Akurat

Suhu Panas di Indonesia Belakangan Ini, Simak Penjelasan BMKG

Yohanes Antonius | 30 Oktober 2024, 11:58 WIB
Suhu Panas di Indonesia Belakangan Ini, Simak Penjelasan BMKG

AKURAT.CO Indonesia dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan suhu yang signifikan, membuat kita merasa gerah dan tidak nyaman.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan analisis untuk mengungkap penyebab di balik fenomena cuaca ekstrem ini.

BMKG telah memberikan peringatan kepada masyarakat akan adanya gelombang panas yang sangat tinggi.

Di mana, suhu diperkirakan bisa mencapai 37 hingga 38,4 derajat Celsius di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan, seperti dehidrasi, heatstroke dan kebakaran hutan.

"Panas yang terjadi hanya siklus panas terik setiap hari, karena ada pergerakan semu Matahari. Saat ini di bulan Oktober Matahari posisi ada di 8 atau 9 derajat Lintang Selatan," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (30/10/2024).

Baca Juga: Ini Penyebab Anggur Muscat Mahal dan Cara Membelinya

Kepala Pusat Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan, kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Jawa dan Nusa Tenggara, didominasi oleh cuaca cerah dengan pertumbuhan awan yang sangat minim, terutama pada siang hari sepanjang bulan Oktober.

"Kondisi ini tentunya menyebabkan penyinaran Matahari pada siang hari ke permukaan Bumi tidak mengalami hambatan signifikan oleh awan di atmosfer, sehingga suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik," ujarnya.

BMKG menjelaskan bahwa cuaca panas di siang hari dan hujan di sore hari adalah ciri khas peralihan musim.

Untuk mengatasi dampaknya, BMKG menyarankan masyarakat untuk selalu membawa dan minum air putih yang cukup. (Maulida Sahla Sabila)

Baca Juga: Jordi Onsu Merasa Lebih Tenang Saat Ikut Kajian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
W
Editor
Wahyu SK