Teori Denny JA: Perspektif Baru dalam Sosiologi Agama

AKURAT.CO Revolusi Artificial Intelligence (AI) mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara manusia memahami dan menjalankan keyakinan agama.
AI mempercepat akses terhadap informasi keagamaan dan menggeser otoritas tradisional dalam tafsir agama.
Dalam 10-20 tahun ke depan, apakah peran pemuka agama akan semakin tergantikan oleh AI? Apakah agama akan menjadi lebih individualistis atau tetap mempertahankan komunitasnya?
Dalam konteks ini, Denny JA memperkenalkan teori baru yang menghubungkan sosiologi agama klasik dengan revolusi AI, sebuah perspektif yang oleh Budhy Munawar-Rahman disebut sebagai Teori Denny JA tentang Agama dan Spiritualitas di Era AI.
Kini, teori ini mulai diajarkan di berbagai kampus negeri dan swasta di Indonesia, baik sebagai mata kuliah mandiri maupun bagian dari kurikulum sosiologi agama dan filsafat.
Denny JA memperluas kajian para pemikir besar seperti Edward Burnett Tylor, Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber dengan menambahkan dimensi baru: bagaimana AI memengaruhi akses, interpretasi, dan peran sosial agama di era digital.
Baca Juga: Penelitian Tiga Kampus Ternama: Air Minum Galon Polikarbonat Aman, Isu BPA Hanya Hoaks
Menurut Anick HT, Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), teori ini tidak menggantikan sosiologi agama klasik, tetapi justru melengkapinya.
“Agama selalu bersifat dinamis. Dengan AI, kita menyaksikan perubahan besar dalam akses informasi, interpretasi teks suci, dan peran sosial agama,” ujar Anick.
Data mendukung perubahan ini. Sebuah survei yang dilakukan dosen UIN Bandung pada 2020 menemukan, 58 persen generasi milenial lebih memilih belajar agama melalui media sosial seperti Instagram dan YouTube dibandingkan menghadiri pengajian langsung.
Dulu, pemahaman agama dikendalikan oleh pemuka agama dan institusi keagamaan melalui sistem hierarkis.
Kini, AI memungkinkan siapa saja untuk mengakses ribuan tafsir hanya dalam hitungan detik, menerjemahkan teks ke berbagai bahasa, serta membandingkan konteks sejarah dan sosial suatu agama.
“Pemuka agama tetap memiliki peran dalam membimbing komunitas, tetapi bukan lagi satu-satunya sumber rujukan,” tambah Anick.
Namun, terbukanya akses ini juga menghadirkan tantangan besar:
1. Bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dalam konteks keagamaan?
2. Bagaimana memastikan keterbukaan informasi tidak berujung pada disinformasi atau penyederhanaan pemahaman agama?
Denny JA juga menyoroti agama sebagai tradisi kultural yang terus berkembang.
“Natal kini dirayakan bukan hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga sebagai festival budaya global. Yoga, yang berasal dari tradisi Hindu, telah menjadi bagian dari gaya hidup modern di berbagai belahan dunia,” jelas Anick, Minggu (16/2/2025).
Dalam konteks ini, AI membuka peluang eksplorasi lintas budaya dan refleksi terhadap nilai-nilai agama. Namun, pertanyaan kritis muncul:
- Apakah keterbukaan ini memperkaya pemahaman agama atau justru membuatnya lebih individualistik?
- Apakah AI mampu menjaga substansi spiritualitas manusia, atau hanya mengubahnya menjadi sekadar konsumsi informasi digital?
Baca Juga: Ketahanan Pangan Terjaga, Kementan Optimistis Stok Beras Tahun Ini Aman
Transformasi agama akibat AI sudah terjadi saat ini, dengan berbagai contoh konkret:
- Chatbot AI untuk tafsir agama: Di Arab Saudi, AI mulai digunakan untuk menjawab pertanyaan seputar Islam berdasarkan kitab-kitab klasik.
- AI dalam penerjemahan kitab suci: Teknologi ini memungkinkan akses lebih luas ke teks keagamaan dalam berbagai bahasa.
- Asisten AI untuk ritual keagamaan: Di Jepang, beberapa kuil Buddha menggunakan robot untuk membacakan doa bagi para jamaah.
- AI dalam analisis tren keagamaan: Algoritma AI mulai digunakan untuk memprediksi pola perubahan keyakinan dan praktik spiritual di berbagai belahan dunia.
Teori Denny JA melengkapi sosiologi agama klasik dengan perspektif baru tentang peran teknologi dalam spiritualitas.
Meskipun AI mengubah otoritas keagamaan, teknologi ini tidak akan menggantikan esensi pengalaman spiritual.
Agama akan terus bertahan, beradaptasi, dan menemukan cara baru untuk memberikan makna bagi kehidupan manusia.
“AI mengubah posisi pemuka agama, tetapi tidak menggantikan pengalaman spiritual. Agama akan terus berkembang seiring zaman,” tutup Anick.
Baca Juga: Juara di Qatar Terbuka, Amanda Anisimova Raih Gelar WTA 1000 Pertama dalam Kariernya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










