Akurat

Refleksi 2025, Menihilkan Serangan Terorisme untuk Menjaga Indonesia yang Harmoni

Mukodah | 8 Januari 2025, 22:35 WIB
Refleksi 2025, Menihilkan Serangan Terorisme untuk Menjaga Indonesia yang Harmoni

AKURAT.CO Indonesia selama dua tahun terakhir meraih catatan baik dengan tidak adanya aksi terorisme atau zero terrorist attack.

Catatan ini harus dijadikan pedoman bagi seluruh pihak agar di tahun 2025 Indonesia kembali bersih dari aksi-aksi kekerasan.

Itu menjadi tantangan besar, apalagi di awal tahun ini, kelompok-kelompok anti-Pancasila seperti biasa menyebarkan narasi-narasi terorisme yang mangancam persatuan dan perdamaian bangsa.

Sekretaris Umum pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, menjelaskan, masyarakat wajib bersyukur atas menurunnya tindak kejahatan terorisme.

Baca Juga: Rekontekstualisasi Semangat Jihad untuk Mengakhiri Gerakan Radikalisme dan Terorisme

Namun, dengan kondisi itu, pencegahan radikal terorisme tidak boleh kendor dan lengah.

Tapi sinergi dan koordinasi harus terus ditingkatkan agar tahun 2025 kembali zero terrorist attack.

"Memasuki tahun 2025 juga menjadi suatu capaian bahwa telah dua tahun berselang Indonesia mengalami nol serangan teroris atau yang juga biasa disebut sebagai zero terrorist attack. Hal ini dapat dianggap sebagai prestasi tersendiri bahwa sentimen negatif terhadap perbedaan SARA semakin menurun," katanya, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (8/1/2025).

Menurut Prof. Bakry, semakin terbukanya pemahaman agama yang inklusif dan toleran menjadi faktor pendukung menurunnya kejadian tindakan kejahatan atas nama agama.

Baca Juga: Jamaah Islamiyah Bubar, Pemerintah Diminta Tetap Waspada atas Aksi Terorisme

Zero terrorist attack juga mampu menjadi indikator yang baik atas capaian kerja pemerintah melalui berbagai instansinya dalam menjembatani bahkan mempertemukan berbagai kelompok dan golongan yang berbeda.

"Saya kira, upaya pemerintah untuk menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang masih tersisa pada bangsa Indonesia adalah hal yang sangat baik dan konstruktif bagi penguatan kemajemukan dan heterogenitas bangsa kita. Jadi, momen tahun baru itu juga bisa menjadi refleksi yang kita lakukan untuk penguatan kebhinekaan. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia karena kita mampu menjadikan perbedaan itu sebagai kekuatan dan kekayaan," Guru Besar UIN Alauddin Makassar tersebut memaparkan.

Prof. Bakry berharap agar jangan ada lagi perbedaan dengan latar belakang bermacam-macam, termasuk agama, kemudian menjadi alasan dan pembenaran untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan serta teror, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang sangat dihargai oleh bangsa Indonesia.

Baca Juga: Kampus Kebangsaan Upaya BNPT Perkuat Public Resilience dari Paham Radikal Terorisme

Terkait interaksi masyarakat secara luas pada perayaan-perayaan besar seperti malam tahun baru, ia mengatakan bahwa seremoni haruslah dilihat secara tepat.

Hanya karena tidak sesuai dengan keinginan sebagian pihak, tidak lantas menjadikan suatu perayaan dilarang atau bahkan dikatakan sebagai pendangkalan akidah.

"Menurut saya, kita harus melihat dulu secara proporsional kegiatan perayaan tahun baru itu. Kalau perayaan tahun baru itu ada kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama, kalau kita bicara Islam, berarti nilai-nilai ajaran Islam, bisa dikatakan kegiatan itu mengarah kepada kegiatan yang dimakruhkan atau diharamkan. Dengan kata lain, melakukannya menjadi hal yang dilarang," ujarnya.

"Tapi kalau kegiatan itu justru sebenarnya menghadirkan suasana hati kita menjadi merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta, dengan menjadikan momen pergantian tahun itu sebagai momentum untuk muhasabah, zikir, mengenang, mengingat dan introspeksi apa yang pernah kita lakukan, lalu kemudian kita proyeksikan untuk tahun berikutnya agar menjadi pribadi yang lebih baik, maka tentu itu (perayaan tahun baru) nafasnya sesuai dengan ajaran Islam," jelas Prof. Bakry menambahkan.

Baca Juga: BNPT Tekankan Pentingnya Multilateralisme Melalui Kerja Sama Internasional dalam Penanggulangan Terorisme

Menurutnya, Al-Qur'an sendiri dalam surat Al-Furqan menjelaskan bahwa Allah SWT yang menciptakan siang dan malam yang silih berganti dan terus berlanjut seperti itu agar manusia bisa menjadikannya sebagai peringatan dan momen kesyukuran.

Artinya, dalam memahami agama secara proporsional, Tuhan telah memerintahkan manusia supaya momentum pergantian waktu, dalam hal ini tahun baru, agar tidak dilewatkan begitu saja.

Tuhan menginginkan para hambanya untuk menjadikan tahun yang baru sebagai waktu memanjatkan ungkapan kesyukuran dan melakukan introspeksi atas perbuatan di masa lalu, dan bertekad untuk memperbaiki diri di masa yang akan datang.

Prof. Bakry berharap agar Indonesia bisa selalu konsisten menjaga kerukunan antargolongan, sehingga kembali mampu mempertahankan nihilnya serangan teroris yang didasarkan atas nama agama.

Baca Juga: Hari Santri Nasional Momentum bagi Santri Proaktif Lawan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

Ia pun menyerukan rakyat Indonesia kembali memahami agamanya dengan benar, agar keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa terus terjaga.

"Saya kira kita harus kembali kepada ajaran agama yang benar. Ajaran agama kita itu mengajarkan kita untuk menjaga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), menjaga ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Kalau kita lebih kembangkan lagi menjadi ukhuwah imaniyah, yang dimaknai bahwa semua anak bangsa yang beriman itu tetap saudara kita," pungkas Prof. Bakry.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK