil Legendaris yang Dinyatakan Bangkrut

Kosim Rahman | 28 Februari 2025, 14:10 WIB
Sejarah dan Profil PT Sritex: Perusahaan Tekstil Legendaris yang Dinyatakan Bangkrut

AKURAT.CO Profil hingga sejarah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menjadi sorotan usai mengalami kebangkrutan akibat krisis keuangan yang berkepanjangan.

Perusahaan yang dikenal sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia ini harus menghadapi kenyataan pahit setelah bertahun-tahun berjuang melawan masalah keuangan, termasuk gagal bayar utang yang semakin membengkak.

Penutupan ini merupakan puncak dari krisis keuangan yang melanda perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (28/2/2025), penutupan ini ditandai dengan gagal bayar utang, gugatan hukum, dan status pailit yang dikeluarkan oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 21 Oktober 2024.

Baca Juga: Sritex Berharap Kembali Beroperasi, Kuasa Hukum Desak Proses Kepailitan yang Adil

Meskipun perusahaan ini memiliki sejarah panjang dan pernah meraih kesuksesan besar di pasar domestik maupun internasional, tantangan ekonomi yang semakin berat dan gugatan hukum yang terus berdatangan membuat Sritex tak mampu lagi bertahan.

Penutupan pabrik yang rencananya berlangsung mulai 1 Maret 2025 ini berimbas pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap seluruh karyawan yang sudah diberlakukan sejak akhir Februari 2025.

Profil PT Sritex

PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau lebih dikenal dengan nama Sritex, adalah perusahaan tekstil dan garmen terkemuka yang berlokasi di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Baca Juga: Sritex Tunjuk Kuasa Hukum Baru, Siap Ambil Langkah Hukum!

Mempekerjakan lebih dari 17 ribu orang, Sritex mengelola pabrik luas 70 hektar dan menjadi salah satu pemain utama di industri tekstil baik di tingkat nasional maupun internasional.

Perusahaan ini mengkhususkan diri dalam berbagai tahap produksi, mulai dari pemintalan, penenunan, pencetakan, pencelupan, hingga pembuatan garmen.

Dengan kendali penuh atas seluruh proses produksi, Sritex dapat mengelola produksi dari hulu ke hilir secara efisien.

Sritex telah meraih reputasi internasional, terutama sebagai pemasok seragam militer berkualitas tinggi untuk negara-negara NATO dan Jerman.

Sebagai perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 2013, Sritex semakin memperkuat posisinya di pasar global.

Baca Juga: Kasasi Sritex Ditolak, PKB Minta Nasib Pekerja Diprioritaskan

Sejarah PT Sritex dari Pendirian hingga Masa Jayanya

Sritex didirikan pada tahun 1966 oleh HM Lukminto dengan nama Usaha Dagang (UD) Sri Rejeki Isman di Pasar Klewer, Solo.

Perusahaan ini awalnya berfokus pada penjualan produk tekstil. Dua tahun kemudian, Sritex membuka pabrik cetak pertama di Solo, yang memproduksi kain putih dan berwarna.

Perkembangan pesat terjadi pada 1978 ketika Sritex resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas di Kementerian Perdagangan dengan nama PT Sri Rejeki Isman.

Pada 1982, Sritex mendirikan pabrik tenun pertama, meningkatkan kapasitas produksinya.

Pada 1992, perusahaan ini memperluas kapasitas dengan menambah empat lini produksi, mencakup pemintalan, penenunan, finishing, dan busana.

Baca Juga: PAN Minta Prabowo Atasi Masalah Pailit PT Sritex, Jangan Sampai Ada PHK

Dua tahun kemudian, Sritex mulai memproduksi seragam militer untuk NATO dan Jerman, yang menandai ekspansi global perusahaan.

Meski sempat menghadapi krisis moneter pada 1998 dan 2008, Sritex berhasil bertahan dan terus berkembang.

Pada 2013, perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SRIL, dan pada 2014, Iwan S Lukminto dianugerahi penghargaan Businessman of the Year oleh Forbes Indonesia.

Pada 2016, Sritex melantai di pasar obligasi global dengan menerbitkan obligasi senilai 350 juta dollar Amerika, yang menjadi bukti kepercayaan investor terhadap kinerja dan prospek masa depan perusahaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.