Pemerintah Upayakan Wilayah Ramah Perempuan dan Anak Dimulai dari Kelurahan

AKURAT.CO Pemerintah terus berupaya untuk mencapai Indonesia Emas 2045 mendatang, salah satunya dengan memberdayakan perempuan dan melindungi anak yang dimulai dari desa/kelurahan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengatakan melalui Ruang Bersama Indonesia, pemerintah pusat ingin memperkuat komitmen kementerian atau lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, media, lembaga swadaya masyarakat, lembaga keagamaan, serta lembaga profesi menjadi lebih terencana, menyeluruh dan berkelanjutan.
Untuk itu, Arifah mengunjungi Kelurahan Petompon di Kota Semarang, yang telah masuk dalam kategori Kelurahan Ramah Perempuan dan Anak (KRPPA). Menurutnya, sinergitas berbagai pihak bagi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kelurahan Petompon menjadi modal kuat untuk pengembangan Ruang Bersama Indonesia (RBI).
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis: Dorong Generasi Sehat dan Libatkan UMKM Perempuan
"Saya mengapresiasi upaya perangkat kelurahan dan motivasi kuat setiap warga, khususnya para perempuan di Kelurahan Petompon sehingga setiap program yang ditujukan untuk memberdayakan perempuan dapat terwujud. Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) dan Urban Farming yang dikelola dengan baik menunjukkan bahwa perempuan memiliki keahlian untuk mandiri finansial. Sejalan dengan itu, upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak juga berjalan dengan baik," jelasnya dalam keterangan, Selasa (28/1/2025).
Dia berharap, keberhasilan Kelurahan Petompon dapat memotivasi daerah lainnya untuk mengimplementasikan program serupa guna menciptakan lingkungan yang lebih aman, memberdayakan, dan mendukung tumbuh kembang anak-anak di seluruh Indonesia.
Sementara itu, Walikota Semarang, Hevearita Gurnayanti Rahayu mengatakan, Kota Semarang memiliki sejumlah program peduli perempuan dan anak, dengan Petompon dan Tanjung Mas sebagai pelopor KRPPA.
Salah satu program unggulan di Petompon adalah, pemberdayaan perempuan melalui UMKM dan urban farming, yang bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan.
"Kota Semarang juga melakukan inovasi Rumah Duta Revolusi Mental yang fokus pada pencegahan bullying dan kekerasan terhadap perempuan, dipimpin oleh psikolog. Di tahun 2024, program ini telah berhasil menanggulangi sekitar 10.000 kasus kekerasan," kata dia.
Relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak) Sri Wahyuni di Tanjung Mas juga berbagi pengalamannya dalam mendampingi anak-anak yang menikah di usia anak.
Baca Juga: PNM Mekaar Tingkatkan Kehidupan Perempuan Desa Keluar dari Kemiskinan Ekstrem
Menurutnya, pelatihan untuk perempuan kepala keluarga (PEKA) juga telah dilakukan untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan, melalui program Kelompok Wanita Tani (KWT) yang memanfaatkan sampah organik untuk budidaya ternak lele. Serta mendukung anak putus sekolah dapat melanjutkan pendidikan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Dalam kunjungan ini, Menteri PPPA juga melakukan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat. Ika, fasilitator KRPPA, menyampaikan bahwa Kota Semarang merupakan satu-satunya kota yang mengajukan diri sebagai pilot project KRPPA.
Dalam program ini, banyak kegiatan difasilitasi, seperti pemberdayaan UMKM, pelatihan literasi keuangan, serta sosialisasi tentang KDRT yang dilakukan hingga tingkat RT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









