Menguatkan Sinergi Ormas dan Pemerintah untuk Hadapi Tantangan Keberagaman di Indonesia

AKURAT.CO Indonesia sebagai negara dengan keberagaman etnis, budaya dan agama memiliki tantangan besar dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Salah satu tantangan tersebut adalah berkembangnya paham sektarian yang bisa memecah belah masyarakat.
Paham sektarian sering kali muncul akibat sifat keegoan dan ketidaktoleranan terhadap perbedaan, yang dapat berujung pada konflik dan kekerasan.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat atau ormas sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial dan mengedepankan nilai-nilai keberagaman serta toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Hamim Ilyas, menyoroti konflik yang terjadi antarorganisasi masyarakat yang kerap muncul belakangan ini.
Baca Juga: Sekolah Damai Tanamkan Nilai-nilai Perdamaian, Toleransi dan keberagaman kepada Siswa
Menurutnya, organisasi masyarakat maupun organisasi keagamaan harus memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas. Sehingga memiliki kaderisasi dan pembinaan di dalam internal anggotanya.
"Organisasi yang benar untuk mencapai tujuan itu ada pengkaderan, ada pembinaan anggota. Itu dilakukannya sehingga organisasi itu terus berlanjut," ujarnya, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (24/1/2025).
Selain itu, menurut Hamim, penting bagi pemerintah untuk mengedukasi organisasi keagamaan tentang moderasi beragama dalam mendukung hidup berdampingan dalam kebhinekaan, terutama membangun sumber daya manusia yang moderat dan inklusif.
Contohnya dengan mempelajari agama secara komprehensif dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga perbedaan (khilafiyah) tidak dipandang sebagai konflik melainkan sebagai rahmat.
"Karena biasanya pemimpin-pemimpin ormasnya itu belajarnya hanya agama saja, ketika belajar agama, tidak paham kehidupan sekarang," ungkap dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga itu.
Baca Juga: Ridwan Kamil Janji Jaga Toleransi dan Keberagaman jika Terpilih jadi Gubernur Jakarta
"Sebetulnya enggak bisa Al-Qur'an dan hadis dipahami secara tekstual. Seharusnya dipahami secara utuh, harus dipahami tujuan risalah Islam itu apa," tambah Hamim.
Ia menyebut bahwa boleh saja meyakini suatu hal adalah kebenaran, namun jangan menganggap suatu hal itu adalah kebenaran mutlak karena setiap orang memiliki pembenaran dalam versinya.
Sikap merasa paling benar inilah yang mudah menyebabkan konflik antarumat beragama.
"Ketika yang dipelajari masa lalu dan sekarang tidak relevan namun masih diyakini sebagai kebenaran mutlak, itu mungkin yang terjadi. Mudah untuk membidahkan, mengafirkan," ucap penulis kitab Fikih Akbar: Prinsip-Prinsip Teologis Islam Rahmatan Lil'alamin tersebut.
Dengan adanya pembinaan, sejatinya organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan tidak hanya berperan sebagai wadah untuk kelompoknya saja, namun juga bisa berkembang untuk bisa bermanfaat antarsesama, tidak terjebak dalam perdebatan yang mengakibatkan konflik.
Baca Juga: Esensi Maulid Nabi, Teladan dalam Keberagaman Indonesia
Misalnya, dengan menyukseskan program pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa melalui pengkaderan anggota yang antikorupsi dan memiliki kompetensi di bidangnya.
"Kalau misalnya itu potensinya itu di bidang kesehatan terjun di bidang kesehatan, kalau kemudian potensinya itu di bidang sosial kemunusiaan, ya terjun di bidang itu," kata Hamim.
Ia pun berharap dengan wawasan kebangsaan yang kuat dan pemahaman moderasi beragama luas, kolaborasi pemerintah dengan organisasi masyarakat mampu mewujudkan masyarakat Indonesia yang beradab, aman dan damai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









