Akurat Logo

Kedaulatan Islam Tak Diukur dari Sistem Politik Tapi Bagaimana Umat Jalankan Ajaran Agama dengan Hikmah

Mukodah | 17 Oktober 2024, 09:50 WIB
Kedaulatan Islam Tak Diukur dari Sistem Politik Tapi Bagaimana Umat Jalankan Ajaran Agama dengan Hikmah

AKURAT.CO Sebagian orang meyakini bahwa kedaulatan Islam bisa dicapai jika bingkai perpolitikan yang digunakan berdasarkan syariat Islam.

Padahal, kedaulatan Islam sejati tidak diukur dari sistem politik tertentu, tetapi dari bagaimana umat muslim dapat menjalankan ajaran agama dengan hikmah, memahami budaya lokal dan memberikan kontribusi nyata di masyarakat.

Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, menggarisbawahi pentingnya memahami Islam secara tepat.

Umat Islam harus memahami tradisi dan nilai-nilai lokalitas atau budaya Indonesia, sehingga bisa membedakan mana hal yang relevan atau tidak, sesuai dengan ajaran Islam.

"Sebaliknya, kita harus mempelajari ajaran-ajaran Islam itu sesuai ilmunya. Kalau tidak sesuai ilmunya, maka akan terjebak pada formalisasi simbol-simbol keagamaan tanpa memahami substansi sebenarnya," ujarnya, melalui keterangan yang diterima, Kamis (17/10/2024).

Zastrouw mengatakan, mudahnya Islam masuk ke Nusantara adalah karena ulama-ulama yang menyebarkan Islam kala itu, mampu memahami ajaran agama sesuai dengan visi, misi dan substansinya.

Baca Juga: Profil dan Jejak Karir Liam Payne, Eks Personil One Direction yang Tewas Usai Jatuh dari Balkon Hotel

Sehingga ketika diterapkan di sini dia tidak bertabrakan dengan kultur-kultur yang ada di Tanah Air.

Ia juga menyoroti fenomena euforia budaya atau tampilan kearab-araban yang beberapa tahun belakangan ini makin marak.

Menurut Zastrouw, hal ini justru bersumber pada kedangkalan pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri.

Penggunaan atribut, istilah, ataupun simbol lainnya yang serba Arab, bukan berarti seseorang menjadi semakin Islami.

"Fenomena seperti ini sebenarnya mencerminkan kedangkalan dalam memahami ajaran-ajaran Islam yang kemudian diekspresikan dengan laku budaya yang Arab sentris," katanya.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Jejaring Dunia Santri ini menjelaskan, umat Islam sudah seharusnya memiliki kemampuan rekonstruksi terhadap tafsir ajaran Islam, sehingga mampu diamalkan di Indonesia tanpa bertabrakan dengan kultur setempat.

Orang yang gagal mengikuti ini, ditandai dengan latah dan ikut-ikutan budaya lain adalah mereka yang tidak memiliki imunitas ideologi dan kultural.

Maka dari itu, jika seseorang memahami tradisi lokal dan substansi syariat Islam secara mendalam, akan sampai pada kesimpulan bahwa akar budaya Nusantara itu banyak kesesuaian dengan nilai dan semangat yang ada pada ajaran Islam.

Sebagai umat beragama yang tinggal di Indonesia, Zastrouw mengerti pentingnya penempatan ajaran Islam dan budaya Nusantara sesuai dengan tempatnya.

Di dalam diri masyarakat Indonesia jangan sampai ada perasaan lebih rendah dari bangsa lainnya, atau yang sering disebut sebagai inferiority complex, termasuk dalam beragama.

Baca Juga: KY Harap Sunarto Bisa Wujudkan Lembaga Peradilan yang Bersih

"Menurut saya, kiai-kiai di Indonesia justru lebih Islami dan mahir dalam memahami Islam, meskipun dia hanya pakai sarung, kopiah atau pakaian kesehariannya. Melalui pemahaman keagamaan yang tepat dan related dengan tradisi-tradisi yang kita miliki, Islam malah lebih mudah diamalkan dan dipahami oleh seluruh suku dan bangsa di Nusantara," jelasnya.

Lebih jauh dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta ini mengungkapkan bahwa perpolitikan hanya salah satu cara menghadirkan Islam.

Justru kejayaan dunia Islam itu dikenal bukan dari sistem politik atau kenegaraannya, melainkan dari perkembangan sains dan teknologi hasil temuan para ulama di zaman dulu.

"Kita ingat ketika umat Islam seperti Al-Khawarizmi, Ar-Razi, Ibnu Batuta, Al Idrisi, dan lain sebagainya mampu menemukan teknologi, mulai teknologi optik, teknologi kimia, teknologi ilmu sains matematika. Di situ Islam berkembang melalui pengetahuan dan peradaban, hingga didirikannya Baitul Hikmah sebagai pusat literatur di masa dinasti Abbasiyah," terang Zastrouw.

Kejayaan Islam di masanya yang relatif lama, tidak bisa dilihat hanya dari aspek politik semata, apalagi politik praktis.

Kebesaran Islam yang berusaha dikurung dalam wadah politik praktis hanya akan menimbulkan kekecewaan di banyak pihak.

Mulai dari fitnah, caci-maki, hingga kebusukan intrik politik praktis tidak serta-merta hilang hanya dengan memasukkan syariat Islam ke dalam sistem politik.

Sejarah akan kejayaan Islam yang banyak berasal dari pengembangan sains membuat Zastrouw berkesimpulan bahwa untuk mewujudkannya kembali, umat Islam harus peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK