Warga Pesisir Dihantui Abrasi dan Rob, Menko AHY Bicara Kelanjutan Proyek Giant Sea Wall

AKURAT.CO Pembangunan Giant Sea Wall (GSW) yang bertujuan mencegah banjir rob dan abrasi dinilai tidak akan merugikan nelayan atau masyarakat menengah ke bawah yang hidup di wilayah pesisir.
"Proyek GSW justru untuk meningkatkan sejahteraan warga pesisir yang selama ini dibayang-bayangi ancaman banjir rob dan abrasi. Teman-teman nelayan, warga pesisir Jakarta, warga pesisir di luar Jakarta, ya seluruh pesisirlah nantinya yang masuk program ini malah semakin sejahtera," jelas Herzaky Mahendra Putra selaku Staf Khusus Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Jakarta, Selasa (18/2/2025).
Ia mengatakan, program pembangunan GSW merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Tujuannya yaitu untuk mencegah potensi banjir rob dan abrasi.
"Tak hanya itu, NCICD bisa menyelesaikan sejumlah tantangan seperti sanitasi dan penyediaan air bersih yang lebih baik. Serta menjamin konektivitas antarwilayah menjadi lebih baik. Intinya untuk pengembangan wilayah pesisir utara Pulau Jawa yang berkelanjutan," ujar Herzaky.
Terkait feasibility studies untuk program GWS ini sudah dilakukan pada 2020.
Baca Juga: Giant Sea Wall Mendesak Dibangun untuk Lindungi Warga Pesisir Pulau Jawa
Sudah hampir lima tahun dan perlu dilakukan cek ulang untuk memastikan apakah masih sesuai dengan kondisi terkini serta sejumlah ekspektasi terkait proyek tersebut.
Pada 4 November 2024, Menko AHY juga sempat meninjau pembangunan tanggul di Muara Baru, Jakarta Utara.
Tanggul tersebut dibangun sepanjang 2,3 kilometer dengan tinggi 4,8 meter di atas permukaan air laut.
Bertujuan untuk melindungi lebih dari 20.000 kepala keluarga (KK) serta area seluas 160 hingga 170 hektare dari ancaman banjir rob.
"Bayangkan jika tidak ada tanggul, keselamatan masyarakat benar-benar dalam ancaman," kata Menko AHY, kala itu.
Menko AHY menambahkan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Pekerjaan Umum dengan Pemprov Jakarta serta seluruh stakeholder terkait.
"Tidak ada satu entitas yang dapat mengatasi masalah banjir sendirian. Kita perlu bekerja bersama-sama," ujarnya.
Baca Juga: Tiga Calon Gubernur Jakarta Sepakat Lanjutkan Proyek Giant Sea Wall
Asal tahu saja, Muara Baru merupakan daerah yang sering mengalami penurunan tanah (land subsidence) kategori parah.
Setiap tahun, tanah turun di wilayah ini mencapai 10 centimeter atau amblas satu meter dalam 10 tahun.
Dukungan disampaikan Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Banten, Fadli Afriadi.
Proyek Giant Sea Wall perlu dikawal agar segera terwujud. Demi memajukan wilayah pesisir yang sering mengalami banjir rob dan abrasi. Tentu saja termasuk wilayah pesisir Tangerang.
"Ya pasti kita mendukung. Kita akan mengawal agar benar-benar bermanfaat untuk masyarakat, bukan malah merugikan. Dan harus sesuai prosedur," ungkap Fadli.
Dengan terbangunnya Giant Sea Wall, diharapkan tidak ada lagi banjir rob dan abrasi yang selama ini dikhawatirkan warga pesisir.
Baca Juga: Giant Sea Wall, Tembok Penghalang Laut Yang Cegah Jakarta Tenggelam
Sehingga nelayan dan petambak ikan yang tinggal di pesisir bisa meningkatkan pendapatannya.
"Kalau ada Giant Sea Wall nanti, jangan ada lagi banjir rob atau abrasi. Sehingga masyarakat tidak terganggu dalam mencari nafkah. Jangan pula mengganggu kapal-kapal," ujar Fadli.
Jika mencermati berbagai data abrasi di pesisir utara Pulau Jawa, hasilnya sangat memprihatinkan.
Misalnya, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2015 menyebut 400 kilometer garis pantai di Indonesia menghilang gara-gara abrasi.
Alhasil, total panjang garis pantai yang 745 kilometer itu menghilang 44 persen. Termasuk di pesisir Tangerang, seluas 579 hektare lahan raib sepanjang 1995-2015.
Berdasarkan jurnal Departemen Geografi Universitas Indonesia (UI) bertajuk "Monitoring Perubahan Garis Pantai untuk Evaluasi Rencana Tata Ruang dan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Tangerang" menunjukkan hampir seluruh desa di pesisir Kabupaten Tangerang mengalami abrasi ataupun akresi besar-besaran dalam 10 tahun terakhir.
Baca Juga: Sejumlah Lokasi di Jakarta Utara Masih Terdampak Banjir Rob
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa laju abrasi pantai mengalami kenaikan cukup signifikan hingga 200 sampai 500 meter dalam 10 tahun terakhir.
"Terlihat daerah-daerah yang mangrove-nya tidak terjaga, sangat riskan tergerus (abrasi) dalam luasan yang cukup signifikan," ujarnya.
Pergeseran ini, tentu saja, membuat masyarakat waswas.
Apalagi, BMKG sempat mengeluarkan pengumuman potensi bencana banjir rob di pesisir Pantai Utara Pulau Jawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








